
"Tidak, kita lihat satu bulan dari sekarang anak saya hamil atau tidak. Kalau positif saya pastikan anda tidak bisa lari kemana pun, tapi sebalik nya jika negative saya akan membawa jauh pergi putri saya dari hadapan kalian. Cukup pergi dari sini sekarang, dan anggap saja tidak pernah terjadi apapun diantar anak anda dan anak saya." Lagi - Riza memotong orang bicara , tapi kali ini ucapan Genta yang ia potong membuat orang yang berada disitu terdiam menatap Riza tak percaya. Membawa pergi jauh anaknya hanya untuk menolak pertanggung jawaban Genta, laki-laki yang bisa dibilang sudah mengambil masa depan putrinya - Lesta Sei Milanda.
"Tidak pa, saya akan pastikan anak saya bertanggung jawab dan menikahi putri anda dalam waktu dekat" Rehan tidak mau kalah atas keputusan Riza.
"Tidak perlu, saya dan istri saya masih bisa mengurus Lesta. Lagian, putra anda kerja apa? Terlihat lebih muda dari putri saya, mau dikasih makan apa putri saya nanti? Kecuali jika yang melakukan hal itu anak anda yang duduk ditengah, mungkin saya akan coba memikirkannya." tolak Riza dan menunjuk Arfand yang menatapnya gila. Adiknya yang berbuat mengapa ia yang ditunjuk untuk bertanggung jawab.
"Anak saya penerus salah satu hotel saya, dan dia bisa mulai mengelola nya saat sudah menikah nanti jadi tidak usah khawatir bila anak anda akan kesusahan dalam ekonomi, perihal anak saya yang anda tunjuk itu anak sulung saya dia ikut hanya untuk mengantar bukan mengambil alih pertanggung jawaban adiknya." Jawab Rehan mencoba sabar.
"Tcih. Bagaimana dengan cinta? Tanpa cinta anak saya tidak akan bahagia"
"Kami bisa memberikan kasih sayang dan cinta yang sama besarnya dengan yang kalian beri"
"Bagaimana dengan perasaan anak anda? Saya tidak mau putri saya menderita hanya karna menikahi pria yang tidak mencintainya" Ucap Riza mendelik tajam pada Genta.
"Cinta? Saya tidak terlalu percaya dengan cinta, tapi saya akan mencoba untuk bertanggung jawab dan melindungi anak anda" ucap Genta setelah kian lama berdiam mendengarkan pembicaraan kedua kepala keluarga itu.
"Bagaimana bisa tidak percaya cinta? Saya menolak pertanggung jawaban mu anak muda!"
"Bukan anda yang menentukan, tapi putri anda. Memilih terima atau menolak pertanggung jawaban saya"
"Tapi saya papahnya berhak mengatur dan memilih apa yang baik untuk dia" ucap Riza geram mendengar perkataan Genta.
"Tapi dia yang menentukannya sendiri, bagaimana nasib dia kedepannya, jalan apa yang ia pilih untuk masa depannya. Semuanya, dia yang berhak menentuka bukan anda"
"Anak kurang aj--" Riza hendak berdiri berniat menghajar Genta ,hingga sebuah tangan menahannya.
"Paahh" ujar Lesta lirih.
"Diem Lesta Sei, biar papah beri pelajaran anak kurang ajar itu"
"Paahh Lesta mohon jangan melakukan kekerasan"
"LESTA SEI MILANDA! Laki laki itu sudah tidak punya otak, papah harus menghabisinya sekarang juga!" Teriak Riza pada Lesta yang menatapnya dengan tatapan sendu.
"Paahhh" lirih Lesta.
"Naakk" panggil Adhisti tak kuat melihat anaknya.
"Mah, biar Lesta yang nentuin jalan hidup Lesta."
"Jadi kamu lebih milih mereka, hm? JAWAB PAPAH LESTA."
"P-pah"
"Jadi benar kamu lebih memilih laki-laki yang menghancurkan masa depan mu dibanding orang tua mu yang sudah membesarkan mu ini, IYA? papah kecewa sama kamu papah kecewa!"
"Engga gitu maksud Lesta pah--"
"PERGI. PERGI SEKARANG JUGA DARI RUMAH SAYA!!" Riza berteriak kencang menaikan beberapa oktaf nada bicaranya.
"Papah--"
"Bawa semua barang barang kamu dan jangan tunjukan muka mu lagi dihadapan saya dan istri saya!-
BI , BIII MAAAARRRRR"
"Iya tuan?" Ucap bi mar takut melihat keadaan ruang keluarga yang begitu panas.
"Bereskan semua barang barang milik anak ini sekarang juga, dan berikan kepada nya jangan sampai ada yang tertinggal" Riza menunjukan Lesta yang sudah menangis dipelukan Adhisti - mamahnya yang selanjutnya menunjukan Rehan yang menatapnya tajam.
"Siap tuan"
Bi mar menganggukan kepalanya paham dan berlalu ke kamar Lesta untuk membereskan barang-barang milik nona muda nya itu.
Jengah dengan situasi panas itu, Genta berdiri dari duduknya, berjalan menarik tangan Lesta dan berjalan santai keluar rumah tanpa peduli tatapan tajam dan panggilan orang-orang diruangan itu. Membukakan pintu mobil, mendudukannya dikursi penumpang tak lupa memasangkan sabuk pengaman. Berjalan memutari mobil duduk dikursi kemudi , mulai menjalankan mobil keluar dari pekarangan rumah. Ia sangat-sangat jengah dengan situasi diruangan tadi. Yang ia butuhkan saat ini hanya ketenangan untuk berfikir memikirkan jalan keluar dari masalah yang baru ia perbuat.
***
30 menit perjalanan mereka sampai di perkebunan teh yang asri dan sejuk meski matahari sudah bertengger diatas kepala.
"Lo, ga mau turun?" Tanya Genta pada Lesta yang masih diam terduduk entah apa yang sedang difikirkannya.
"Kenapa kita kesini?" Bukan menjawab Lesta malah balik bertanya setelah beberapa menit tersadar dari lamunannya.
"Terus lo mau kemana? KUA?"
"Engga gitu, tapi ngapain kita ke perkebunan teh?" Ucap Lesta heran sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Ngedinginin kepala, iyeu sirah siga nu dek ngabeledug jangar" jawab Genta sambil turun dari mobil.
(Ini kepala kaya mau meledak, pusing)
Lesta turun dari mobil dengan ragu, jalan dengan hati-hati karna kaki dan seluruh tubuh nya masih merasakan sakit yang ia rasa sejak pagi dini hari tadi. Berhenti di bawah pohon di tengah-tengah perkebunan teh, duduk bersampingan menikmati semilir angin yang sejuk dan nyaman. Hingga 1 jam berlalu, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Kedua nya asik dengan fikiran nya masing-masing, hingga---
Drrtt drrtt drtt
'Mas Arfand'. Nama yang tercantum dilayar hp Genta. Tidak ada niatan untuk menjawab Genta sentuh ikon berwarna merah dan men turn off hp nya itu.
"Haaaaa" helaan nafas Genta terdengar lelah.
"Gue beneran ga nyangka bisa sebejat itu semalem" ucap Genta memulai pembicaraan.
"He'em"
"Gue akuin gue salah, gue dalam pengaruh alkohol hebat semalam. Yang gue liat semalem orang yang gue benci, bukan lo. Maaf gue udah ngancurin masa depan lo, gue ga tau harus kaya gimana ke lo"
"Semua nya udah terjadi, aku juga yang bodoh semalam nolongin orang mabuk yang ga aku kenal sama sekali. Bener kata orang, jangan terlalu baik dan selalu berfikir positive terhadap apapun. Kadang itu semua bakal ngancurin diri sendiri"
"Gue tau yang udah gue ambil dari lo ga bisa gue balikin lagi. Tapi, gue pastiin gue ga akan lari dari tanggung jawab gue"
"Aku yakin papah sama mamah pasti benci dan kecewa banget sama aku" cicit Lesta lirih sambil menundukan kepala nya dalam.
"Hei, lo ga sendiri. Ada gue, gue bakal lindungi lo. Gue bakal tanggung jawab dengan atau tidak bawa restu orang tua lo"
"**,tap--"
"Hmm, nama aku Lesta" ragu tapi Lesta menerima uluran tangan Genta dengan perlahan.
"Nama gue Gentara Satya Adhitama. Umur 19 thn. Kuliah di Univ. A jurusan Manajemen. Kalo lo?"
"19thn?? Univ. A?"
"He'em emang kenapa? Muka gue keliatan umur 16thn ya?"
"Eunggg, engga sih aku kira kita seumuran. 21thn"
"Oh dua pul-- WHAATT? Ga salah tuh biwir nyablak? Gazelaaah 21 thn? Gue baru 19 thn woi, setua itu kah muka gans gue?" Kaget, Genta kaget mendengar ucapan Lesta yang pelan tapi ngena hati.
"He'em" deheman Lesta sambil menganggukan kepala pelan.
"Lo 21thn? Berarti lo lebih tua dari gue 2 tahun dong? Gilaaa mau taruh dimana muka gue, merawanin cewe cantik yang lebih tua dari gue. Gila ini gila beneran bisa jadi bulan-bulana si dua curut" Cercah Genta yang berlanjut dengan umpatan-umpatan.
Lesta bingung dengan racauan genta. Memilih diam dan mendengarkan setiap umpatan pada diri nya setelah tau fakta umur Lesta lebih dewasa dari nya.
"Hmm, maaf ya mulut gue ga bisa ngerem kaget gila soalnya ga nyangka banget"
"Hmm"
"Lo, kuliah dimana?"
"Satu kampus dan satu jurusan sama kamu"
"Ooohh, eh apa lo bilang? Satu kampus? Satu jurusan? Masyaaallah KATING GUE!" ucap genta kaget entah untuk yang keberapa kali nya hari ini, namun kali ini ia sedikit mendramasitir dengan memundurkan tubuhnya menatap Lesta sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Lebay? ya lebay sekali Genta.
Mereka berbincang ringan tentang kehidupan masing masing. Jam 17.15 Genta mengajak Lesta untuk pulang. Diperjalanan mereka berhenti sebentar untuk mengisi perut yang baru mereka sadari kalau dari pagi belum diisi apapun.
***
Tanpa ada niatan bertanya pada Lesta ingin diantar kemana, Genta membawa nya kembali ke kediaman Adhitama saat.
Memasuki rumah dengan santai, tangan memegang jemari Lesta kuat seolah bila longgar dikit wanita itu akan kabur. Diruang tengah, semua orang menatap Genta tajam. Sedangkan Genta yang ditatap tajam oleh semua orang? Acuh tak menghiraukan mereka, mendaratkan bokong disofa menggiring Lesta untuk duduk disamping nya. Mengambil satu toples cemilan diatas meja, memakan nya santai benar-benar tak peduli mata elang yang sedari tadi memperhatikan setiap pergerakan Genta.
"Aaaa, buka mulut lo ka" Genta menyodor kan cemilan nya ke depan mulut Lesta dan dibalas gelengan kepala tanda menolak.
"Ini enak loh ka, buatan mamah. Ga pake pengawet baju apalagi sianida." paksa Genta.
"Em, aku ga laper kamu aja yang makan" Lesta menjawab pelan.
"Oh iya ya kan tadi kita udah ma'am ya, yang belom mah mandi ya kan? Yuk ke atas kita man--"
"GENTARA" Panggil Rehan geram dengan sikap Genta.
"Hadir pah" jawab Genta mengangkat tangan kanan nya.
"Jangan bercanda Genta, kamu tau apa yang kamu lakukan?"
"Tau"
"Apa? Coba jawab"
"Kalo jawabannya bener semua dapet Genta dapat nilai 100 atau duit 100rb?" Tanya Genta membuat Rehan semakin memelototinya tajam.
"Jawab Gentara Satya!" Ucap Rehan Geram.
"Makan cemilan pah" jawab nya santai sambil terus memasukan cemilan ke dalam mulut nya.
"GENTARA SATYA ADHITAMA!"
Genta menaruh toples, mengambil air minum yang ada diatas meja tanpa peduli sang empu nya melototi tajam. Memperhatikan air muka orang tua dan saudara nya. Mengubah posisi duduk jadi lebih tegap, mengusap pelan dagu nya membuat semua pasang mata menunggu apa yang akan Genta lakukan. Pasalnya mereka sungguh tidak bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut Genta dan apa yang akan dilakukannya. Ia sungguh bisa besikap sesuka hati dimanapun dan kapanpun.
10 menit kemudian.
"Itu tas, koper, dan dus punya siapa yang disamping mamah?" Tanya Genta kembali duduk santai menyender ke punggung sofa menunjuk barang yang ia maksud.
"Astagfirullah bang, lo parah kita udah nungguin lo dikira mau ngomong serius lah malah nge ocol lo" jawab Rafa kesal.
"Jawab aja napah" Genta melempar Rafa dengan bantal sofa yang tadi berada diatas pangkuan Lesta, sekarang tergeletak na'as dilantai dengan ringisan kecil Rafa.
"Itu? Punya Lesta dek." Jawab Arfand datar.
"Dari tadi ngomong ke Mas, jadi gue ga nunggu kalian jawab"
"Geee" panggil Mira pelan penuh harap.
"Genta tau apa yang harus Genta lakuin mah, bertanggung jawab dengan ada atau tidak nya restu kedua orang tua Kak Lesta"
"Kak Lesta??" Tanya semua orang bersamaan.
"Iya, kak Lesta. Kalian kaga tau ini cewe 2 tahun lebih tua dari Genta?" Sambil mengangkat sebelah alis nya.
"Lah lu merawanin tante-tante? Kaga salah lo? Hahahahhaha" jawab Rafa sambil menunjuk Lesta dan tertawa keras.
"Sialan lu tante-tante, cuma beda 2 taon doang. Kating gue, gue juga baru tau tadi Rafa bangek!" Lagi Genta melempari Rafa, namun kali ini dengan tutup toples yang mendarat mulus dimulut Rafa membuat sang empu meringis untuk kedua kalinya dengan memberi tatapan permusuhan kepada Genta.
"Jadi Lesta masih kuliah dan kaka tingkat nya kamu ge?" Tanya Arfand pada Genta.
"Iya Mas"
"Astagfirullah Genta" Ucap Arfand tak menyangka atas apa yang dilakukan adiknya itu.
"Jadi, sekarang apa yang bakal kamu lakuin?" Tanya Rehan balik ke topik awal.
Genta menceritakan apa yang akan ia lakukan. Bertanggung jawab atas perbuatan bejat nya. Dari mulai mengurus berkas-berkas untuk ia ajukan ke KUA, urusan nafkah nya kepada Lesta hingga menata hati.
Percayalah, sejak membahas soal perasaan dirumah Lesta fikiran Genta tidak bisa tenang. Bagaimana bisa? Ia pernah mencinta tapi pengkhianatan yang ia dapat. Ia pernah memberikan kepercayaan penuh tapi kekecewaan yang ia terima. Ia pernah jatuh hati yang dalam tapi gelap yang ia lihat. Ia pernah memiliki tapi ditinggalkan sendiri yang ia rasakan. Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan? Membuka hati? Mencintai ? Mulai percaya? Harus kah Genta melakukannya? Ia bimbang. Bisa kah kalian lempar saja Genta ke mars? atau ke pluto sekalian juga tak apa Genta iklas ta'ala demi kolor spongbob kesayangannya Ralio, eh.
***
Membawa kan semua barang milik Lesta dan menyimpan nya di salah satu kamar tamu dilantai satu rumah, Genta menghela napas panjang memastikan apa yang ia pilih ini benar. Genta bukan laki laki brengsek yang lari dari tanggung jawab. Genta bukan laki-laki buaya yang habis manis sepah dibuang. Genta masih waras buat melakukan hal-hal seperti itu.