
Ditempat lain, Erhan terduduk disalah satu kursi yang mini market pinggir jalan sediakan dengan keresek kecil berisi cemilan yang ia beli tadi. Duduk sendiri sambil memainkan hp nya untuk melihat sosial media , ia tak sadar jika ada seorang wanita yang baru keluar dari mini market itu menatap Erhan intens. Wanita itu berjalan, menggeser kursi didepan untuk ia duduki menarik cukup menarik perhatian Erhan yang langsung mengadahkan kepalanya serta menyimpan hp nya diatas meja, mengambil botol air mineral yang teguk hampir setengah.
“Sendirian?” Tanya wanita itu yang dibalas anggukan kepala oleh Erhan. “Tumben ga sama Genta dan Ralio?” tanyanya lagi membuat Erhan menatapnya.
“Genta lagi sibuk lembur ngurus hotel, kalo si Ralio lagi siap-siap ngurus nikahannya.” Jawab Erhan acuh sambil membuka salah satu cemilan milik ia. “Lo sendiri?” tanya Erhan pada wanita itu.
“Iya.” Jawabnya singkat dengan tangan membuka cemilan yang ia beli tadi. Mereka saling diam dengan makanannya masing-masing.
“Lo jadinya mau lanjut kuliah dimana?” Tanya Erhan setelah 15 menit mereka saling diam.
“Masih ga tau gue, nyokap sih minta buat dikampus tempat Lesta kuliah tapi gue masih belum tau juga.” Jawabnya.
“Kampus gue dong?” ucap Erhan dengan tangan menunjuk dirinya. “Jangan deh bosen gue liat muke masem lo Leya.” lanjutnya.
“Dasar lo taek Han.” Aleya melempar keripik kentangnya pada Erhan yang dibalas oleh pria itu dengan keripik singkongnya .”Lo ko bales sih? Mubazir tau!”
“Lo yang duluan ya!” Balas Erhan tak kalah judes.
“Ck!” Aleya berdecak dan kembali memakan cemilan yang ia makan.
Erhan menatap wajah Aleya yang terlihat lebih kurus, tapi ia hanya mengedikkan bahu acuh. Untuk apa difikirkan, toh gada faedahnya juga untuk hidup Erhan. Ia kembali membuka cemilan yang lainnya, hingga mereka hanya fokus dengan makanan masing-masing tanpa ada yang main hp apalagi perbincangan diantara mereka berdua.
Erhan melirik arloji mahal yang bertengger ganteng ditangan kanannya, 21.39 . Ck pantes saja jalanan sudah sepi, ia melirik Aleya yang sedang meminum habis minuman yang wanita itu beli. Ia melirik meja yang sudah seperti tempat sampah saja, bungkus makanan miliknya dan milik Aleya berserakan. Saat tangannya hendak memunguti bungkus makanan itu, lebih dulu tangan Aleya memungutnya terlebih dahulu dan memasukkan semuanya pada satu keresek. Ia berdiri berjalan menuju tempat sampah dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Erhan.
“Lo ninggalin gue?!” Erhan berlari dan mencekal tangan kanan Aleya sehingga membuat wanita itu sedikit membalik menghadap Erhan.
“Gue?” Tunjuknya pada diri sendiri membuat Erhan mengangguk kepala mantap .”Ninggalin lo?” Tanya nya lagi yang mendapat anggukan kepala kedua dari Erhan. “Ngimpi lo? Darimana gue ninggalin lo? Lo datang sendiri, gue datang sendiri. Kita datang masing-masing terpisah jadi apa alasan lo bilang kalo gue ninggalin lo?” Telak, ucapan Aleya membuat Erhan terdiam.
Aleya menyentakkan cekalan tangan Erhan dengan kasar. Tersenyum remeh pada Erhan, Aleya melanjutkan jalannya dan berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan umum. Erhan yang baru tersadar di detik ke-sepuluh pun langsung berlari menuju mobilnya, menjalankan keluar dari parkiran mini market yang sebelumnya sudah memberikan uang sepuluh ribu untuk bayar parkir. Erhan menghentikan mobilnya tepat dihadapan Aleya, namun wanita itu malah bergeser berjalan ke sisi lebih depan yang tidak terhalangi oleh mobil Erhan.
Tak ingin kalah, Erhan memajukkan mobilnya lagi kehadapan Aleya tapi lagi, wanita itu menghindar. Mereka terus melakukan hal itu, hingga Aleya kesal menendang kasar ban depan mobil Erhan. Dengan mencak-mencak Aleya masuk ke pintu belakang dan melipat tangannya didepan dada menatap datar Erhan yang menyembulkan kepalanya ke belakang dengan tatapan geram.
“Depan leya!” Perintah Erhan tapi tak didengan oleh Aleya. “Gue bukan supir! Pindah ke depan Aleya!” Ucap Erhan lagi yang hanya mendapat decakan kasar dari Aleya.
Dengan kesal wanita itu berpindah duduk kedepan samping Erhan tanpa keluar. Yak Aleya melewati lahan kecil ditengah kedua jok itu untuk berpindah. Terlalu malas untuk keluar lagi dari mobil hanya untuk berpindah posisi kedepan yang jelas hanya satu langkah darinya. Erhan yang melihat itu hanya menggeleng tak percaya pada sikap Aleya, ia memasang seat belt dan lanjut mengemudi dengan kecepatan pelan.
“Langsung balik?” Tanya Erhan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Emang lo mau bawa gue kemana? Hotel?” Tanya Aleya dengan sedikit menyindir.
“Emang lo mau gue tarif berapa?” Balas Erhan tak ingin kalah dengan nada menyindirnya.
“Lo sanggup bayarnya berapa nih? Gue masih segel , dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat yang diiringi ucapan sah dari para saksi kayanya cukup han.” Jawab Aleya pelan dengan menatap jalanan lewat jendela disamping. Pelan sangat pelan namun masih terdengar oleh Erhan, jelas malah.
“Maksud lo?” Tanya Erhan dan memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, ia membuka seat beltnya, mendekatkan diri pada Aleya.
“Apaan sih deket-deket! Awas sana!” Usir Aleya dengan mendorong tubuh Erhan yang hanya bergeser dikit saja.
“Tadi lo bilang apa?” Tanya Erhan dengan nada datar.
“Bukan apa-apa, lo salah denger kali!” Jawab Aleya ketus, menyimpan kedua tangannya depan dada menatap Erhan tajam.
“Gue ga budek Aleya! Jelas tadi gue denger lo masih segel dan minta bayaran dengan mas kawin, seperangkat alat sholat dan ucapan sah dari para saksi. Jelas tadi lo ngomong gitu, gue denger jangan ngeles lo!” Erhan menarik tangan kanan Aleya menggunakan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menunjuk wajah Aleya tajam. “Lo minta gue nikahin? Bahkan gue ragu lo masih segel!” Erhan melepaskan cekalan tangan pada Aleya.
Erhan kembali duduk, memakai seat beltnya kembali dan menjalankan mobilnya lanjut menuju rumah Aleya. Suasana sangat canggung dan hening akibat ucapan terakhir Erhan yang sungguh diluar dugaan. Aleya sudah mengepal tangannya kuat merasa harga dirinya diinjak gampang oleh pria disampingnya ini, yang harus diakui jika mulai membuat Aleya tertarik.
Tak lama, mobil Erhan sudah mulai memasuki pekarangan rumah Aleya. Ia mematikan mesin mobilnya serta menatap wanita disampingnya yang sedari tadi diam. Tanpa menatap Erhan, Aleya langsung membuka seat belt kasar dan keluar dari mobil sambil membanting kasar pintu mobil. Erhan yang melihat itu sungguh tak enak hati, memang salahnya berbicara tanpa disaring terlebih dahulu. Ia mengikuti Aleya keluar dari mobil hingga masuk kedalam rumah, namun saat Aleya akan memasuki kamar Erhan lebih dulu mencekal tangan Aleya -lagi.
“Al, gu---”
“Apa? Mau minta maaf? Segitu bejatnya kah gue sampe lo aja ragu gue masih segel hm?” Tanya nya dengan mata merah menahan amarah dan tangis.
“Gue gak maksud gitu Al.” Erhan maju satu langkah mendekat tapi Aleya malah memundurkan langkahnya. “Aleya.” Panggil Erhan lirih.
“Pergi Han, atau lo bakal nyesel!” Ujar Aleya penuh penakanan.
“Keluar sekarang atau lo bakal nyesel!” Ujar Aleya lagi dengan nada lebih ditekan dari yang tadi.
“Al--”
“Oke lo yang minta!!” Ujar Aleya dengan senyum miringnya.
Aleya melangkah mendekati Erhan, entah kekuatan darimana dengan gampang Aleya menarik Erhan masuk kedalam kamarnya. Ia mengunci ganda pintu, marik tangan Erhan lagi menuju kasur. Dengan kasar Aleya mendorong jatuh Erhan keatas kasur. Ia merangkak diatas kasur menuju Erhan yang memundurkan tubuhnya hingga pojokan kasur.
“Aleya janga gila lo!” Teriak Erhan melihat tingkah Aleya. Rasanya kini Erhan seperti anak gadis yang akan diperawani saja.
“Lo yang milih ini.” Ujar Aleya sensual dengan posisi sudah tepat berada diatas tubuh Erhan, ia mengelus pelan rahang Erhan. “Lo yang milih ini Erhan Radea. Tadi gue udah kasih pilihan buat pergi tapi lo masih tetap tinggal. Jangan sampe lo nyesel.” lanjutnya.
Tanpa memberi sedikit saja waktu untuk Erhan menjawab, Aleya langsung meraup kasar bibir Erhan. Dengan tangan yang tak dibiarkan diam, ia memasukkan tangannya kedalam baju Erhan serta mulai bermain dengan bagian bawah tubuh Erhan.
Mau bagaimanapun Erhan itu pria normal gengs, dikasih yang beginian mana bisa nolak. Awalnya aja ngedorong tubuh Aleya tapi makin digerayangi makin menjadi dan kini posisi sudah terbalik dengan yang tadi. Erhan diatas tubuh Aleya melepaskan pautan bibir mereka, menatap penuh nafsu Aleya yang menatapnya sama.
“Lo yang mulai.” Ujar Erhan sangat serak tepat disamping teling Aleya.
Dalam satu detik Erhan sudah memangut kembali bibir pink Aleya, jangan lupakan tangan nakalnya yang sudah sama menggerayangi tubuh Aleya. Emang Aleya doang yang bisa grepe-grepe, ya Erhan juga ga mau rugi dong ujar Erhan dalam hati.
Tak terasa ciuman Erhan turun ke leher jenjang milik Aleya, sedangkan wanita itu setengah mati menahan desahannya agar tak keluar dengan menggit bibirnya. Rasanya Aleya dikerjai oleh Erhan, yang awalnya ia yang berniat berlaku seperti ini eh malah ia yang diperlakukan seperti ini oleh Erhan. Sedari Erhan fokus dengan kedua gunung kembar Aleya yang sangat kenyal itu, Aleya dengan gampang melepaskan celana levis milik Erhan beserta dengan **********.
“Aleya!” Panggil Erhan tajam, sedangkan Aleya hanya tersenyum miring.
“Apa hm?” Tanya nya dengan nada songong yang sungguh ia coba buat terdengar normal dan suaranya tidak serak.
“Jangan mainin kesayang , kalo ga mau gue siksa!” Ujar Erhan dengan tangan kiri mulai turun ke bawah, lnti tubuh milik Aleya.
Aleya yang merasakan itu pun hendak memberontak, namun dengan cepat Erhan cekal kedua tangan Aleya dan ia letakan diatas kepalanya. Jangan lupakan bibir yang akan mengumpatinya, dengan cepat ia bungkam.
Triiinggg, triiiinggg, trriiinnnngg, Papah is your calling. Triiinggg, triiiinggg, triiingggg.
Sialan, bener-bener sial ia langsung terdiam menatap Aleya yang memejamkan matanya diam dengan air mata keluar dari sudut matanya. Erhan menjambak rambutnya kasar, kenapa ia hampir kebobolan gini sih hanya karna nafsu sialan. Ia berdiri menatap sekali lagi titik sensitif Aleya yang syukurnya belum keluar darah yang pertanda Erhan belum berhasil untuk menembus dinding selaput dara itu.
Dengan cepat Erhan memunguti pakaiannya serta Aleya, untuk ia pakai dan ia pakaikan pada Aleya. Meski masih dengan mata terpejam tapi Aleya menerima saat Erhan memakaikannya baju. Erhan duduk dilantai menyender pada kasur mengambil hpnya dari dalam saku celana. Sial lagi, layar hp nya pecah sepertinya efek tadi ia melempar celana. Nafsu sialan memang, umpat Erhan dalam hati.
“Hallo pah.” Saat menjawab panggilan telefon dari Rajata yang masuk untuk ke-tiga kalinya.
“Kamu dimana hm? Jam segini belum pulang? Ga inget rumah apa?” Ujar Rajata dari sebrang sana.
“Pulang juga papah sama mamah ga ada dirumah percuma.” Jawabnya dengan nada yang ia coba santai padahal ia masih panas dengan nafsu.
“Kamu ga lagi olahraga malem kan? Suara kamu itu kaya habis ngelakuin yang mantap-mantap loh nak.” Ujar Rajata disebrang sana dengan nada menyelidik.
Mau yang mantap gimana, baru mau ngegol eh udah main nelfon, padahal tanggung tinggal masuk. Umpat Erhan dalam hati, ia memalikkan badan menatap Aleya yang ternyata sudah tertidur membelakanginya.
“Olah raga apaan, Erhan cuma nongkrong doang pah.”
“Nongkrong dirumah cewek yang mana nak?” Tanya Rajata dengan nada masih menyelidik.
“Apaan sih pah!” Jawab Erhan dengan nada sedikit tinggi. “Udah ah Erhan pulang sekarang ga usah dicariin kaya anak sd aja deh.” Lanjutnya dengan nada kesal.
“Kalo ga dicariin tau-tau nanti ada anak orang yang datang kerumah minta pertanggung jawaban gimana? Mau papah gantung kamu dipohon toge hem?” Bercandanya Rajata ini terkadang suka nyepet Erhan dengan telak.
“Semerdeka papah aja, bye!” Erhan mematikan sambungannya sepihak.
Ia menghela nafas kasar,berdiri dan duduk dikasur samping Aleya. Dengan refleks ia membereskan anak rambut Aleya yang berantakan menghalangi wajah wanita itu. Menelisik wajah Aleya, sungguh Erhan tak bisa lagi memendam perasaannya terhadap wanita yang sedang tertidur itu. Aleya Ateja Putri, temannya saat di SMA dan mantan pacarnya Gentara - sahabat ia. Apa bisa ia memiliki wanita ini? Rasanya Erhan masih bergelut dengan Ego-nya. Lagi ia menghela nafas kasar sebelum mencium pelan puncak kepala Aleya.
“Maafin gue Al.” Ujar Erhan lirih dengan perasaan bersalah. “Gue ga bermaksud, gue minta maaf udah ngerendahin lo tapi dengan brengseknya malah gue yang hampir ngancurin hidup lo. Sekali lagi gue minta maaf. Gue pamit balik, semoga mimpi indah Al.” Erhan mencium sekali lagi puncak kepala Aleya.
Sebelum melangkah menuju pintu, Erhan mengambil selimut dan memasangkan pada tubuh Aleya. Ia berjalan menuju pintu, menatap sekali lagi Aleya yang tertidur sebelum mematikan lampu dan menutup pintu kamar berjalan keluar untuk kembali pulang kerumahnya. Tanpa disadari Aleya membuka kembali matanya, terisak dalam diam meratapi nasibnya jika tadi tidak ada yang menelfon Erhan.
Aleya mengakui jika dia wanita tidak benar, tapi percayalah ia masih virgin meskin sering sekali keluar masuk club. Jika ciuman sudah sering ia lakukan, namun untuk hal yang lebih lanjut itu tak pernah ia rasakan. Sungguh ia hanya melakukan OnTop tanpa ada yang lain. Bahkan tadi kali pertama ia merasakan sebuah junior berada tepat didepan titik sensitif nya yang akan menerobos masuk. Aleya tak henti berucap syukur karna ia masih vi*g*n dak tak jadi lebih rusak oleh sikap Erhan tadi. Sedangkan Erhan didalam mobil selama perjalan tak henti mengumpati dirinya yang bodoh dan bergumam maaf menyebut nama Aleya, hampir saja ia merawani anak gadis orang seperti Genta - dulu.