
Di lain tempat, Genta bercengkraman tangan duduk bersebelahan menunggu pesanan mereka datang. Sedari tadi Hp Genta berbunyi menampilkan nama Rafa di layar, tapi ia hiraukan dan ia matikan Hp nya setelah Rafa 3x terus menelfoni. Sungguh menganggu moment nya dengan Tara.
"Gen? Itu cincin apa?" Tanya Tara pada Genta sambil menunjukan jari manis yang terdapat sebuah cincin.
"Cincin apa? cin--" Tanya Genta awalnya tidak mengerti maksud Tara, tapi saat ia mengangkat tangan kanannya dan melihat cincin nikah milik nya ia langsung teringat jika ia sedari tadi bersama dengan Tara hingga melupakan istri nya yang ia tinggalkan sendiri di kamar, padahal tadi ia bilang hanya sebentar.
Dengan refleks ia berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanan nya tanpa mengindahkan semua pertanyaan yang keluar dari mulut Tara. Ia bergegas keluar dan menaiki motor namun saat akan menstarter, Tara menghalangi membuat Genta menatap nya.
"Kamu kenapa sih? Aku dari tadi nanya ga dijawab mal--" Ucapan nya terpotong karna Genta menarik tangan nya dan menyuruh ia naik untuk ikut dengan nya pulang.
Menjalankan motor dengan kecepatan cukup tinggi, ia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai dirumah. Bergegas menuju kamar nya tapi langkah ia terhenti saat melihat darah di tangga. Refleks saja ia membalikan badan nya dan melihat lantai yang baru ia sadari terdapat darah juga. Tak ingin berfikiran buruk, ia melanjutkan jalannya menuju kamar dengan meneriaki nama istrinya itu. Saat membuka pintu, ia tak mendapati Lesta di dalam kamar. Yang ia lihat hanya laptop dengan posisi yang sama sejak ia tinggal pergi. Tek menyerah, ia berjalan mengahampiri kamar mandi, semua kamar termasuk kamar kedua orang tua nya, dapur, hingga gudang pun ia hampiri untuk mencari Lesta tapi tak satu orang pun ia temui.
Teringat dengan Rafa yang sedari tadi menelfon , ia langsung mengambil Hp nya dan meng aktifkan nya kembali langsung menguhubungi Rafa. Panik karna sampai panggilan ke 10 masih belum diangkat juga, ia berjalan keluar rumah berniat mencari kemana pun untuk menemukan Lesta. Tepat saat ia akan menyalakan motor ,mobil keluarga nya masuk dan keluar lah bi ai dan pak mur dari mobil. Genta langsung turun dan menghampiri mereka.
"Bi, Pak. Lesta mana?" Bi ai dan pak mur saling pandang dan terdiam. "Jawab! Lesta mana? Kenapa ga ada dirumah? Kemana orang orang rumah yang lain? Kenapa ada darah didalem? Ken--"
"Tenang dulu Gen, jangan panik. Mereka ga akan jawab kalo kamu terus kaya gitu" Potong Tara mencoba menenangkan Genta.
"Non Lesta masuk rumah sakit den. Yang lain nya udah pada disana, non lesta kritis jatuh dari tangga atas dan terjadi pendarahan di dalam kepala serta kandungan nya" Jawab Pak Mur setelah melihat Genta cukup tenang.
"Jangan bercanda pak" Genta memajukan langkah nya hingga tepat berhadapan dengan Pak mur, ia mencengkram kuat kerah baju pak mur dengan marah. "JAWAB YANG BENER KALO GUE TANYA! JANGAN LO KIRA GUE **** PERCAYA KALO ISTRI GUE JATOH DARI TANGGA! SEKARANG JAWAB DIMANA ISTRI GUE ATAU GUE TONJOK LO SAMPE ******!" Teriak Genta dengan kasar pada pak mur namun langsung di lerai oleh Tara dan bi ai.
Bi ai menceritakan semua nya dengan detail apa yang terjadi dan menyebutkan rumah sakit tempat Lesta di rawat. Tak mengulur waktu ia langsung menaiki motor nya dan menjalan kan dengan kencang diatas rata rata, jangan lupakan Tara yang sedari tadi dengan cepat mengikuti setiap pergerakan Genta dan duduk dibelakang. Tak lama ia sampai dan memarkirkan motor nya sembarang depan pintu masuk rumah sakit yang membuat satpam berlari mengejar nya. Saat akan masuk dalam lift , tangan kanan Genta dicekal oleh satpam yang tadi mengejar. Refleks ia melempar kunci motor milik nya, langsung saja ia masuk kedalam lift dan menutupnya menghiraukan teriakan satpam.
Diujung lorong, ia melihat banyak orang berdiri didepan sebuah ruangan. Ia berlari tergesa menghampiri, tepat saat ini sampai ia mendapat sebuah tendangan keras dari Arfand membuat ia refleks terjatuh. Tidak ada yang berniat mencegah Arfand, semua orang hanya menatap tajam pada Genta yang terduduk dilantai dan Tara yang sedang membantu Genta untuk bangun.
"Lo kek *** bang Ge!" Ucap Rafa yang kini berdiri disamping Arfand. "Ga usah kesini lo, sana aja sama sahabat lo" lanjutnya sinis.
"Mana Lesta raf? dimana istri gue? pak mur sama bi ai bercanda kan bilang kalo istri gue kritis jatoh dari tangga, HAHAHA gue tau ga mungkin terjadi karna tadi gue tinggal dia sebentar di kam--"
Brak. Bugh. Bugh. Deugh. Bugh. Plaakk.
Rafa melempar kursi yang tadi ia pinjam untuk duduk, dan lanjut memukuli Genta dengan berakhir sebuah tamparan keras.
"Dasar lo MANUSIA YANG GA PANTES DISEBUT MANUSIA!" Teriak Rafa penuh penekanan."Lo bilang bentar? lo pikir anjing sekarang udah jam setengah 11 malem dan lo baru tau istri loh kritis? bentar lo bilang? lo pikir lo ninggalin bini lo dari jam berapa bisa-bisa nya lo sebut itu bentar? HAH? JAWAB GUGUK!" Lanjutnya Rafa dan langsung di tarik oleh Rehan sedikit menjauh dari Genta.
"Rafa, jaga ucapan kamu. Papah ga pernah ngajarin kamu bicara kasar kepada orang lain." Tegur Rehan, meski geram juga kepada Genta tapi ia masih bisa menahan nya.
"Si Genta keterlaluan pah. Kalo udah sama si Tara ga akan inget apapun, bahkan rumah pun ga akan inget dia pah. Berkali-kali Rafa nelfon abang tapi ga dijawab dan malah hp nya dimatiin. Papah tau aku nelfonin hampir 100x pas kak Lesta kritis? Dan yang kak Lesta cari cuma DIA PAH!" Bela Rafa tak terima di tegur dan menaikan nada bicara nya diakhir sambil menunjukan Genta. "Sekarang lo ga berguna ada disini juga. Kak Lesta udah pergi sama kedua anak kembar lo. Sayang sayang aja tuh sahabat lo dan balikan lagi sama cewe yang ada dibelakang lo sekarang. Lupain aja istri dan anak lo, balik lagi aja ke kehidupan lo yang dulu. Semoga lo bahagia!" Lanjut nya sebelum ia pergi dari hadapan keluarga nya.
Genta terdiam dan menatap satu persatu orang disana. Ada Rehan, Mira, Arfand, dan mamah nya Aleya ia tau itu. Saat akan melangkah menghampiri mamah nya, Arfand langsung mencegat nya tak mengizinkan Genta mendekat.
"Lo pergi dari sini sekarang juga dan bawa sahabat lo itu." Ucap Arfand penuh penekanan.
"Mah, kasih tau Genta. Dimana Lesta? Dia baik-baik aja kan? Si kembar juga baik-baik aja kan mah? Kenapa mamah nangis gini? Jawab Genta mah. Genta percaya sama mamah." Genta menekuk kedua lutut nya dan memeluk kaki Mira yang terduduk dikursi tunggu rumah sakit. "Kasih tau Genta mah kalo Lesta baik-baik aja. Genta janji sama dia besok mau ngedekor kamar buat si kembar mah. Gen...Gen...Ta.... Maaaaahhh pliiisssss" Genta menangis tak kuasa karna mamahnya tak menjawab malah memeluk ia kuat.
"Sabar ge sabar, semua udah di atur Allah. Kamu yang ikhlas ya, jangan kaya gini." Mira menenangkan Genta dan memeluk nya kuat.
"Mba, saya sama Leya pamit pulang dulu. Semua surat-surat nya juga sudah selesai." Pamit mamah nya Aleya membuat Genta refleks melepaskan pelukan nya lalu menatap wanita paruh baya itu lekat.
"Tolong kabari saya ya kalo ada kemajuan, walau Riza melarang tapi saya pun punya hak akan cucu saya." Ucap Rehan pada wanita itu yang dibalas anggukan saja.
Saat hendak pergi Aleya membalik badan nya dan menghampiri Genta, menatap nya lekat. Tersenyum sinis.
Plakk. Plaak.
"Gue kira lo udah berubah. Lo masih ga sadar diri Ge? Harus nya lo sadar sejak dulu kalo lo itu salah. Lo boleh nyalahin gue karna dulu gue selingkuh, tapi lo harus inget ini. Dulu gue selingkuh karna lo lebih mentingin TARA yang selalu lo sebut SAHABAT dan lo selalu bilang kalo dia sama dengan RALIO maupun ERHAN. Tapi lo ga sadar, kalo posisi Tara di hati lo berbeda dengan kedua curut lo itu. Lo diem-diem nyakitin hati gue dulu. Gue berniat ngerebut lo dari Lesta saat gue tau kalo kalian menikah, karna gue punya sedikit dendam sama sepupu gue itu dan gue masih berharap bisa balik lagi sama lo. Tapi kalo kasus nya kaya gini, gue ga terima lo nyakitin Lesta. Dia itu polos, beda sama gue yang barbar. Dia itu punya hati yang tulus, beda sama gue yang hina. Lo bakal nyesel GENTARA. Nyesel senyesel-nyesel nya karna lo udah buat istri lo kaya gini. Gue bakal tertawa paling kencang ngeliat lo menderita saat mendapat hadiah yang bakal om Riza kasih ke lo!" Aleya pergi bersama mamah nya setelah berbicara pada Genta.
Genta menatap Arfand yang berlalu pergi dan di ikuti oleh Rehan serta Mira. Genta duduk di kursi dan menundukkan kepala nya. Merasa ada yang mengelus kepala nya pelan, ia mengadahkan kepala nya dan tersenyum pada Tara sebelum ia memeluk wanita itu erat diiringi isak tangis.
"Semua nya akan baik-baik aja Gen, jangan kaya gini. Kamu harus cari tau kemana istri serta anak kembar kamu itu. Kamu harus berfikir tenang, ingat Gen. Dari tadi ga ada orang yang membahas soal kematian, hanya Rafa yang bicara jika mereka pergi. Pergi bukan berarti meninggal. Bisa saja dipindahkan ke rumah sakit yang lebih canggih." Tara menjeda ucapan nya saat Genta melepaskan pelukan dan menatap nya datar. "Om Rehan pun tadi bilang ke bibi yang tadi, kalo om rehan meminta kabar meski Riza tidak mengizinkan. Aku ga tau Riza itu si--" Ucapan nya terpotong oleh ucapan singkat Genta
"Papah nya Lesta. Aguriza Prahera." Genta meringis menahan sesak di dada nya saat teringat kedua mertua nya.
"Aaa. Bisa jadi istri kamu dibawa oleh kedua orang tua nya ke suatu tempat yang lebih baik dari ini" lanjut Tara saat Genta terdiam kembali.
"Kita pulang" Bukan nya menjawab ucapan Tara , Genta malah menarik tangan nya dan pergi keluar dari rumah sakit.
***
Di lain tempat, isakan tangis tak henti keluar dari pelupuk matanya menatap anak semata wayang yang ia cintai berbaring lemah diatas kasur.
"Bangun Sei nya mamah. Liat kedua anak kamu Sei, mereka sangat lucu meski masih berada dalam inkubator. Buka mata mu nak, kita hampir sampai di negara yang kamu impikan" Tak henti nya Adhisti mengajak bicara Lesta yang memang di fonis koma akibat benturan keras dikepala ditambah pendarahan yang cukup membuat tubuh nya benar-benar tak berdaya.
Tentang kandungan nya, jika kalian lupa Lesta langsung masuk ruang oprasi saat Arfand membawa nya kerumah sakit. Ia melahirkan secara caesar karna pendarahan dan air ketuban yang sudah habis. Anak kembar laki-laki tertolong selamat dengan bobot yang cukup berisi jika dikategorikan bayi yang lahir premature. Tapi mereka tetap harus diinkubator hingga kondisi nya normal.
Sedangkan kondisi nya Lesta masih kritis , ia terjatuh dari anak tangga paling atas hingga tangga ke tiga dari bawah itu pun Arfand yang segera menahan nya. Benturan benturan dikepala nya membuat pendarahan cukup dalam di otak. Tak lama ia pindahkan ke ruang ICU pasca orperasi ia mengalami kejang-kejang dan darah dari kepala yang sudah di obati namun mengalir kembali terlihat dari perban putih yang mulai memerah. Untung ada suster yang masih mengecek jadi langsung di tangani oleh oleh dokter-dokter ahli dirumah sakit itu.
Lesta selalu menyebut nama Genta dalam masa kritis itu, sebelum akhir nya ia benar-benar memejamkan mata dan berakhir koma. Riza langsung meminta anak buah nya untuk menyiapkan jet pribadi milik nya, dan memaksa dokter untuk menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan Lesta diperjalanan.
Riza memantapkan hati membawa anak dan cucu nya untuk ke Jepang. Dia lebih percaya jika anak nya akan cepat sembuh jika ia bawa berobat di negara bunga sakura itu. Yang lebih pasti, menjauhkan mereka dari seorang GENTARA yang baru saja di kasih hati, tapi sudah menabur garam.
Sedari tadi ia tak peduli ada dimana suamin bocah anaknya itu, tapi bagaimanapun anaknya selalu menyebut nama "Genta" membuat Riza jengah mendengarnya. Ia akan tunjukkan kepada Genta siapa ia sebenarnya. Ia tidak pernah bermain-main dengan ucapan. Sebelum keberangkatan Riza sempat menghubungi pengacara pribadi keluarganya. Iya Riza berniat untuk menurunkan surat talak kepada Genta dengan berbagai tuntutan yang pastinya memberatkan Genta. Ia tak peduli jika anaknya akan menjadi janda muda beranak dua, yang ia pedulikan saat ini mereka sehat dan bahagia tanpa ada Genta yang berjanji akan menjaga tapi malah dia yang menyakiti. Bukankah pria itu yang dipegang ucapannya bukan hanya janji? Jika ada yang mengingkar biasanya disebut banci kan? Maka bolehkah sekarng Riza meneriaki serta mengumpati Genta Banci?