
Didalam mobil Erhan sesekali melirik Aleya yang menatap kearah jalanan luar. Logika berkata abaikan tapi hati berkata ungkapkan. Bohong jika Erhan tak tertarik dengan Aleya. Meski tubuhnya tidak terlalu tinggi namun Aleya memiliki wajah cantik dengan muka tembam, ditambah rambutnya yang kini agak bergelombang. Erhan terlalu acuh untuk urusan wanita, tapi saat kali pertama lagi ia melihat Aleya dipesta ulang tahun Wida ada sesuatu yang memberontak dalam hati Erhan. Hingga dengan ceroboh ia berkata pada Ralio akan mengawasinya, yang beruntung Ralio itu gampang dibodohi dengan beberapa alasan akhirnya setuju untuk mengikuti Erhan.
"Apa yang lo fikirin?" tanya Erhan dingin menatap Aleya.
"Apa yang ngebuat lo bisa ada ditaman tadi?" Tanya balik Aleya.
"Ditelfon Rali buat kesana" Erhan menjawab dengan datar.
"Oh. Kalo ga mau nganterin gue pulang, gue bisa sendiri." Aleya hendak membuka pintu namun tanganya lebih dulu dicekal oleh Erhan yang entah sejak kapan jarak mereka sudah mengikis hingga hidung keduanya hampir menempel.
Erhan menatap mata hitam Aleya, dan Aleya mencoba fokus tidak menatap bibir tipis merah muda alami milik Erhan. Tapi jiwa bar-bar sialan Aleya membuatnya memajukkan wajah hingga kini bibirnya menyentuh bibir Erhan yang membuatnya tak fokus.
Erhan kaget bukan main dengan apa yang Aleya lakukan. Ia menatap mata wanita dihadapannya yang memancarkan kesenduan. Mencoba mengabaikan dan memundurkan tubuhnya namun tangan Aleya menahan tengkuk leher Erhan dan mulai ******* bibir tipis miliknya.
Tolong, bagaimanapun Erhan pria normal yang memiliki nafus birahi apalagi dengan posisi intim dipinggir jalan yang sepi nan gelap hanya dengan mereka berdua dalam mobil. Oke akal sehat Erhan mulai hilang karna mulai membalas ciuman Aleya. Saling ******* dan menggigit hingga tak sadar tangan Erhan sudah mulai menelisik tubuh Aleya.
Erhan lebih dulu melepas pangutan mereka saat tangan Aleya mulai mengerayami tubuhnya. Saling berlomba menghirup udara, selanjutnya Erhan meletakkan dahinya pada dahi Aleya. Menyentuh lembut wajah wanita itu membuat sang empu memejamkam mata merasakan kenyamanan yang baru ia rasakan kembali.
Jdugh.
Kedua orang yang berada didalam mobil dengan refleks mamalingkan wajah menatap kearah jendela yang seperti diketuk itu. Sudah berdiri Ralio yang sedang mengusap keningnya dengan tangan kanan serta Tara yang berdiri disampingnya seperti sedang mengomeli. Dengan rasa malu, Aleya segera keluar meninggalkan Erhan didalam mobil. Ia berlari memasuki mobil Ralio yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang mobil Erhan. Ralio dan Tara yang melihat itu hanya terkekeh kecil mencoba mengejek Erhan yang kini sedang menatap mereka tajam dari dalam mobil dengan kaca yang sudah diturunkan.
"Telfon Genta aja dong Han kalo kepalang nafsu minta kamar VVIP kan deket sini tuh salah satu hotel punya om Rehan." Ucap Ralio dengan kekehan.
"Bangke!!" Erhan mengumpati Ralio dan menjalan mobilnya dengan cepat membuat tawa Ralio keluar dengan kencang.
"Kirim vidionya ke Genta ah." Ralio berjalan sambil memainkan hp pintar miliknya, dan melompat girang saat vidio Erhan sedang berciuman dengan Aleya tadi terkirim ke Genta.
"Sabar Tara sabar, Ralio emang gila dari dulu yang penting kaya ,ga nikah sama om-om girang dan jadi istri ke tiga. Iklahsin aja nikah sama dia." Ucap Tara sambil mengikuti Ralio memasuki mobil. "Anterin Aleya dulu." Ucap Tara dibalas anggukan oleh Ralio.
"Berhenti ngejek gue Ralio bangke!" Teriak Aleya yang lagi membuat tawa Ralio keluar.
"Kalo udah ga kuat minta kak Lesta buat bilang ke Genta siapin kamar VVIP dong leya, kan hotelnya deket sini nih." Ejek Ralio sambil terus mengemudi menuju alamat yang Aleya sebutkan. Sepanjang jalan Aleya tak henti mengumpati Erhan serta Ralio.
Genta melihat hpnya dengan serius membuat Rafa yang duduk disebelahnya mengerutkan kening bingung. Menggeser tubuh lebih miring agar dapat melihat apa yang sedang kakak keduanya itu lihat. Rafa melihat dengan jelas sebuah vidio direkam dari luar kaca mobil namun masih terlihat apa yang dilakukan oleh kedua orang yang berada didalam mobil itu. Genta memiringkan wajahnya menatap Rafa. Satu detik, dua detik, tiga detik tawa Genta dan Rafa pecah bersamaan.
"Kak Erhan? bhakakakakak" Tawa Rafa.
"Hahaha si bangke kaga tau tempat banget" Balas Genta.
"Kalian kenapa sih?" tanya Arfand yang baru datang dari dapur dengan secangkir coklat panas yang selanjutnya duduk disamping kiri Genta, karna samping kananya ada Rafa.
Genta dan Rafa terdiam saling lirik dan kembali terbahak membuat Arfand kesal langsung mengambil hp dari genggaman adiknya itu. Ia bisa melihat room chat dengan kontak 'RALIOLIOLIO' , ada sebuah vidio. Arfand menaikan sebelah alisnya menatap kedua adiknya yang terkikik geli. Dengan penasaran ia mengklik vidio itu dan memplay. Yang ia lihat awalnya hanya gelap dan suara grasak grusuk ga jelas, namun di menit ke dua ia bisa melihat sesuatu yang direkam dari luar kaca mobil. Wanita dan pria yang saling berhadapan dengan jarak sangat intim, hingga sampai dimana sang wanita mencium terlebih dahulu si pria. Oke Arfand sepertinya sudah gila karna tak ada niatan untuk menghentikan vidio itu. Namun saat terlihat jelas jika ia mengenali kedua orang itu, ia mempause menatap kedua adiknya yang menahan tawa dengan menutup mulut mereka menggunaka tangan. Mendengus kesal, Arfand menyerahkan hp itu kepada sang empunya.
"Temen maksiat bukannya dikasih tau malah diketawain!" Ucap Arfand ketus.
"Erhan itu tsundere banget mas, bilang ogah tapi ternyata iyah hahaha" Genta tertawa hingga Arfand gemas melemparinya menggunakan keripik kentang favoritenya "Di pokpokceplok mah geuning diterima-terima aja tuh malah keliatan banget keenakan bhakakak" lanjutnya.
"Ge..." Panggil Lesta dengan menggendong Albar yang masih anteng membuka mata padahal sudah sangat malam untuk ukuran bayi.
"Apa bunda?" Tanya Genta berdiri berhadapan dengan istrinya itu.
"Epe bende?" Ejek Rafa menatap Genta dengan nada menyindir.
"Orang sirik pergi aja sonoh ke lembang!" Balas Genta ketus "Mau aku bantu jaga Albar iya?" lanjutnya bertanya pada Lesta yang dibalas anggukan pertanda iya.
Langsung saja Genta mengambil Albar dan mengayun-ayun kan anaknya itu dalam gendongannya. Lesta tersenyum dan kembali ke kamar, yang ia tebak jika Alca juga terbangun. Mira - mamahnya pergi dengan Rehan - papahnya yang pamitnya ada urusan ngedadak keluar kota padahal mah sekalian liburan berdua. Udah hapal Genta beserta dengan kedua sodaranya dengan segala alibi Rehan untuk bermesraan bersama Mira.
"Baaaaaaangggg" Panggil Rafa.
"Pa'an?" Tanya Genta pada Rafa.
"Kalima lima go bang bang bang" Saut Arfand dengan senyum mengejek.
"Bangkong ditengah sawah wah" Lanjut Rafa.
"Wahai tukang bajigur gur" Saut Arfand lagi.
"Gur--"
"Gue duruk lo berdua!!" Ucap Genta menatap tajam Arfand dan Rafa bergantian membuat kedua saudaranya itu terbahak dan pergi menuju kamar masing-masing meninggalkan Genta berdua dengan Albar.
"Tar.." Panggil Ralio saat Tara akan keluar dari mobil.
"Apa?" Tanyanya dengan nada datar khas Tara Puriani.
"Inget kan ya kita jadi nikah" Ujar Ralio menatap hangat Tara.
"Iya" Balas tara singkat.
"Tunggu bentar lagi, akhir perjuangan gue dapetin lo" Tara hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Ralio mengangkat tangannya menyentuh pipi putih Tara "Jangan datar-datar wajahnya, nanti hati gue ikutan datar gimana?" Ralio tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah menggoda.
"B aja" Tara melepas tangan Ralio dan berbalik keluar dari mobil namun gerakannya terhenti saat wajahnya tertarik membalik jadi berhadapan kembali dengan wajah Ralio yang kini jaraknya sangat dekat.
Chup.
"Night Tar" Ralio tersenyum manis menatap Tara yang masih terdiam atas apa yang sudah Ralio lakukan. Mencium singkat bibir wanita itu, namun Tara tak bereaksi apapun selain mengangguk kepala dan mulai keluar dari mobil dengan raut bingung. Ralio menjalankan mobilnya mulai menjauh dari hadapan Tara yang masih setia berdiri didepan gerbang rumah. lima detik kemudia Tara berjongkok menutup kedua wajahnya menggunakan tangan serta menunduk merasakan panas diseluruh wajahnya.
Raliooooooooo. teriak Tara dalam hati. Menghirup udara sebanyak-banyaknya ia mulai memasuki rumah dengan hati masih berkecamuk mengingat apa yang Ralio lakukan padanya.
"Namanya Ralio pah!" Balas Tara dengan ketus.
"Kamu itu mau papah nik--"
"Tara lebih baik nikah dengan Ralio daripada sama om-om tua bangke itu!!" Tara memotong ucapan papahnya itu berlalu menuju kamar dan membanting pintu dengan keras.
"Kamu tetep bakal nikah sama temen papah Tara Puriani!" Ucap papahnya Tara tak kalah teriak dengan anaknya yang kini merebahkan tubuh diatas kasur dengan lelah.
"Gue berharap banyak ke lo Rali" Ucapnya lirih.
Esoknya, sebuah mobil limosin dan Fortuner keluaran terbaru berhenti tepat didepan rumah papahnya Tara. Seorang pria paruh baya menggunakan setelah hitam-hitam turun dari kursi kemudi dan berjalan membukakan pintu penumpang yang selanjutkan keluar seorang laki-laki dengan memakai kemeja, celana bahan serta sepatu nike putih yang terlihat jelas sangat ori diikuti sepasang wanita dan pria paruh baya yang wajahnya mirip dengan laki-laki tadi turun terlebih dahulu. Meski sudah paruh baya namun terlihat jelas wibawa pasangan itu. Mereka berjalan menuju pintu coklat yang menampakkan Tara serta papahnya yang menatap tak percaya.
Bagaimana tak percaya, lihatlah Ralio yang biasa hanya membawa mobil Agya silvernya kini datang menggunakan limosin dan fortuner dibelakangnya itu yang hanya ditumpangi oleh keenam anak buah kedua orangtuanya dengan pakaian serba hitam khas pengawal, jangan lupakan seserahan yang mereka bawa terlihat barang-barang branded yang pasti disiapkan oleh kedua orangtua Ralio.
"Si tengil?" Tanya papahnya pada Tara yang berdiri disampingnya dengan bisikan.
"Iya" Papahnya tersenyum puas mendengar jawaban dari putrinya itu.
"Assalamualaikum" Salam Ralio beserta kedua orangtuanya bersamaan.
"Waalaikum salam" Jawab Tara dan papahnya yang selanjutnya mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Kedatangan kami kesini dengan tujuan ingin melamar putri anda untuk putra kami." Ujar papahnya Ralio - Atmaja Yasa.
"Berapa bersaudara?" Tanya papahnya Tara. Ia sangat tau siapa Atmaja Yasa, tapi soal keluarga tidak tau karna publik hanya mengekspos kesuksesannya tidak dengan hal pribadi seperti keluarga.
"Anak tunggal!" Jawab Ralio ketus.
"Rali." Tegur mamahnya dengan lembut membuat Ralio mendengus kasar.
"Rali cuma jawab doang mah" Jawabnya dengan lembut menatap mamahnya dengan
hangat.
"Tapi ga sopan nak." Ucap papahnya yang dibalas dengan ucapan maaf dari Ralio. "Maafkan anak kami, Ralio anak tunggal kami pak."
"Iya tidak apa-apa" Balas papahnya Tara.
Mereka berbincang-bincang membahas tentang keluarga masing-masing yang sungguh membuat papahnya Tara puas mendengar keseluruhan bisnis dan kekayaan yang dimiliki Atmaja akan jatuh semuanya pada Ralio. Dengan cepat iya menerima lamaran Ralio untuk anaknya bahkan pernikahan akan diselenggerakan dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Ralio beserta yang lain pamit dan berjalan keluar rumah untuk kembali pulang namun langkahnya terhenti saat akan memasuki mobil membalik badan menatap Tara sejenak. Ralio berlari memeluk Tara dengan hangat, mengusap kepala wanita itu dengan lembut yang dibalas dengan pelukan erat oleh Tara.
"Lo aman sekarang sama gue Tar." Bisik Ralio tepat ditelinga Tara yang dibalas
anggukan kecil oleh wanita itu.
Ralio melepaskan pelukannya pada Tara, mengelus pelan puncak kepalan wanita itu dengan menampakkan wajah yang tersenyum hangat lalu berbalik dan bejalan kembali memasuki mobil limosin menyusul kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu berada didalam memperhatikan setiap tingkahnya tadi dari dalam mobil. Mamahnya mengusap pelan puncak kepala Ralio dan tersenyum hangat menatap anak tunggalnya itu.
“Apapun akan mamah lakukan untuk kamu nak, termasuk menyelamatkan wanita yang kamu ingin dengan harta yang kita miliki.” Ralio memeluk mamahnya itu dan bergumam terimakasih.
Drrttt. Drrttt. Drrttt.
Genta mengambil hpnya yang bergetar dengan malas, mata focus menatap laptop mengerjakan tugas yang masih banyak untuk ia selesaikan. Melirikan sejenak matanya pada layar hp yang menampilkan langsung pop up pesan masuk dari Ralio.
Ralioliolio
Thx banget Ge, saran lo berguna. Lamaran gue diterima dengan gampang pas gue bawa nyokap bokap beserta para ajudan buat lamar Tara.
Lo emang paling tau,,
13.17
Gentayangan
Wkwkwk gue bilang apa itu tuh cara paling ampuh selain bobol gawang duluan.
B T W Congrats bradeeerrr
13.20
Ralioliolio
Gue bakal tlaktir lo sama Erhan besok sepuasnya dah,,
Btw juga nich ya, lo peka sama gue ge thx ya sekali lagi 😊
13.21
Gentayangan
Always 😊
13.21
Genta tersenyum melihat sahabatnya – Ralio Putra Yasa akhirnya mendapat restu dari papahnya Tara. Kini dalam hatinya sangat bahagia karna wanita yang pernah ia cinta dan selalu ia lindungi sejak dulu jatuh kedalam pelukan salah seorang pria yang sangat Genta kenal, ia tau seorang Ralio akan dengan sekuat tenaga melindungi wanita yang akan bersanding dengannya mengarungi bahtera rumah tangga – Tara Puriani. Kini tinggal satu sahabatnya yang masih mengambang dilautan jomblo, siapa lagi kalo bukan Erhan Radea. Ingin menyomblangkan dengan mantan kekasihnya Aleya Ateja Putri tapi cukup sulit melihat dari beberapa aspek yang cukup bertentangan. Ia meletakkan kembali hpnya dan lanjut mengerjakan tugasnya hingga terdengar suara tangis bayi disamping tempatnya duduk.
Alcalandra Arrayen Adhitama – menangis terbangun dari tidur nyenyaknya, Genta langsung menggendongnya dan mencoba menenangkan agar berhenti dari tangisnya. Alca tertawa menatap wajah ayahnya yang memasang wajah dijelek-jelekan – walau begitu tetap tampan, Genta sendiri pun ikutan tertawa mengikuti anaknya itu. Sedangkan dari arah pintu kamar Lesta yang memperhatikan itu menghangat hatinya sungguh ini yang ia inginkan dalam hidupnya. Bahagia Bersama dengan keluarga kecilnya, meskin banyak masalah menghampiri tapi akan selalu ada pelangi setelah badai pergi. Ia rela merasakan sakit dan kekecewaan diawal kehidupannya asal bayaran yang ia dapat kehangatan keluarga yang sungguh membuat siapapun yang melihat iri hati