
"han, ga apa-apa gitu si Aleya tau kalo si Genta udah kiwin?" Tanya Ralio pada Erhan.
"Biarin aja lah , kalo dia macem-macem baru kita kudu turun tangan. Apalagi kalo mulai ngegoda si Genta, gue maju paling depan" jawab Erhan yang hanya dibalas anggukan oleh Ralio.
Mereka berdua sekarang sedang berada didalam mobil Erhan menuju rumah Genta. Untuk apalagi kalo bukan membatu Genta mencari apa yang di ingin kan lesta.
20 menit perjalanan mereka sampai dipekarangan rumah Adhitama. Turun dari mobil dan berjalan menghampiri pintu. Saat hendak memencet bel, pintu sudah lebih dulu dibuka dan menunjukan sosok Genta dengan setelan sudah siap untuk pergi.
"Langsung aja skuy" ajak Genta sambil menarik tangan Erhan dan Ralio.
"Pake mobil sapeh nih?" Tanya Ralio.
"Mobil Erhan, mobil gue udah di garasi. Entar bensin gue full in han kalem"
"Cakep, yang nyetir lo tapi nih kunci nya." Ucap Erhan sambil melempar kunci mobil nya kepada Genta.
Genta hanya bisa mendengus sambil membuka pintu kemudi, bukan karna mobil nya sudah di garasi tapi ia malas untuk menyetir itu alasan utama ia bilang memakai mobil Erhan. Tapi apa yang ia dapat? Malah ia yang menyetir, mana ia harus mengisi bensin pulteng. Penyesalan memang diakhir gengs.
Mulai berkeliling mencari pedagang buah, dari satu pedagang ke pedagang yang lain nya tapi tak kunjung dapat. Genta melirik arloji ditangan nya sudah menunjukan pukul 22.54 yang tanda nya hari sudah mulai menuju tengah malam. Melirik Erhan yang duduk disamping nya sudah mulai mengantuk dan melirik Ralio yang duduk dibelakang melalui kaca spion sudah bersandar pada jok sambil memejamkan mata. Ingin pulang, tapi 5 menit yang lalu ia baru mendapat pesan dari Mira- mamah nya, kalo Lesta tidak ingin makan apapun selain mangga muda yang warna oren itu.
Memberhentikan mobil nya dipinggir jalan, Genta menyenderkan badan nya ke jok sambil berfikiri kemana lagi ia harus mencari.
"Aing inget ajig" ucap Ralio keras dan tiba-tiba sambil mengebrak jok yang diduduki oleh Genta dan Erhan membuat sang empu terlonjak kaget.
"Kaget ajig , inget naon maneh? Inget mantan can diajak balikan hah?" Ucap Erhan kesal.
"Urusan ngajak mantan balikan mah udah basi, ini nih gue baru inget kalo rumah om gue yang di dago atas punya pohon mangga dan mangga nya warna oren kemerahan, yang muda nya juga warna oren walau agak ke kuning"
"Kenapa lo ga bilang dari tadi Ralio" geram Genta.
"Aing baru inget boss sori sori, dari tadi mikir nginget-nginget rumah siapa yang ada pohon mangganya dan baru inget barusan hehe"
"Yaudah langsung jalan kesana aja ge, mau tukeran nyetir ga sama gue?" Ucap Erhan melihat Genta yang mulai lelah.
"Ga usah , gue aja han. Lo tunjukin jalan nya ral, awas kalo nyasar"
"Siap bosqu"
Genta mulai menjalankan lagi mobil dan mengikuti arahan Ralio. 36 menit perjalanan, mereka sampai di tempat yang kata Ralio itu rumah om nya. Turun dari mobil, dan berjalan menuju pagar Ralio menelfon seseorang. Selang beberapa menit seorang pria paruh bayar keluar dari pintu rumah berjalan menghampiri pagar dan membuka nya.
"Kamu ini orang mah namu tuh siang bukan tengah malem gini" ucap pria paruh baya itu.
"Hehe iya nih om bini nya temen Ralio ada yang ngidam mangga muda tapi warna oren"
"Yaudah sini masuk-masuk, tapi yang muda masih pada diatas tuh harus naik dulu"
"Ga apa-apa om biar nanti si Genta naik ke atas berjuang untuk istri nya" ucap Ralio santai sambil menaik turun kan alis nya menatap Genta.
Mereka berdiri tepat didepan pohon mangga yang lumayan tinggi. Saling bertatapan satu sama lain hingga Erhan dan Ralio mundur satu langkah pertanda mempersilahkan Genta untuk naik ke atas sendiri mengambil mangga.
"Lo cuma minta bantu cari ya ge bukan minta bantu ngambilin" ucap Ralio mengingatkan.
"Iya gue tau, kaga usah diingetin ****" ucap Genta ketus yang hanya dibalas kekehan dari erhan dan Ralio.
Genta mulai melepas jaket dan sepatu nya menitipkan pada Erhan. Melirik sekeliling pohon berharap tidak ada sesuatu yang menyeramkan yang sering muncul di film film horor. Mulai mencari pijakan dan perlahan menaiki pohon mangga dengan disinari cahaya dari senter yang disorot oleh Ralio dari bawah. Memetik beberapa mangga dan melempar ke bawah yang langsung di tangkap oleh Erhan untuk di cek oleh om nya Ralio apa mangga itu matang atau muda.
"Yang ini mateng ge, cari yang lebih atas yang masih keras" teriak Ralio dari bawah.
"Demi istri yang lagi ngidam semangat ge. Berani berbuat kudu berani bertanggung jawab" teriak Erhan diselingi kekehan ringan.
"Sialan lo pada, yang atas banyak semut nya ini aja gue udah banyak kena ***** semut-semut nakal" gerutu Genta. Dan dibalas tawa gelegar dari Erhan, Ralio dan om Ralio.
Demi anak lo ge jangan kalah sama semut sialan. Ucap Genta dalam hati.
Mulai mencari pijakan untuk menaiki pohon lebih ke atas. Mengikuti ucapan Ralio Genta mencari mangga yang masih keras, dan ia mendapatkan sebanyak 5 buah mangga yang menurut nya keras. Memetik nya dan melemparnya lagi kebawah yang langsung ditangkap lagi oleh erhan.
"Ini muda semua ge, waktu nya turun bosqu" teriak Ralio.
Alhamdulillah. Ucap syukur Genta dalam hati sambil mengelus dada nya.
Saat hendak turun Genta melihat cahaya merah dari balik daun-daun yang tidak kena cahaya, memajukan sedikit kepala nya dan ia melihat seekor kelelawar sedang bertengger di dahan pohon melirik nya tajam.
"Anjing!!" Teriak Genta terkaget saat kelelawar itu terbang maju ke depan wajah nya membuat Genta refleks mundur kehilangan keseimbangan hingga terjatuh dari atas pohon.
Erhan dan Ralio? Hanya tertawa keras melihat Genta terjatuh dari atas pohon. Teman yang baik bukan? Menertawakan sampai puas baru menolong nya.
"Lo ga apa-apa ge?" Tanya Ralio sambil tertawa.
"Ga apa-apa bokap lo botak, sakit ini **** badan aeng" gerutu Genta sambil duduk dibantu oleh om nya Ralio.
"Lo juga tolol ngapain loncat dari atas sih, kan bisa turun kalem kaya tadi lo naik kalem hahaha" ucap Erhan.
"Lo pada yang tolol temen jatuh bukan dibantu malah diketawain sialan"
"Ngakak sumpah ge gue ga bisa berhenti ketawa, tau lo mau jatuh gue siapin kamera but vidio lo"
"Berisik jing!"
"Udah-udah hust kalian ini, kenapa nak Genta tadi lompat dari atas?" Tanya om nya Ralio lembut.
"Lah kelelewar, gue kira beneran anjing han tenyata kelelawar" ucap Ralio kepada Erhan yang berdiri disamping nya.
"Iyaa ral, gue kira beneran anjing yang Genta liat diatas pohon"
"Berisik!!" Geram genta. Berdiri dan membersihkan badan nya yang kotor karna kena tanah saat tadi ia jatuh. Memakain sepatu dan jaket nya lagi, mengambil semua mangga yang di petik tadi dan memisahkan antara yang matang dan muda.
Mengucapkan terima kasih lalu berjalan diam menghiraukan Erhan dan Ralio yang terus menertawai nya. Saat hendak membuka pintu kemudi Ralio langsung menahan nya dan menawarkan agar ia yang menyetir. Genta berjalan ke pintu kursi belakang dan duduk sambil merebahkan badan nya di punggung jok menahan sakit pada badan nya sambil memejamkan mata. Genta bersumpah dalam hati jika suatu saat nanti Erhan dan Ralio menikah lalu istri mereka ngidam mereka akan merasakan apa yang ia rasakan bahkan bisa jadi lebih parah, yah lebih parah dan Genta akan tertawa paling kencang bahkan lebih kencang dari tawa mereka tadi.
***
Brak. Duk. Bragh. duk duk.
Hosh. Hosh. Hosh.
"Ma-ah, ini mangga nya" ucap Genta terengah sambil menyodorkan mangga yang ia petik.
"Kenapa kalian pada lari lari, udah malem loh ini" tanya Mira sambil mengambil mangga dari tangan Genta.
"It-itu tan, ha-us minum dulu dong ta-an" ucap Ralio.
Mira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman anak nya itu. Mengajak mereka untuk ikut ke dapur, mengambilkan air putih yang langsung diminum habis oleh mereka bertiga. Ralio duduk menyenderkan tubuh nya pada kursi yang diikuti langsung oleh genta dan erhan.
"Ja.. di? Kalian kenapa?" Tanya Mira lagi.
"Ge? Udah pulang? Kenapa keringetan?" Tanya Lesta yang baru turun dari kamar karna mendengar suara ribut-ribut.
"Heem tadi liat setan" ucap Genta sambil memejamkan mata menikmati usapan pelan dikepala nya oleh Lesta.
"Setan? Mana ada kamu ini ngaco ge" ucap Mira tak percaya.
"Beneran tante tadi di belokan komplek ada setan, mana kita diuber uber lagi" Erhan menjawab omongan mira.
"Belokan komplek? Ga ada setan, ada nya orang gila yang suka pake baju putih rambut berantakan"
Bragh.
"Nah itu tante"
"Nah itu mah"
Jawab Genta, Erhan, dan Ralio sambil menegakan badan mereka dan menggebrak meja bersamaan.
"Astagfirullah" ucap Leesta dan Mira bersamaan kaget akan sikap mereka yang-tiba tiba sambil mengelus dada pelan.
"Itu mah orang gila, bukan setan. Kenapa juga kalian bisa di kejar-kejar kan kalian pake mobil"
"Si Ralio tuh, habis minum maen lempar botol keluar sembarangan. Ga tau nya kena kepala itu setan terus kaca belakang mobil di gedor gedor brutal. Nyeremin kaya setan" Ucap Genta sinis melirik Ralio yang entah sejak kapan ia mengupas mangga dan memakan nya sendiri.
"Terus kalian di kejar sampe mana ge?" Tanya Lesta pada Genta sambil mulai mengupas mangga muda di atas meja.
"Ampe depan gerbang, kaga tau dah masih didepan atau engga" jawab Genta.
"Mobil lo Erhan masih diluar yasalam, mampus ancur tuh sama set--" ucap Genta lagi tapi tak selesai karna terpotong oleh teguran mamah nya.
"Orang gila genta bukan setan, kamu ini mulut nya ge" tegur Mira.
"Sialan lo Ralio" umpat Erhan langsung bangkit dan berlari keluar rumah yang di ikuti oleh yang lain nya saat ingat mobil nya diparkir sembarangan di depan gerbang dan tadi mereka masuk melalui pintu khusus orang yang ada dipinggir.
"RALIO BABIIIII MOBIL GUE LECET BAZEEEENGGGGG" Teriak Erhan saat melihat kondisi mobil nya na'as. Banyak lecetan di body belakang dan samping, kaca belakang yang hampir pecah oleh pukulan batu, dan jangan lupakan spion yang hampir patah.
Yang lain? Hanya bisa tertawa terbahak melihat wajah kesal campur frustasi Erhan, sedang kan sang pelaku supir santai melahap mangga matang tanpa peduli teriakan dan umpatan yang di tujukan kepada nya.
***
2 Bulan semenjak tragedi mobil Erhan yang lecet dan sedikit ancur karna kecerobohan Ralio memarkir mobil seenak jidat, tidak pernah lagi Erhan mengizinkan siapapun meminjam atau menyetir mobilnya termasuk oleh kedua orang tua nya.
Sekarang mereka - Genta, Erhan, Ralio sedang berada di caffe nongki malam minggu. Awal nya hanya Erhan yang duduk dicaffe , tapi entah ada angin apa tiba-tiba Ralio pun datang sendiri dan langsung duduk didepan Erhan tanpa izin atau basa basi yang membuat Erhan cukup jengah. Pasalnya ia masih sangat sangat kesal kepada teman nya itu. karna tidak mau berduaan saja dengan Ralio, Erhan membujuk mati-matian Genta untuk keluar rumah dan datang menemaninya di caffe.
"Lo masih marah sama gue han? dari tadi gue ngebacot panjang kali lebar bagi tinggi kaga lu denger" ucap Ralio pada Erhan yang hanya dibalas tatapan jengah saja oleh Erhan.
"Udah lah ral, antepin aja entar juga baek lagi kaya biasa. Lo juga sih parah, tanggung jawab nya telat mana bayar nya nyicil lagi. Ngaku orang kaya eh taunya cuma fakir misqueen ternyata hahahaha" balas Genta yang membuat Ralio memanyunkan bibir nya semakin membuat Genta terbahak dan Erhan sekuat tenaga menahan tawa melihat wajah Ralio yang sudah seperti tokoh kartun bebek disney.
"Berisik ge, didatengin Aleya mampus lo" Ucap Ralio sinis dan refleks tanpa sadar menyebut nama seseorang dari masa lalunya Genta.
"Lo yang berisik ral" Bukan Genta yang membalas tapi Erhan, karna melihat Genta yang tiba-tiba diam dengan senyum sinis nya melanjutkan meminum jus alpukat milik nya. Ralio? dia pun terdiam dengan sesekali memukul kecil bibirnya saat sadar apa yang diucapkannya sedikit namun cukup fatal untuk seorang Gentara.
Suasana tiba-tiba canggung diantara mereka bertiga, masing-masing saling diam dengan peimikiran nya sendiri. Tapi, tak berselang lama Erhan memulai pembicaraan diantara mereka dengan membahas tugas kuliah, kegiatan akhir-akhir ini dalam menyambut UAS, sampai kehamilan Lesta yang mulai memasuki bulan ke-2.
Pukul 21.47 , Mereka bertiga baru keluar dari caffe menuju motor masing-masing. Mereka tidak janjian tapi herannya selalu sama dalam membawa kendaraan. Berjalan beriringan sambil berbincang, Ralio yang memang terkadang ceroboh tidak memperhatikan jalan menabrak seseorang didepan mereka yang sedang berbincang. Ralio meminta maaf dan membantu orang yang ia tabrak hingga terjatuh. Kaget. Mereka bertiga kaget saat melihat wajah orang itu, bahkan Ralio sampai refleks melepaskan pegangan tangannya yang membuat orang itu kembali terjatuh.
"Isshhh, Ralio sakit pantat gue" Teriak Aleya. Ya , Aleya Ateja Putri orang yang tidak sengaja Ralio tabrak.
"Sorry. Gue sengaja" Ujar Ralio datar nan dingin.
"Sialan lo Ral--. Ge? Genta?" Ucap Aleya yang awalnya akan mengumpati Ralio terhenti dan memanggil nama seseorang yang berdiri disamping Erhan, Genta.
"Gue duluan" Ucap Genta pada Erhan dan Ralio tak menghiraukan Aleya dan berjalan melanjutkan jalan nya menuju motor.