TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 18



"Gimana Ral? bisa?" Tanya Erhan pada Ralio.


"Kaga bisa han, samperin langsung aja gitu atau gimana ya?"


"Mau langsung kesana aja? Gue khawatir soalnya ga ada kabar banget dah beberapa hari ini." Ucap Erhan berdiri dari duduknya yang diikuti oleh Ralio.


"Skuy dah." Jawab Ralio berjalan beriringan dengan Erhan menuju parkiran.


Meski mereka berdua sahabat lucknut tapi bagaimanapun mereka tetaplah sahabat. Jika ada salah satu dari mereka yang tidak ada kabar sehari atau dua hari saja pasti mereka akan mencari tau, meskipun sering saling membully tapi mereka saling peduli. Salah satu moto persahabatan mereka adalah


"Sebejat-bejatnya jadi sahabat, tetep kudu peduli walaupun setiap hari saling bully"


dan mereka selalu ingat dengan moto persahabatan yang itu. Kini Erhan dan Ralio sedang dalam perjalanan menuju kediaman Adhitama dengan perasaan tak karuan. Entah lah apa yang terjadi atau akan terjadi, yang pasti sekarang perasaan mereka kaya peemen nano-nano geng.


***


Rehan segera menghampiri keluarga nya yang berkumpul diruang tengah, minus Genta yang mengurung diri dikamar. Dengan senyum yang dipaksakan diwajah nya ia duduk disamping Mira dan memeluk nya erat.


"Kita berdo'a terus ya mah dan jangan berhenti berusaha buat dapat kabar mereka." Rehan menghampus air mata Mira yang mulai keluar lagi.


"Masih belum bisa dihubungi pah?" Tanya Arfand pada Rehan yang dibalas sebuah gelengan kecil. "Apa Arfand cari aja kesana pah? Kasihan mamah. Pingin banget ngeliat cucu kembar nya yang hanya pernah mendengar suara tangis nya doang sekali tidak dengan wajahnya yang entah mirip siapa."


"Kamu harus ingat Arfand. Papah nya Lesta melarang kita untuk menyusul nya ke negara itu, terutama Genta. Ini hukuman bagi nya karna ia melupakan tanggung jawab nya sebagai suami dalam sekejap. Bahkan papah akui kesalahan yang Genta lakukan kali ini fatal sekali hampir melayangkan tiga nyawa." Tolak Rehan dengan keputusan Arfand yang bersikukuh untuk menyusul ke Jepang.


"Pah, Genta belum makan dari kemarin. Bujuk lah pah" Ucap Mira pelan.


"Mamah tau kan seminggu ini dia susah banget buat dengerin omongan orang lain. Semua orang dirum--"


Tok. Tok. Tok


"Assalamualaikum, Om Rehaaaaan? Tante Miraaaaaa?" Teriak Erhan dan Ralio silih berganti didepan pintu membuat omongan Rehan terpotong. Ia bangkit untuk membukakan pintu.


"Wa'alikum salam" Jawab Rehan saat sudah membuka pintu dan berhadapan dengan kedua teman anak nya itu.


"Mau nyari Genta. Ada dirumah? Di telfonin ga ngangkat-ngangkat. Disamper dari kemarin kosong terus ini rumah." Beo Ralio.


"Ada di atas, dikamar nya. Langsung aja masuk." Rehan mempersilahkan mereka yang langsung saja mereka turuti dan berjalan menaiki tangga tidak lupa menyapa anggota keluarga lain Genta yang berada di ruang tengah.


Tanpa mengetuk pintu, Ralio lancang masuk kedalam kamar namun baru dua langkah ia langsung terhenti melihat kamar yang biasa nya sangat rapih sekarang berantakan. Bahkan sang empu kamar tertidur di dekat jendela balkon meringkuk seperti orang-orang tak punya rumah dipinggir jalan. Meringis melihat kondisi saat ini, Ralio enggan menghampiri malah menarik Erhan untuk berjalan maju berbicara dengan Genta.


Sudah terbiasa di jadikan korban oleh sahabat nya yang itu, ia hanya bisa menghela nafas pelan dan berjalan hati-hati hingga berdiri disamping tubuh Genta. Meringis melihat kondisi Genta yang biasa bersih dan rapih namun sekarang sangat berantakan sekali bahkan mungkin ia belum mandi beberapa hari. Berjongkok dan menggoyangkan tubuh Genta untuk membangunkan nya cukup ampuh membuat Genta terbangun dan langsung terduduk menyender pada kaca tanpa berniat membuka mata.


"Lo? Udah berapa lama ga mandi ge?" Tanya Erhan yang hanya dibalas gelengan kecil dari Genta. "Ini kamar lo kenapa? Kena gempa? Kena butiran pesawat sukoy? Atau lo berantem sama kak Lesta mendatangkan perang dunia ke tujuh?" Lagi, Erhan hanya mendapat jawaban sebuah gelengan kecil dari Genta. "Terus kalo bukan ini semua kenapa? Kak Lesta mana? Dari awal masuk ga liat gue." Tanya Erhan lagi dan yang lagi lagi hanya dibalas sebuah gelengan kepala membuat Erhan mulai jengah.


Memanggil Ralio untuk mendekat dan membantu nya bertanya pada Genta, membuat si menyebalkan itu mau tak mau mendekat dengan misuh-misuh.


"Heh lo kalo di tanya yang bener napa ge, kita berdua khawatir sama lo. Lo pisah ranjang sama kek Lesta atau lo cere ama dia hm? Frustasi banget kek nya kaya duda baru ditinggal selingkuh tau ga!" Ucap Ralio asal namun mendapat sebuah anggukkan kepala dari Genta dan sebuah isakkan kecil.


Erhan dan Ralio saling pandang, mereka cukup kaget melihat respon Genta yang tetiba menangis dalam diam. Meski mata nya masih tertutup namun mereka tau jika Genta sadar 100%.


"Ge lo beneran cerai sama kak Lesta? Lo jadi duda? Diselingkuhin sama sapa dah lo? Emang bisa? Bukan nya kak Lesta lagi hamil dan sayang sama lo?" Tanya Erhan hati-hati membuat Genta membuka mata nya menatap dengan pandangan berkaca kaca.


"Semua nya kacau. Kacau gara-ara gue. Gue yang ngebuat kacau semua nya. Gue ga tau istri sama anak gue dimana. Tapi gue nerima surat gugatan cerai darinya." Ucap Genta lagi lagi membuat Erhan dan Ralio saling pandang tak percaya.


"Gimana bisa? Lo kan sama bini baek-baek adem tuh, napa bisa minta cere? Lo selingkuh balikan sama si leya ya? Parah lo ge par--" Ucapan Ralio terpotong karna Genta langsung menceritakan semua nya yang terjadi beberapa hari kebelakang pada rumah tangga nya itu. Erhan dan Ralio dengan seksama dan serius mendengarkan curhatan Genta tanpa berniat menyela atau memotong. Mereka cukup mengerti dengan kondisi sahabat nya itu, dan mereka jadi tau kemana sahabat nya itu selama beberapa hari sulit dihubungi.


"Belum. Kemarin gue sobek. Tapi tadi pagi datang lagi yang baru." Genta menunjuk amplop coklat di atas kasur king size milik nya.


"Mau gue bantu?" Tawar Erhan namun mendapat gelengan dari Genta.


"Semakin gue nyari, semakin gue di jauhin dari mereka." Genta meluruh tidak semangat kembali membaringkan tubuh nya.


"Biar gue cari tau dari Aleya gi--"


"Percuma. Lo liat aja hp gue, gue udah mohon-mohon ke dia buat ngasih tau dimana Lesta dan dia cuma jawab kalo ini semua hukuman buat gue" Genta memotong ucapan Erhan dengan nada datar nya.


Ralio dengan gercep mengambil hp Genta dan membuka semua pesan dari nomor Aleya namun benar yang diucapkan oleh Genta. Aleya hanya menjawab jika semua ini hukuman untuk Genta. Alih alih kembali menyimpan hp itu, Ralio termenung dengan satu nama kontak yang sangat-sangat ia kenali. Tara Puriani.


"Gue cukup tau kalo nama Tara didunia ini banyak. Tapi Tara Puriani? Jangan bilang kalo ini sahabat lo dari kecil itu?" Ucap Ralio dengan nada dingin nya.


Genta menelantangkan badan nya menghandap langit-langit kamar. Menatap Ralio yang menatap nya tajam, Genta mengangguk polos. Refleks Ralio melempar hp yang sedang ia genggam pada pemilik nya, membuat Genta meringis dan langsung terduduk.


"Apa-apaan lo bangke. Sakit ****." Genta meringisi mengelus perut nya yang tadi kena lemparan hp 20jt nya oleh Ralio.


"Kuy pergi dari sini han. Gue udah tau jawaban nya. Ga berguna. Biarin dia mati sekalian." Ralio menarik paksa Erhan untuk bangun dan berjalan keluar kamar. Namun tertahan karna Genta mencekal kedua tangan sahabat nya itu.


"Lo kenapa sih? Gue lagi frustasi bukan nya hibur gue malah ngomong kaya gitu. Bantuin gue cari solusi, jangan pergi kaya gini." Ucap Genta yang hanya di balas tatapan tajam nan meremehkan dari Ralio.


"Saran? Saran dari gue tanda-tangan aja itu surat cere. Lebih baik dari pada kaya gini. Gue kasian sama ka Lesta bisa-bisanya dapetin suami minus kaya lo!" Jawab Ralio dingin.


"Lo itu sahabat gue, kenapa lo malah minta gue buat setuju bercerai sama Lesta? Sahabat gue, Tara. Dia baru balik lagi dan dia ga pernah bersikap kaya lo berdua. Dia ada disamping gue, dia ngertiin gue ga kaya lo berdua. Dia minta gue buat mertahanin dan merjuangin istri sama anak gue. Tapi kenapa lo malah nyuruh gue buat tanda-tangan ******?" Sulut Genta mulai terpancing emosi.


"Oh jadi ini jawaban nya Ral? Gue mulai paham. Jadi sahabat lo si Tara itu udah balik lagi iya? Bagus. Tanda-tangan aja itu surat cerai. Gue sama Ralio lebih setuju lo jadi duda dan ga ketemu lagi sama kak Lesta." Erhan menarik tangan Ralio dan segera keluar dari kamar.


Genta mengejar dan mencoba mensejajarkan langkahnya dengan kedua sahabat nya itu. Mengucapkan kata-kata menyesal berharap mereka mau mengerti.


"PERCUMA LO PERTAHANIN RUMAH TANGGA LO KALO MASIH ADA TARA DIHIDUP LO!" Teriak Ralio sudah tidak tahan dengan sikap Genta membuat semua orang yang berada disitu terdiam, termasuk seorang wanita yang baru saja datang dan berdiri didepan pintu. "HARUS NYA LO TAU KESALAHAN LO GE. MAAF LO GA CUKUP BUAT NGEBALIKIN WAKTU! LO PERNAH KEHILANGAN ALEYA CUMA KARNA TARA. DAN SEKARANG LO NGULANGIN HAL YANG SAMA? ******! PANTAS ALEYA BILANG INI HUKUMAN BUAT LO. MIKIR *****. LIHAT DI HATI LO ADA SIAPA? LESTA ATAU TARA? PIKIR ***** PIKIR! OTAK LO PAKE BUAT MIKIR YANG BENER KALI-KALI TARA ITU LEBIH-LEBIH BEEBAHAYA DARI PADA ALEYA! DENGAN SEKEJAP DIA BISA BUAT RUMAH TANGGA LO GOYAH, COBA LO FIKIR GE CERNA SEMUANYA!!" Erhan sedikit menarik Ralio menjauh dari Genta dan meminta Arfand untuk menjaga karna Ralio yang emosi sulit ditebak.


"Lo harus nya sadar ge. Sekarang gue tau maksud dari kata 'temen' yang tadi lo maksud dalam cerita lo itu Tara gue paham akan segala nya. Di hati lo cuma ada Tara. Dari dulu lo cuma bisa lupa diri pas sama Tara. Alih-alih Aleya pacar pertama lo, tapi dia bukan cinta pertama lo. Lo cuma cinta sama Tara, atau mungkin obsesi? Sadar ge. Lepasin kak Lesta kalo lo masih kaya gini. Liat dihati lo, sebenernya siapa yang penting dan pantes buat bersanding sama lo!" Ucap Erhan dingin.


"Ini ga ada hubungannya sama Tara. Ga usah bawa bawa dia yang ga tau apa-apa!" Genta membalas dengan nada cukup tinggi.


"Dia emang ga tau apa-apa. Tapi setiap lo sama dia, semua orang menjadi bukan apa-apa. Lo selalu lupa akan semua nya kalo bareng dia. Bisa gue bilang kalo dia itu, kebahagiaan sekaligus penderitaan buat lo."


"Jaga omongan lo Erhan." Genta menunjuk Erhan dengan jari telunjuk nya yang langsung Erhan tepis dengan remeh.


"Buka mata lo lebar-lebar. Siapa yang sebener nya lo butuhin dan lo cintai. Lesta, istri lo. Atau Tara, sahabat lo." Erhan terdiam sejenak memberikan senyum remeh. "Dan lo harus bisa liat, sebener nya lo itu cinta atau cuma obsesi sama seorang Tara Puriani." Lanjutnya.


"LO---"


"Tanyain sama hati lo yang paling dalam ge. Gue cukup ga suka sama Aleya karna dulu ngeduain lo, tapi gue cukup ngerti alasan dibalik itu. Dan sekarang kak Lesta masih kritis tapi orang tua nya udah nurunin surat gugatan cerai. Lo fikir apa yang dirasain om Rzia sampe tanpa fikir panjang ngegugat cerai lo?" Ralio menjeda ucapan nya dan bertepuk tangan dengan keras dihadapan Genta. Merangkul pundak sahabat nya itu untuk menghadap seseorang yang berdiri didepan pintu yang terbuka. "Inti masalah nya masih sama. Dia. Tara Puriani." Lanjutnya sambil menunjuk Tara tanpa minat.


Ralio melepaskan rangkulan nya dan berdiri di samping Erhan. Berpamitan pada semua orang kecuali Genta yang masih terdiam bak patung. Mereka berdua berjalan menuju pintu, namun langkah nya terhenti tepat didepan Tara. Ralio membalikan badan nya menghadap ke dalam saat membuka sebuah pesan dari seseorang yang tadi ia hubungi disela-sela perdebatan Genta dan Erhan.


"Percaya sama gue. Lo ga akan pernah ketemu sama anak lo, kalo masih ada Tara di samping lo." Teriak Ralio sangat jelas di pendengaran semua orang. "Om, mulai beetindak sekarang kalo masih mau ketemu sama si kembar Albaransyah dan Alcalandra. Mereka udah ga ada dijepang dan pastinya posisi mereka saat ini semakin jauh buat dikejar. Just info." Ralio membalikkan badan nya dan berjalan meninggalkan Erhan yang masih berdiri di depan Tara.


"Selamat. Lo berhasil mengambil Genta lo kembali Tara. Diri lo sukses mengembalikan obsesi seorang Gentara kepada lo. Gue cuma berharap lo cepet dapet karma dari tuhan." Bisik Erhan sebelum berlalu menyusul Ralio.


Salah lagi? Apa aku harus pergi lagi? Ga bisa kah aku hidup bersama Genta sebagai sepasang kekasih?. Lirih Tara dalam hati namun ia masih memaksakkan senyum nya dan pamit pergi padahal ia baru sampai dengan alasan urusan mendadak, padahal ia cukup tau situasi.