
Daniel Spencer
Hari menjelang malam,seperti biasa aku masih sibuk dengan berbagai macam pekerjaan. Mungkin bagi sebagian orang akan mengeluh,tapi menurutku pekerjaan ini menyenangkan apalagi tidak semua orang bisa berada diposisiku. Berbicara tentang atasan, atasku sangatlah menyebalkan tapi dilain sisi dia juga wanita yang tangguh.
"Daniel,saya akan pulang. Setelah ini pulanglah." Ucap Nathalie
"Hati-hati dijalan," jawabku sambil menundukan kepala.
Dia berlalu meninggalkanku. Ini waktunya pulang,aku mematikan komputer dan merapikan sedikit berkas diatas meja.
Psstt..
"Apa ada yang ketinggalan??" Tanyaku tanpa melihat orang didepanku.
"Ini saya, Serra. Apakah Athlie sudah kembali??"
Aku mengangkat kepalaku, dan ternyata orang didepanku bukan Nathalie. "Ah Nona Serra,ada apa kembali?? Nathalie baru saja kembali."
"Begini,tunggu sebentar saya akan menghubungi Nio."
Aku melihat wanita yang bernama Serra ini mengambil ponselnya,lalu berbicara sebentar dan menutupnya.
"Jadi begini,malam ini saya bersama kakak saya akan mengadakan party untuk Athlie."
"Lalu hubungannya dengan saya??"
"Kau bisakan menghubungi beberapa pegawai kantor ini. Anggap saja saya mengundang kalian untuk hadir."
Pintu lift berbunyi,terlihat seorang pria keluar dari lift itu.
"Bagaimana??Sudah kau katakan tujuan kita??" Tanya Anthonio
"Sudah, Daniel akan membantu kita menghubungi beberapa pegawai."
Dari tadi aku hanya memperhatikan kedua kakak beradik ini berbincang, "Apa itu saja yang harus saya lakukan?"
"Satu lagi,kau harus menjemput Athlie. Jika dia tidak mau katakan saja ada client yang ingin bertemu." Jawab Serra yang diikuti anggukan oleh kakaknya.
Aku mengeryitkan dahi, "Kenapa harus saya yang menjemput. Saya tidak memiliki kendaraan."
"Aku harus menabungnya, dan juga apartemen tempat tinggal saya lumayan mahal karna tidak begitu jauh dari kantor."
"Baiklah, kau bawa saja mobil ini. Nanti saya pergi bersama Serra."
Akhirnya kami semua sudah sepakat, aku meninggalkan pelataran kantor menggunakan kendaraan milik Anthonio.
Lumayan juga, kapan lagi bisa memakai mobil secara gratis. Hitung-hitung menghemat uang.
******
Dilain sisi, Nathalie baru saja sampai dirumahnya. Penjaga dengan sigap membukakan pintu bagi majikan mereka. Nathalie turun dari mobilnya sambil menenteng tas kerjanya juga papperbag, ia melihat beberapa pelayan telah menyambutnya.
"Selamat malam Nona,selamat datang." Ucap para pelayan sambil membungkukkan badan mereka.
Nath hanya berjalan melewati mereka tanpa berkata apapun. Namun langkahnya terhenti saat mendengar namanya terucap.
"'Happy Birthday Nathalie sayang."
Nath membalikkan badannya, ia terkejut melihat ibunya berada didepannya sambil memegang sekotak kue yang dihiasi lilin. Disamping ibunya terlihat juga ayah beserta kakaknya.
"Mama"
Tas beserta papperbag yang dipegangnya tiba-tiba jatuh begitu saja. Airmatanya menetes melihat pemandangan didepannya, orang yang disayanginya berdiri dengan senyuman indah.
"Nona anda baik-baik saja??"
Seakan terbangun dari lamunannya Nathalie mencari-cari sosok ibu,ayah beserta kakaknya. Namun yang dia dapatkan hanyalah pengawal juga pelayannya sedang memegang sebuah kue.
Dengan rasa kecewa dan marah Nath mendekat kearah mereka semua. Nath menepis kue itu hingga terjatuh dilantai,beberapa orang pelayannya bahkan kaget melihat apa yang majikannya lakukan.
"Jangan ada seorangpun yang melakukan hal ini lagi. Jika saya melihatnya saya akan pastikan kalian akan saya pecat dengan tidak hormat.'' Setelah mengucapkan kalimat yang cukup pedas itu Nath mengambil tas juga papperbag dan naik keatas menuju kamarnya.
"*Nona Nath tidak memiliki hati,padahal bibi Anna telah susah payah membuatkan kue itu untuknya."
"Pantas saja dia kehilangan orangtuanya,orangnya saja tidak sopan seperti itu."
"Jangan berbicara seperti itu,kalian tidak mengenalnya dengan baik. Jagalah sikap kalian jika ingin bertahan disini." Ucap Anna yang adalah kepala pelayan. Sudah bertahun-tahun ia bekerja dengan keluarga Prime*.