
Siang harinya Daniel mengajak Nathalie untuk berkeliling Sitka. Kini mereka berdua sudah berada diatas boat dengan Daniel yang mengendarainya.
"Seharusnya kau istirahat dulu. Mukamu sangat jelek, dan kau dengan percaya dirinya keluar." Cibir Nath.
"Ini sudah biasa Nath, tidak perlu khawatir aku tetap terlihat tampan. Apa gunanya kacamata dan masker diciptakan." Jawab Daniel.
"Terserah kau saja."
Mereka akhirnya tiba dipelabuhan. Daniel membantu Nathalie turun dari boat. Daniel berjalan lebih dulu mencari mobil mereka, setelahnya menemukannya ia membukakan pintu untuk Nathalie.
"Bagaimana kalau kita makan dulu? Kau pasti sudah lapar." Tanya Daniel.
"Terserah saja. Aku ikut kemana kau membawaku."
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi. Mereka membelah kota di temani dengan alunan musik yang bergema. Setengah jam kemudian keduanya sampai disalah satu restaurant yang cukup mewah dengan interior yang menarik mata. Mereka berdua masuk kedalam dan memesan.
"Disini steak mereka enak. Dulu aku beberapa kali makan disini."
"Oh kau sering makan daging? Tidak heran saat melihat badanmu."
"Maksudmu aku gendut??"
"Aku tidak bilang gendut."
"Sama saja Nath, kau terdengar mengejekku."
Permisi ini pesanannya.
"Ah ya silahkan."
Keduanya memutuskan untuk berhenti berdebat. Daniel sibuk memotong daging dan Nathalie sibuk memperhatikan Daniel.
"Sepertinya yang kelihatan lapar adalah dirimu."
Daniel tertawa, ia mengangkat piringnya dan mengganti piring Nathalie dengan miliknya. "Dagingnya lumayan keras."
"Kenapa kau yang memotongnya, kau kira aku tidak bisa potong sendiri hah?"
"Aku tidak ingin saja kau kesusahan memotongnya. Hanya mempermudah saja, makanlah."
"Nath ada permen kapas, kau mau?" Daniel mencari sesuatu sambil merabah kantong belakangnya.
"Tidak, sedang tidak ingin."
"Nath, pergilah beli permen kapasmu. Aku pergi sebentar, aku akan kembali." Kata Daniel dengan pelan sambil berjalan pergi.
Nathalie memutuskan menunggu Daniel disebuah taman yang tidak jauh dari tempat membeli permen kapas. Ia melihat pembungkus permen itu kemudian membukanya. Sudah lama ia tidak memakan permen ini.
Karna merasa bosan Nathalie bangkit berdiri dan menyusuri taman indah itu. Samar-samar ia menangkap siluet orang yang dikenalnya.
"*Kenapa kau meninggalkanku?? kau bilang mencintaiku?!"
"Aku punya satu alasan yang tidak bisa aku kemukakan. Tapi perlu kau ketahui aku mencintaimu*---"
Nath memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke tempat duduknya. Ia tidak ingin mendengar kembali perbincangan mereka, entah mengapa hatinya merasa sakit mendengar Daniel masih mencintai mantan kekasihnya itu.
Dilain sisi Daniel menyelesaikan perkataannya yang belum selesai. "Aku mencintaimu, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah bersama Nathalie. Aku sangat menyayanginya bahkan lebih menyayanginya."
Gadis itu menangis, meninggalkan Daniel yang masih setia ditempatnya. Daniel menarik nafas pendek dan menghembuskannya perlahan, benar ia sudah terpikat oleh Nathalie bosnya sendiri.
Tidak ingin membuang waktu Daniel pergi mencari Nathalie. Setelah menemukannya Daniel tersenyum dan menghampirinya. "Ayo Nath kita kembali."
"Oh kau sudah kembali??"
"Tentu saja. Ah jangan bilang kau kangen karna beberapa saat tidak melihatku??"
Nathalie membolakan matanya, pria didepannya ini sangat menyebalkan. "Tingkat kepercayaan dirimu ini membuatku ingin muntah."
"Hahah jangan muntah dulu sayang, aku bahkan belum menanamkan benihku." Daniel tertawa sambil memegang perutnya. Menggoda Nathalie itu sangat menyenangkan.
"Dasar pria kurang ajar, mesum enyahlah kau dari bumi ini!!" teriak Nathalie.
"Kalau tidak ada aku, siapa yang akan bertanggung jawab padamu, sayangku??"
"DANIEL SIALAN!!!!"