The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
16



Daniel memasuki rumah sakit dengan berlari kencang, ia terus menggendong Nathalie. Setibanya di Ugd ia segera membaringkan Nathalie untuk diperiksa lebih lanjut.


Jantung Daniel cukup berdebar sembari menunggu dokter memeriksa keadaan Nath.


"Bagaimana Athlie?? Apa sudah di tangani?" Tanya Serra yang baru saja tiba beraama Nio.


"Dia masih diperiksa dokter, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu."


"Kenapa bisa dia mema---" Sebelum Serra selesai berbicara dokter yang menangani Nathalie keluar.


"Keluarga Nona Nathalie"


"Iya dok, bagaimana keadaannya??"


"Dia hanya terkena alergi, sepertinya dia memakan makanan yang mengandung kacang. Tapi saat ini keadaanya sudah membaik, saya juga sudah menyuntikkan obat agar alerginya hilang" Ucap dokter sambil tersenyum dan menepuk pundak Daniel.


"Terima kasih dok"


"Jangan lupa perhatikan apa yang dikonsumsinya. Agar hal seperti ini tidak terulang lagi."


"Baik dokter, sekali lagi terima kasih"


Setelah dokter pergi, mereka masuk kedalam untuk melihat keadaan Nathalie. Serra merasa kasihan melihat keadaan Nath, mukanya pucat dan terdapat titik-titik merah.


"Kak Nio sebaiknya pulang, biar aku yang jaga Athlie." Ucap Serra pada kakaknya


"Biar kakak saja, kamu pulang dan beristirahat." Jawab Nio


"Kalian berdua pulang saja, biar saya yang menjaga Nathalie." Sela Daniel ditengah perbincangan kakak beradik itu.


"Baiklah kami titip Athlie, besok kami akan kesini lagi. Dan soal acara perusahaan kami akan tangani." Jelas Nio sembari merangkul Serra.


"Terima kasih atas bantuannya. Saya akan menghubungi rekan saya disana agar mengalihkan tanggung jawab kepada kalian."


*****


Mata indah itu perlahan mulai terbuka. Cahaya yang terang menyambut penglihatannya. Seingat Nathalie tadi ia masih berada ditempat acara perusahaannya, tapi setelah bangun ia tersadar bahwa ini kamar rumah sakit.


Nathalie berusaha menggerakan tangannya namun tidak bisa. Ia melihat Daniel tertidur sambil menggenggam tangannya.


"Daniel, lepaskan tanganku" Guman Nath dengan suara rendah.


Perlahan Daniel terbangun, ia mengumpulkan kesadarannya sebelum bertanya "Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan? Apa harus ku panggilkan dokter??" Tanya Daniel.


Nathalie hanya diam. Ia menatap pakaian Daniel, pria itu masih memakai setelannya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. "Aku ingin pulang" Ucap Nath dan berniat untuk berdiri.


"Jangan bergerak, kau masih butuh istirahat" Perintah Daniel sambil melarangnya untuk bangun. Ia hanya ingin Nath sembuh secara total.


"Sudahlah Daniel, cepat urus semuanya. Aku tidak ingin berlama-lama disini, lebih baik kita ke apartemenmu." Jelas Nathalie dengan tegas sambil menatap Daniel.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, Daniel memutuskan untuk menghubungi dokter dan meminta untuk Nathalie rawat jalan saja. Dan dengan persetujuan dokter mereka akhirnya pulang keapartemen Daniel. Ia tidak menolak saat Nath meminta untuk pergi kerumahnya.


"Apartemenmu sepertinya sangat kecil, susah untuk bernafas disini" Ejek Nath saat memasuki apartemen Daniel.


Daniel tertawa menanggapinya, ia tau itu singgungan untuknya. "Terima kasih atas pujianmu nona, aku sangat TERHORMAT kau ingin menginap ditempat kecil seperti ini."


"Dimana kamarnya?? Aku ingin beristirahat" Tanya Nath.


"Perlu diketahui bahwa kamar disini hanya ada satu, maka dari itu nona Nathalie yang terhormat anda malam ini akan tidur disofa." Jawab Daniel sambil meninggalkan Nath didepan sofa.


"Dasar pria tidak gentle, bisanya membiarkan gadis sepertiku tidur di sofa" Teriaknya sambil duduk disofa.


Nath menggerutu sambil membaringkan badannya disofa. Ia menerawang keatas, ulang tahun perusahaan sudah lewat itu artinya ia harus segera menikah. Memikirkannya saja sudah membuat Nathalie hampir stress, mungkin bagi sebagian orang mencari pasangan itu mudah, apalagi ia orang yang sangat terkenal. Sangat mudah untuk mendapatkan apa yang ia mau.