The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
1



Nath menatap jam tangannya,ia menghembuskan nafas pelan,sudah beberapa jam dia duduk dan memeriksa berkas. Minuman yang dibeli asistennya telah habis dari beberapa jam yang lalu.


Ia meregangkan otot-ototnya lalu berdiri,tidak lupa mengambil handphone berlogo apel itu. Ia mulai berjalan keluar. "Daniel saya akan pergi makan siang,jika ada sesuatu langsung hubungi saya."


"Baik nona, jika ada yang penting saya akan langsung menghubungi anda." Daniel berkata tanpa menatap lawan bicaranya.


"Daniel!!" Teriak Nath dengan kencang.


Daniel yang terkejut spontan berdiri dan menatap wanita didepannya ini. "Kenapa kau berteriak seperti itu!!" Daniel menatap tajam bos didepannya


"Apa katamu?! Beraninya kau berbicara seperti itu padaku!!"


"Kau membuatku kaget,sudah kukatakan aku mendengarnya,dan kau malah berteriak padaku."


"Kau!!.."


Perdebatan mereka terhenti oleh bunyi dering telfon dari handphone Daniel.


"Halo,Mom." Ucapnya begitu panggilan tersambung.


"......."


"Akan ku usahakan,kau tau diakan, kembaran singa."


"......"


"Grandma akan menjadi urusanku."


"......"


"Ya,aku tau,Mom selalu mengulanginya beberapa tahun ini."


"......"


"Sudah ya,aku mencintaimu." Ia menutup panggilan tersebut,dan ternyata gadis itu masih didepannya.


"Nona bisakah saya cuti,minggu depan ulangtahun grandma saya. Grandma saya menginginkan saya untuk datang." Kali ini dia harus berhasil membuat bosnya mengijinkannya untuk cuti.


"TIDAK!!"


"Saya akan tetap pergi,dengan atau tanpa izin anda."


"Saya tidak peduli,saya tetap akan pergi."


"Baiklah,terserah padamu,dan setelah itu akan saya jamin anda tidak akan pernah memiliki pekerjaan,dimanapun anda berada."  Setelah selesai mengutarakan keinginannya Nath pergi begitu saja dari hadapan Daniel.


"Dasar wanita sialan,awas saja kau." Ia mengumpat beberapa kali dalam hatinya,gadis itu memang membuatnya kesal.


Daniel lantas menulis pesan dan mengirimkan pesan itu pada ibunya bahwa ia tidak bisa datang.


*****


Ditempat lain Nathalie baru saja sampai disebuah restaurant,ia disambut ramah para pelayan disana. Matanya mulai mencari makanan apa yang cocok ia makan disiang hari ini.


Setelah memesan makanan dan minuman,ia kembali menunggu selama beberapa menit sebelum makanan itu di sajikan.


30 menit dia habiskan untuk makan dan minum. Saat akan meminta bill,ia mencari tasnya untuk mengambil dompet,namun sayangnya ia tidak menemukan tasnya.


Beberapa menit berpikir dia baru teringat bahwa dirinya tidak membawa tas,itu berarti dia tidak membawa dompet.


"Damn it." Semua pasang mata yang ada di restauran itu memperhatikannya dengan saksama.


Beberapa diantaranya mulai membicarakan dirinya yang tidak sopan,ada juga yang tidak ambil pusing dan kembali melanjutkan kegiatan makan mereka.


Nathalie mengambil handphone nya dan mendial nomor asistennya. Dengan sabar dia menunggu panggilannya diangkat namun sampai dering terakhir panggilan itu tak kunjung diangkat.


Dalam hati ia sudah mengumpat beberapa kali,kenapa disaat genting begini asistennya malah membuatnya kesal. Tak habis akal ia menghubungi HRD dikantornya, begitu panggilan terhubung ia langsung meminta untuk disambungkan pada asistennya.


"Daniel!! Kenapa tidak mengangkat panggilanku" Begitu panggilan terhubung ia langsung menyerang Daniel dengan kata-kata yang membuat orang diujung telfon sana menjauhkan telefon itu dari telinganya.


"Kenapa kau teriak,saya tidak tuli nona yang terhormat."


"Sekarang kau datang kesini,aku akan mengirimkan alamatnya."


"Kau lupa? Saya tidak memiliki kendaraan,jadi tidak bisa kesana nona."


"Kau bodoh?naik taxi,ternyata otakmu tidak berguna."


"Sialan kau,cepat kirim alamatnya atau aku tidak akan datang." Daniel memutuskan panggilan tersebut dan bergegas pergi ke tempat bosnya.