The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
25



Seperti biasa pagi ini semua penghuni rumah terbangun karena adegan anak dan ayah. Bagaimana tidak,waktu menunjukkan pukul 7am dan mereka berdua sudah adu pukul didepan tangga.


Daniel sudah mendapat beberapa memar disekitar rahangnya,dan juga bibirnya pecah. Namun sang ayah masih terus memberinya pukulan.


Taylor dan Annie sudah lelah untuk memisahkan mereka. Sedangkan Nathalie berusaha memikirkan cara untuk melerai mereka, sudut mata Nathalie menangkap Chris sedang mengambil tongkat baseball dan dengan cepat mengayunkannya kearah Daniel yang terkapar dibawah.


Secepat mungkin Nathalie berlari dan memeluk tubuh Daniel, "Awas" teriak Nath.


Buugh


Tubuh Nathalie ambruk dipelukan Daniel, gadis itu merelakan tubuhnya agar dapat menyelamatkan Daniel dari pukulan sang ayah. Taylor yang melihat itu berteriak histeris dan mendoronh suaminya.


"Apa yang kau lakukan, Chris?! Kau sangat keterlaluan." Teriak Taylor.


"Nath..Nath, bangun sayang." Panggil Daniel sambil mengusap pipi gadisnya dengan perlahan.


"Taylor, telfon Jimmy sekarang juga."


"Baik mom, Daniel ayo bawa Nathalie ke kamar."


Daniel meletakan Nathalie ditempat tidur dengan perlahan, sesekali ia mencium punggung tangan gadis itu sambil berdoa agar gadisnya tidak mengalami hal yang serius.


Taylor datang bersama seorang pria, yang adalah dokter keluarga mereka. Pria bernama Jimmy itu dengan segera mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa Nathalie. Tak lupa juga iya membalikan tubuh Nathalie untuk melihat keadaan punggungnya.


"Nona Nathalie hanya kaget, makanya pingsan. Dan juga untuk memar dipunggungnya saya akan memberikan salep. Salep ini berguna untuk menghilangkan nyeri, usapkan ini pada punggungnya secukupnya." Jelas Jimmy panjang lebar, setelah selesai Jimmy pamit dan diantar oleh Taylor.


****


Mata indah itu perlahan menampakkan dirinya, objek pertama yang dilihatnya adalah seorang pria sedang tidur sambil menggenggam tangannya. Gadis itu perlahan melepaskan genggaman itu, namun sayang gerakan kecil itu menyebabkan Daniel bangun.


"Aku baik-baik saja, hanya punggungku terasa sakit."


"Berbaliklah, aku akan mengoleskan salep dari dokter."


"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri."


"Jangan keras kepala disaat seperti ini Nath. Biarkan aku mengobatimu." Suara Daniel melembut dan menampilkan senyuman hangatnya yang membuat Nathalie luluh seketika.


Akhirnya Daniel menarik sedikit pakaian Nathalie keatas, dengan perlahan Daniel mengoleskan salep itu sembari meniup-niup belas salep yang di olesnya. "Maafkan aku Nath, seharusnya aku yang merasakan sakit bukan dirimu." Sesal Daniel dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Daniel, aku memang ingin menolongmu. Tidak perlu merasa sungkan."


"Terima kasih Nath, terima kasih telah menolongku." Daniel tersenyum kepada Nathalie. Gadis itu telah menjadi penolongnya kali ini.


"Aku akan pergi ke suatu tempat, jangan lupa istirahat Nath. Aku akan segera kembali.''


Nathalie mengganggukan kepalanya dan kembali beristirahat. Sedangkan Daniel mengambil jaketnya kemudian meninggalkan gadis itu dikamar.


****


Seorang pria berdiri didepan sebuah nisan. Pria itu sedikit membersihkan debu yang menempel. Ia juga menaruh bunga Lily didepan foto seorang wanita, wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Setetes demi setetes air jatuh dari matanya, pria itu menangis, menumpahkan segala keluh kesahnya lewat air mata.


"Aku datang. Maaf beberapa tahun ini tidak pernah berkunjung, aku sangat merindukanmu. Datang ke sini seperti menggali lagi kesakitan yang sudah aku alami."


"Aku.. Aku kehilangan arah. Aku tidak tau bagaimana menjalani hidup dengan benar, aku, aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan nasehatmu, aku membutuhkan peluk hangatmu."


"Aku benar-benar membutuhkanmu, Mami."