
Daniel meniup uap yang ada diatas gelas susu putihnya sembari menatap Nath yang tertidur di sofa. Memang benar apartemennya cukup kecil bila dibandingkan dengan kediaman Nathalie. Tapi setidaknya selama beberapa tahun ini, tempat ini adalah tempat ternyamannya.
Kedua mata Daniel menatap Nathalie yang tidur dengan nyenyaknya, sekilas ia mengakui bahwa Nathalie itu sangat cantik, mata yang indah, body yang proposional semua yang dimiliki gadis itu nyaris sempurna. Mungkin dulu ketika Tuhan menciptakan Nathalie Tuhan sedang bahagia.
Daniel kemudian meletakan gelas susunya dan mengangkat Nathalie menuju kamar. Biar bagaimanapun ia tidak tega jika seorang gadis tidur disofa, rasanya sangat tidak nyaman. Daniel tersenyum, tangannya bergegas merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Nathalie.
Seakan tersadar Daniel memilih keluar dari kamarnya dan memilih tidur disofa.
****
Perlahan mentari memunculkan sinarnya, membuat cahaya memasuki cela-cela gorden dikamar itu. Sambil menggeram gadis itu bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidur berwarna biru itu.
Ia kemudian menatap sekelilingnya. "Ini bukan kamarku," Ucapnya sadar sambil menengok kesegala arah. Kemudian beberapa reka ulang kejadian mampir ke kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan? Apa harus ku panggilkan dokter??"
"Aku ingin pulang"
"Jangan bergerak, kau masih butuh istirahat"
"*Sudahlah Daniel, cepat urus semuanya. Aku tidak ingin berlama-lama disini, lebih baik kita ke apartemenmu."
"Dasar menyusahkan untuk saja kau perempuan, kalau kau seorang pria mana mau aku mengalah dan meminjamkanmu kamarku*."
Setelah mengingat semuanya Nathalie bergegas keluar, ia berjalan kearah dapur dan menemukan Daniel sedang menyiapkan sesuatu.
"Daniel?"
"Oh kau, duduklah dan makan supmu. Itu akan membuat badanmu sedikit mendingan."
Tanpa banyak bicara Nath duduk dikursi yang sudah tersedia dan memakan sup buatan Daniel. "Ternyata masakanmu lumayan enak, apa kau tidak ingin mengganti profesi menjadi koki saja??"
"Setelah ini kita langsung ke kantor."
"Baiklah habiskan makananmu. Tapi apa kau akan kekantor dengan pakaian seperti ini??"
Nath menatap pakaiannya, ini pakaian yang kemarin dikenakannya saat acara. Setelah kembali dari rumah sakit Nath tidak sempat berganti pakaian. "Nanti akan ku ganti dikantor, disana ada pakaianku."
Mereka kemudian kembali menghabiskan sarapan. Tidak ada lagi yang membuka suara.
****
Marco calling...
Nathalie menatap kearah jendela kaca didepannya. Dari sini ia dapat melihat kendaraan dibawah berlalu lalang. Ia merasa sangat pusing sekarang, Liam yang datang kembali serta Marco yang terus menelfonnya untuk menepati wasiat yang ayahnya titipkan.
Rasanya ia ingin mengakhiri semua ini, tapi ia kembali teringat perkataan Marco bahwa semua bawahan menjadi tanggung jawabnya. Bagaimana ketika dia nanti menyerah, bagaimana nanti para pegawainya, apa yang akan dilakukannya. Semua itu membuat kepala Nath ingin pecah.
Tok..tok..tok..
"Masuk"
Suara derap kaki menyambut pendengaran Nathalie, gadis itu membalikan badannya dan melihat siapa yang datang. Betapa terkejutnya ia melihat Marco di hadapannya, ia pikir Marco hanya akan selalu menelfonnya tapi ternyata hari ini Marco datang.
"Ada keperluan apa Marco??" Tanya Nath to the point, jujur dia sudah tau apa yang akan Marco sampaikan padanya.
"Saya ingin meminta jawabanmu, apakah kau sudah memutuskan apa yang akan kau lakukan??"
"Beri saya waktu seminggu lagi, dan saya akan benar-benar memutuskan apa yang akan saya lakukan." Jawabnya sambil menatap Marco