The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
26



*Flashback


Seorang anak kecil tengah bersandagurau bersama ibunya. Keduanya terlihat sangat bahagia, anak itu bahkan menceritakan beberapa hal yang dialaminya disekolah.


"Mi, apa aku dan Gisella sudah bertunangan?" Tanya anak kecil bernama Daniel itu.


"Tentu saja tidak sayang, pernikahanmu adalah pilihanmu. Mami sama sekali tidak akan melarang kamu menikah dengan siapa saja." Jelas wanita itu sambil membelai rambut anaknya.


Wajah Daniel kecil berubah menjadi cemberut, "Tapi Giselle selalu menyebar berita bahwa kami bertunangan. Dan itu sangat menyebalkan Mi."


"Mungkin itu karna dia menyukaimu, lagipula kalian sudah berteman dari kecil."


Daniel berdiri dari sofanya dan menghentakan kakinya kelantai, "Aku tidak menyukainya, bahkan sampai kami besar."


"Iya, sudah ya. Jangan begitu lagi, sebaiknya kita makan. Mami sudah membuat makanan kesukaanmu."


"Hore, ayo mami kita makan." Teriak Daniel dengan berlari kearah ruang makan.


****


"Daniel!!" Teriakan menggelegar itu membuat sang empunya nama keluar dari kamarnya. Dengan sedikit berlari Daniel menghampiri ayahnya.


Srakkk


"Apa-apaan ini Daniel?"


"Pa-- itu, aku minta maaf pah. Daniel janji tidak akan seperti itu lagi." Ucap Daniel menundukkan kepala.


"Kenapa nilaimu jadi begini? Papa sudah bilang jangan sering bermain. Apa kata orang nanti jika mengetahui papa memiliki anak bodoh sepertimu, hah?!"


"Ada apa ini, Chris." Tanya Halsey pada suaminya.


Halsey mendekat pada putranya yang sudah meneteskan airmata. Ia memeluk erat putranya dan membisikkan sesuatu disana. Beberapa saat kemudian Daniel kembali kekamarnya sambil tersedu-sedu.


"Apa harus seperti ini, Chris? Apa semua obsesimu harus kau lampiaskan pada anakmu? Mendapat nilai 90 sudah cukup bagus, ada fase dimana anak mendapat nilai tinggi dan rendah. Seharusnya kau paham tentang itu, Chris."


Chris berdecak tidak suka, "Aku mendidiknya seperti itu agar dia sukses kedepannya. Bukan menjadi anak yang tidak berguna dan manja seperti yang kau ajarkan."


Plakk


"Kau tau, mulutmu itu sangat pedas. Apa yang selama ini kau lakukan, hah?! Apa pernah kau datang disaat Daniel menerima rapor? Apa pernah kau memeluknya disaat dia menangis dan membutuhkan pelukan?! Jawabannya tidak pernah, jadi jangan pernah menuntut Daniel untuk menjadi apa yang kau inginkan."


"Cih, seharusnya kau tau diri, sayang. Jika aku tidak menikahimu kau tidak akan hidup seperti ini. Kau akan menjadi orang rendahan." Jelas Chris sambil menggelengkan kepalanya dan pergi dari sana.


"Lihat saja, Chris. Akan ada saat dimana aku meninggalkanmu. Dan kau akan sangat dibenci oleh putramu. Mungkin belum sekarang, tapi nanti ketika waktu itu datang kuharap kau cukup kuat untuk menghadapinya." Lirih Halsey sambil menghapus lelehan air mata yang keluar. Sungguh perkataan tadi yang keluar dari mulut Chris sangat menyakitkan.


Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi Daniel kecil mendengarkan pembicaraan mereka. Tangan kecilnya mengepal, ingin rasanya untuk memukul ayahnya yang membuat orang yang paling ia sayangi menangis. Tapi apa daya, ia masih kecil.


Daniel yang menyadari ibunya akan pergi melihatnya, buru-buru masuk kekamar dan duduk dikasur sambil mengusap tangannya sendiri.


Tok..tok


"Daniel??" Sapa Halsey


"Iya Mi"


Halsey memposisikan dirinya didepan sang anak. Ia mengusap pelan kepala Daniel, kemudian menghapus jejak air mata yang tertinggal diwajah putranya. "Daniel, jangan dengarkan apa kata ayahmu tadi. Mungkin dia sedang lelah. Mami yakin Daniel itu anak yang pintar, rajin dan manis. Jadi berapa pun nilai yang Daniel dapatkan, asal itu hasil kerja keras Daniel sendiri. Mami akan sangat menghargainya."


"Makasih, Mami. Daniel sangat menyayangi Mami. Mami jangan pernah tinggalkan Daniel ya, Mi."


Halsey menggangukkan kepalanya dan memeluk putranya dengan penuh kasih sayang*.