
Pagi hari terasa begitu rusuh, Nath terbangun dengan suara teriakan. Dengan cepat ia pergi ketoilet untuk mencuci muka.
Setibanya dibawah, ia melihat wajah babak belur Daniel. Daniel tersungkur dibawah ayahnya. Nathalie kaget dan mendekat untuk memisahkan ayah anak itu.
"Astaga Daniel, kenapa begini."
"Masuklah Nath, ini urusanku. Tunggu sebentar lagi, aku akan kembali."
Nath tidak peduli, ia memapah Daniel dan membantunya berdiri. Ia merasa ini sudah kelewatan, apa ayah Daniel sekejam itu. Kenapa harus memukul anaknya yang baru saja kembali setelah bertahun-tahun.
"Maaf pak, apa seperti ini anda memperlakukan seorang anak yang baru saja pulang?" Tanya Nathalie.
"Ini bukan urusanmu anak muda. Tidak perlu ikut campur." Chris pergi dari hadapan mereka dan membanting pintu dengan keras.
"Maaf Nath, kau mendapat penyambutan yang buruk disini." Ucap Daniel sambil tersenyum.
"Tidak usah tersenyum, bodoh. Mukamu sudah sangat jelek."
Taylor dan Annie yang baru saja sampai terkejut melihat Daniel. Taylor mendekat kearah putranya. "Daniel, kenapa begini??"
"Tidak apa, mah. Aku baik-baik saja."
"Pasti Chris yang membuatmu begini, apa sebenarnya maunya." Taylor pergi menemui suaminya.
"Bawa Daniel, dan obati lukanya Nath." Annie juga meninggalkan mereka berdua.
****
"Awssshhh..Aduh Nath..Ah..Uhh.."
"Heh, tidak usah mendesah seperti itu."
"Hahaha, aku bercanda Nath. Sudahlah tidak perlu di obati." Daniel menurunkan tangan Nathalie dari wajahnya. "Nath, apapun yang nantinya kamu dengarkan jangan dimasukkan kedalam hati ya."
"Memangnya kenapa??"
Nath menggangguk dan membereskan perlengkapan kesehatan yang tadi dipakainya. Ia meletakan tas itu ditempat semula. "Aku kedepan dulu Daniel. Mungkin sedikit mencari udara segar. Jangan lupa istirahat."
Daniel mengangkat jempolnya dan menggulung diri dalam selimut. Setelah Nath pergi, Daniel bangun dan menatap pintu dimana Nathalie keluar tadi. Pandangannya menjadi sendu entah apa yang dirasakannya.
Diluar Nath berjalan-jalan menikmati udara sejuk. Sudah lama dia tidak pergi liburan seperti ini. Semenjak keluarganya meninggal Nath hanya berfokus bagaimana untuk mengembangkan perusahaan keluarganya.
Samar-samar ia seperti mendengarkan dua orang saling beradu argumen. Nath yang penasaran berusaha mendekat.
"*Apa yang kau pikirkan?? Kau mau anak kita hidup dibawah kaki orang lain hah?!"
"Dia sudah besar Chris, kau tidak perlu ikut campur. Biarkan dia menjalani hidupnya."
"Kenapa dia tidak mengurus perusahaan sendiri. Disini dia bisa menjadi pemimpin. Disana dia hanya menjadi budak."
"Cukup Chris, aku tidak ingin mendengar apapun. Biarkan putraku memilih jalannya."
"Dia juga putraku*."
Tidak ingin terlalu lama mendengar pertengkaran itu Nath memutuskan pergi. Ia berjalan kearah taman yang waktu itu pernah dia liat.
Nath duduk disalah satu kursi taman. Ia sedikit berpikir ternyata tidak semua keluarga selalu harmonis. Ia juga teringat dengan pesan Daniel tadi "Nath, apapun yang nantinya kamu dengarkan jangan dimasukkan kedalam hati ya."
"Hai Nathalie, boleh duduk?" Ucap Taylor yang entah muncul dari mana.
"Oh, ya tentu. Silahkan duduk."
''Mengenai Daniel, aku mohon jaga dia. Daniel adalah sosok anak yang jarang terbuka dengan orang sekitarnya. Dia akan selalu diam hingga amarahnya berkumpul dan meluapkannya begitu saja. Dia anak yang pandai, suka bergaul dan sering bercanda. Tolong jaga dia untukku Nathalie, aku rasa dia mencintaimu. Karna kau perempuan pertama yang dikenalkannya pada kami." Jelas Taylor sambil menyapukan tangannya diatas kepala Nathalie.
Nathalie hanya tersenyum. Ia tidak mengiyakan atau menolak permintaan Taylor. Dalam hati kecilnya ia sedikit merasa bersalah, bagaimana jika nanti Taylor tau bahwa dirinya dan Daniel hanya berpura-pura.
"Kalau begitu aku masuk dulu, pikirkan permintaanku ya Nath."