
Malam ini bulan dan bintang enggan untuk menunjukkan sinarnya. Hanya angin dan suara ombak yang menemani Nathalie. Ia kembali memikirkan sesuatu yang menggangu pikirannya.
Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Nathalie dan menyampirkan sebuah jaket di pundaknya. "Sudah malam Nath, kenapa masih diluar?"
Nathalie membalikan badannya dan menemukan Daniel, pria itu kemudian duduk disampingnya. "Hanya ingin menikmati pemandangan saja."
Mereka berdua terdiam untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Nathalie kembali membuka suara. "Daniel,"
"Apa?" sahutnya.
"Aku, aku ingin itu."
"Iya ingin apa,Nath?"
"Aku ingin kita menghentikan semuanya."
Daniel menatap mata Nathalie dengan raut wajah yang binggung. Bagaimana tidak, tanpa angin tanpa hujan Nathalie tiba-tiba ingin menghentikan semuanya ini.
"Apa maksudmu?? Kenapa ingin berhenti??"
"Aku sudah memutuskannya, dan aku tidak ingin diganggu gugat. Maka dari itu hubungan dan segala perjanjian kita secara resmi dibatalkan." Nathalie bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Daniel yang masih terpaku ditempatnya.
"Nath!!" Teriak Daniel sambil berlari mengejar Nathalie. "Nathalie Prime, aku mencintaimu!!"
Nathalie berhenti ditempat, ia memegang dadanya yang terasa sakit. Sebelum berbalik menghadap Daniel, Nathalie terlebih dahulu menghapus air mata dari wajahnya. Ia tidak ingin Daniel tau bahwa dirinya menangisi pria itu.
"Daniel dengar, perasaanku padamu tidak lebih dari apapun. Kau hanya sekertarisku dan aku atasanmu." Setelah mengucapkan hal itu Nathalie masuk kedalam rumah. Ia tidak peduli lagi pada Daniel yang masih berteriak-teriak dibelakangnya.
****
Daniel yang sakit hati memutuskan untuk tidak langsung masuk kerumahnya. Ia lebih memilih pergi ke gudang dan menguncinya. Ia mengambil sebotol anggur dari rak dan langsung meminumnya, tak lupa juga ia mengambil sebungkus rokok kemudian membakarnya.
Tidak terasa ia sudah berada digudang selama dua jam, ia juga sudah menghabiskan sebotol anggur dan 4 batang rokok. Tanpa membuang waktu lagi, ia bergegas masuk kedalam rumah. Dan masuk kedalam kamarnya bersama Nathalie. Dilihatnya gadis itu tidur dengan damai, walau Daniel tau bahwa gadis itu habis menangis. Entah apa yang ditangisinya. Daniel kemudian memperbaiki selimut gadis itu dan mencium keningnya lalu tidur.
****
Pagi harinya, Daniel terbangun namun tidak melihat Nathalie dikamar. Biasanya gadis itu akan membangunkan Daniel kemudian turun. Ia kemudian turun kebawah untuk mencari Nathalie.
"Daniel ayo sarapan." Ucap Taylor yang melihat Daniel turun.
"Nathalie mana??"
"Nathalie sudah pergi pagi tadi. Katanya kau tidak usah terburu-buru kembali." Jawab Chris dengan santai.
"Apa?!"
"Maksudmu apa,Chris?? Apa kau mengusir Nathalie??" Tanya Taylor.
"Tidak, dia yang memilih pergi sendiri. Sudahlah perempuan seperti dia masih banyak didunia ini."
Daniel mengebrak meja, semua orang diruang itu tersentak dan menatap Daniel.
"Apa maksud dari semua ini Pah?"
"Apa lagi Daniel?? Semua ini papa lakukan demi kebaikanmu. Kau seharusnya malu, untuk apa bekerja pada orang padahal kau sendiri memiliki perusahaan yang tidak terurus."
Daniel menarik nafasnya dalam kemudian menutup matanya sebentar. Mata merah itu terbuka, ia menatap tajam orang didepannya.
"Seharusnya anda memiliki sedikit rasa malu untuk menyuruhku menjalankan perusahaan. Apa anda lupa dulu siapa yang sering anda marah ketika nilainya turun, siapa yang selalu anda kekang, siang yang selalu anda marah ketika bermain, siapa yang selalu anda bilang bodoh?? Itu saya!! Dan sekarang dengan tidak tau malunya anda menyuruh orang bodoh ini untuk meneruskan perusahaan anda?? Jangan bermimpi. Anda bukanlah ayah yang baik bagi saya tapi anda adalah seorang pembunuh. Anda sudah membunuh mami saya!!"
Setelah mengeluarkan unek-unek yang dirinya pendam selama ini, Daniel meninggalkan ruang makan tanpa melihat kebelakang lagi. Perkataan yang dikeluarkannya membuat Chris dan Taylor beserta Annie diam.