The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
13



"Liam. Liam tunggu dulu,kamu kenapa menghindar dari aku sih. Bentar lagi kita ujian,belajar bareng yah." Ucap Nathalie sambil mengejar Liam.


Liam hanya berjalan terus tanpa mengindahkan kalimat Nathalie. Ia naik ke mobil yang telah terparkir dilapangan. Pergi berlalu begitu saja tanpa melihat Nathalie yang berlari untuknya.


Nathalie mencoba mengingat apakah dirinya mempunyai salah terhadap Liam. Tapi seingatnya mereka baik-baik saja.


Mungkin Liam lelah,hiburnya dalam hati.


Seminggu kemudian


Liam masih saja menghindari Nathalie, ketika bertemu dengan gadis itu dirinya akan memutar balik. Pernah satu ketika Nathalie mencoba mengejar Liam ia terjatuh. Liam berubah drastis,tidak seperti Liam yang pertama kali Nathalie kenal.


Nathalie mendial nomor Liam, tapi entah sudah panggilan keberapa ia tak mendapat jawaban.


"Non kita belum berangkat? Pengumuman akan sebentar lagi berlangsung." Nathalie mengambil tasnya lalu berjalan kearah mobil. Ia kecewa pada Liam, pria yang sudah mengisi hari-harinya kurang lebih tiga tahun lamanya.


"Pak, tidak usah pulang, saya hanya akan mendengar pengumuman lalu pulang."


"Baik non."


Tidak lama kemudian Nathalie sampai disekolah, ia berjalan kearah lapangan. Ia duduk seorang diri berharap akan ada yang datang padanya dengan senyuman yang sangat ia rindukan.


Namun semuanya hanya harapan, nyatanya sampai pengumuman berakhir orang itu tidak datang menghampirinya.


"Athlie, kenapa tidak berfoto. Ayo berfoto dulu." Serra menarik tangan Nathalie dan berfoto bersama.


"Athlie, itu Liam. Tunggu sebentar..LIAM!!" teriak Serra


Pria yang namanya dipanggil tersebut mendatangi mereka. Wajahnya datar,tidak ada senyuman diwajahnya.


"Ayo kalian berfoto, mana hpmu Athlie."


Serra yang belum sadar ada yang tidak beres pada kedua temannya ini mengambil ponsel yang dipegang Athlie dan Liam.


"Satu,dua,tiga. Ceklek..ceklek" Serra menyerahkan kedua ponsel itu pada pemiliknya.


"Nath--"


"Li--"


"Kamu duluan saja,"


Liam menarik tangan Nath menuju taman belakang. Beberapa menit terdiam, akhirnya Liam membuka suaranya. "Nath, aku rasa hubungan kita sampai disini. Jangan hubungi aku lagi, jangan cari aku lagi, kita selesai sampai disini."


Nath meneteskan air matanya, "Kamu becanda kan? Ini gak benarkan? Aku salah apa."


"Kamu ngerti bahasa manusiakan? Hubungan kita sampai disini, s a m p a i d i s i n i"


Plak


"Kamu cowok pertama yang aku kenal setelah papa,dan ternyata kamu brengsek. Kamu mainin aku, aku kecewa sama kamu." Nathalie menghapus kasar airmatanya yang kembali berjatuhan.


''Dulu kamu janji bakal jagain aku, buat aku bahagia, tidak akan sekalipun nyakitin aku. Tapi ternyata semua itu bohong, kamu pembohong." Nathalie mendorong Liam dan berlari meninggalkan pria itu.


Nathalie terbangun dari tidurnya, mimpi itu lagi. Padahal sudah lama ia tidak bermimpi seperti itu. Nathalie keluar dari ruang perpustakaan kecil miliknya, ia melirik kearah jam tanganya. Ternyata dia sudah lama tertidur, sampai-sampai langit telah menjadi gelap. Ia merapikan mejanya kemudian mengambil tas lalu berjalan keluar.


Dahinya berkerut saat melihat meja Daniel kosong, tapi komputernya masih menyala. Ia berniat untuk mematikannya, tapi sebelum sampai ia dikejutkan dengan kedatangan Daniel.


"Dari mana saja?? Tadi saya mencari anda kesana kemari. Dan sekarang anda berdiri disini dengan entengnya."


"Saya dari perpustakaan, setelah ini pulanglah. Saya pergi dulu."


"Baiklah hati-hati dijalan. Jangan melamun saat menyetir." Nath hanya mengganggukkan kepalanya dan pergi dari hadapan.


Drrttt..drrtt


New Message


From: 09861545xx


Nath,bisa kita ketemu malam ini? Aku menunggumu, La'rime cafe.


To: 09861545xx


Siapa ini


From: 09861545xx


Ini aku, Liam


Nath menghembuskan nafasnya, pria itu, pria yang baru saja dimimpikannya. Siapa lagi kalau bukan Liam, dulu ketika mereka masih bersama Nath akan senang sekali jika Liam mengajaknya keluar. Tapi sekarang rasanya biasa saja, mungkin memang rasa untuk pria itu telah pudar.