
Happy Reading!!!
Malam ini Daniel datang kesalah satu acara yang mengundang dirinya, dia tidak tau harus pergi bersama siapa lagi. Mengingat orang yang mengundangnya adalah kolega bisnis perusahaan mereka tidak ada pilihan lain selain datang.
Untuk konsep, Daniel heran kenapa gedung ini dipenuhi dengan berbagai bunga dan beberapa ornamen mencolok. Tidak ingin ambil pusing, Daniel memilih mengambil minuman.
Tak lama kemudian suara mic membuat Daniel mengalihkan pandangannya, disana berdiri Liam selaku tuan rumah. Daniel tidak ingin ambil pusing, tapi sebelum berpaling Daniel melihat siluet Nathalie.
"Sedang apa dia disini, tadi dia bilang ada acara tapi kenapa disini?" tanya Daniel dalam hati.
Baru selangkah ingin menghampiri Nathalie, Daniel dikejutkan dengan pernyataan Liam dari atas panggung.
"Malam ini adalah malam yang begitu indah, oleh sebab itu aku akan melamar kekasih hatiku yang sudah membuatku bertekuk lutut padanya."
Liam turun dari atas panggung, berjalan dengan santainya kearah seorang wanita.
"Nathalie, seharusnya aku sudah mengatakan ini sejak lama. Tapi aku adalah lelaki pengecut, jadi untuk malam ini aku memberanikan diriku. Will you marry me, Nath?"
Nathalie salah tingkah, dirinya tidak menyangka akan dilamar seperti ini didepan banyak orang. Mulutnya tidak bisa berkata apa-apa, dilain sisi semua orang menunggu kepastiannya.
Daniel mendekat kearah mereka, tidak terlalu dekat tapi Daniel masih bisa melihat mereka secara jelas. Mata mereka bertemu, kepala Daniel menggeleng memberi sinyal agar jangan menerimanya. Tapi jawaban Nathalie membuatnya terpukul.
"Yes, i will." sontak seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Liam memasangkan cincin dijari manis Nathalie dan memeluk wanita itu.
Daniel memalingkan wajahnya sebentar, dan kembali menatap Nathalie. Kali ini mata mereka bertemu lagi, Daniel menerbitkan senyum kecilnya dan kemudian pergi dari gedung itu.
****
Daniel kembali keapartemennya dengan perasaan campur aduk, rasanya dia tidak bisa menerima apa yang baru saja terjadi. Tapi dia bukan siapa-siapa, dia tidak punya hak untuk melarang.
Daniel berdiri didepan kaca yang memantulkan dirinya.
Prankk...
"Aku akan kembali, persiapkan semuanya."
****
Dilain sisi Nathalie telah kembali kerumahnya, dia menatap cincin yang melekat dijari manisnya. Entah mengapa tidak ada perasaan senang ketika cincin itu tersemat kejarinya.
Mengingat kejadian tadi, kejadian dimana dia melihat Daniel membuatnya sedikit bersalah kepada pria itu. Sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur menerima lamaran Liam. Tidak ingin terlalu banyak banyak berpikir Nathalie memilih mengistirahatkan badannya.
Keesokan harinya, Nathalie sudah siap dengan penampilannya. Dia hanya sarapan selembar roti dan minum segelas kopi, kali ini Nathalie memilih kopi.
Setibanya dikantor seluruh pegawai menyapa Nathalie yang baru saja tiba. Dia hanya melirik sebentar dan berjalan menaiki lift khusus. Dia sedikit merapikan pakaiannya sebelum pintu lift terbuka.
Hal yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah box diatas meja Daniel, Nathalie yang penasaran pun mendekatinya.
Aneh.. Meja yang biasanya berisi berbagai berkas sekarang tidak ada lagi. Semua terlihat kosong melompong.
"Selamat pagi, Mrs Prime."
Nathalie membalikan badan dan menemukan Daniel dengan pakaian santainya. Dahinya berkerut, heran karna untuk pertama kalinya Daniel memakai baju santai dikantor. Dan tangan sebelah kanan Daniel terlihat terluka.
"Daniel?? Kenapa bajumu seperti ini? Dan kenapa tanganmu?"
"Saya sudah mengirimkan email kepada anda semalam, saya juga sudah memasukkan surat pengunduran diri saya pada HRD. Terima kasih telah mempekerjakan saya di perusahaan anda."
"Daniel, apa maksudmu?"
Daniel mengambil box dimejanya dan membungkukkan badan kemudian tersenyum singkat.
"Saya mengundurkan diri dari perusahaan anda."