The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
14



Seorang pria dan seorang wanita tengah duduk saling berhadapan. Keduanya memilih untuk diam, seperti kehilangan topik untuk berbicara.


"Ada apa William? Apa ada yang perlu diperbincangkan mengenai pekerjaan?"


Dada William seperti tertikam pisau, untuk pertama kalinya Nath memanggil namanya seperti itu. Biasanya gadis itu akan selalu memanggilnya Liam.


"Aku merindukanmu"


"Hahaha"


"Kenapa? Ada yang lucu?" Tanya Liam


"Tentu saja, dulu anda mengatakan hubungan kita selesai pada saat itu. Lalu setelah delapan tahun berlalu anda datang menemui saya dan mengatakan rindu? Dimana rasa malu anda? Anda pikir anda siapa?"


"Athlie, aku--"


"Don't call me like that, anda hanyalah orang asing. Jangan berperilaku seakan-akan anda mengenal saya."


"Dengarkan aku dulu, waktu itu aku ada masalah keluarga. Dan papa mengharuskan kami semua pindah ke Toronto, aku tidak ingin membuat kamu sedih. Papa berjanji padaku jika aku belajar dengan rajin dan mempelajari bisnis management aku akan datang kembali padamu dan melamarmu. Tapi nyatanya aku tidak bisa, aku terus memikirkanmu disana. Memikirkan kamu dimiliki pria lain, memikirkan kamu yang akan melupakanku. Sampai papa memarahiku karna meninggalkan perusahaan dan membangun bisnisku sendiri, ak--"


"Enough, saya tidak ingin mendengar penjelasan apapun."


Nathalie bangkit dari duduknya dan pergi dari hadapan Liam, Liam sendiri menyadari kesalahannya. Coba saja waktu itu ia menjelaskan masalahnya semua tidak akan seperti ini.


Nathalie mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia kesal setelah bertemu dengan William. Entah kenapa seperti membuka luka lama yang sudah mengering. Ia memutuskan untuk mampir ke mini market, ia mengambil sekaleng bir dan menikmatinya sambil berjalan kearah taman kecil.


Aku merindukanmu


Nathalie *** kaleng minuman dan melemparnya sembarangan. "Aduh"


Matanya menangkap siluet seseorang yang terkena lemparannya. "Daniel?"


"Ah kau lagi, apa kau lupa? Disini tidak boleh buang sampah sembarangan." Daniel memungut kaleng itu, "Kau minum?"


"Tentu saja,kalau itu bungkusan snack baru namanya makan."


"Menyebalkan."


"Hei Nath tunggu dulu, temani saya makan."


"Memangnya kau siapa? Sampai-sampai harus ditemani makan."


"Anggap saja saya teman."


Daniel menarik tangan Nathalie dan menggiringnya memasuki mobil, Daniel memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik kearah Nathalie yang diam saja.


"Tumben sekali mukamu kusut"


"Diamlah, saya sedang tidak dalam mood yang baik"


Setelah berkendara cukup lama, mereka berdua sampai disalah satu cafe yang tidak terlalu ramai. Daniel membukakan pintu untuk Nathalie dan menariknya lagi.


"Ingin makan apa?" Tanya Daniel sambil membolak balik menu.


"Ice cream vanilla saja" jawab Nath


"Ini sudah malam, nanti kau batuk beringus"


"Saya bukan bocah lima tahun yang ketika makan ice cream langsung sakit"


Daniel mengganguk dan memanggil pelayan lalu menyebutkan pesanan mereka. Mereka sedikit berbincang-bincang mengenai acara perusahaan.


"Besok kita akan melihat kesiapan gedung," Daniel menggangukan kepala.


Pesanan mereka telah sampai, Daniel memesan burger dan Nath ice cream. Keduanya makan dalam keadaan hening, sampai Daniel berdiri dari kursi dan memajukan badannya. Ia mengusap ujung bibir Nath menggunakan ibu jari setelah itu tersenyum dan kembali duduk.


"Dasar bocah, makan saja belepotan"


Nath salah tingkah dengan perlakuan Daniel barusan, ia berdehem lalu pergi ke toilet. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh, mendapat sentuhan dari Daniel rasanya seperti tersengat arus listrik. Ia memperhatikan kaca didepannya lalu sedikit menepuk-nepuk pipinya. Setelah dirasa cukup Nathalie keluar dari toilet, disana Daniel masih menikmati makanannya dengan santai.