
Para penumpang yang terhormat, dimohon untuk mengencangkan sabuk pengaman anda dan menutup meja didepan anda. Kita akan segera mendarat di London Heathrow airport.
Nathalie yang mendengar instruksi itu segera mengencangkan sabuk pengamannya dan membuka penutup jendela disampingnya. Mengenai kepulangannya ia sengaja untuk tidak memberitahukannya pada Daniel.
Setibanya dibandara, Nathalie dengan segera menarik kopernya dan keluar dari pintu kedatangan. Ia mencari seseorang yang sudah berjanji akan menjemputnya.
"Athlie," Panggil seorang pria dibelakangnya.
"Liam, cepat bawa koper ini. Aku sudah sangat lelah."
Dengan segera Liam mengambil koper dari tangan Nathalie dan menariknya. Ia juga memeluk pinggang Nath dari samping.
Selama diperjalanan tidak ada yang membuka suara, hanya keheningan yang menemani mereka berdua.
"Kenapa berubah pikiran??" Tanya Liam memecah keheningan.
"Aku hanya memberimu kesempatan sekali lagi, dan kali ini tolong hargai aku."
"Thanks, Athlie. Aku sangat menyayangimu."
"Ya aku tau, Liam. Sudahlah tidak perlu dibahas lagi."
Dengan sadar Liam menggengam tangan gadis pujaan hatinya. Ia senang karna gadis itu kembali padanya, ia sadar telah meninggalkan harta yang paling berharga dalam hidupnya.
"Kita makan dulu ya, aku juga sudah lapar."
"Kenapa kau belum makan?"
"Itu karna aku sibuk, dan terlalu senang akan menjemputmu. Jadi begitulah."
"Lain kali jangan begitu, kau bisa sakit nanti."
"Ah pacarku sweet sekali."
****
Keesokan harinya, seperti biasa Nathalie sudah berada di kantor. Ia kembali menyibukkan diri mengingat dirinya beberapa hari tidak masuk.
Suara ketokan membuat Nath mengangkat wajahnya. Rupanya tepat dihadapannya sudah berdiri Daniel dengan setelan lengkap.
"Pagi Nona Nath, ini minuman kesukaan anda." Ucap Daniel dengan sopan.
"Kenapa kau kembali?? Bukankah kau akan menetap di Sitka?" Tanya Nathalie.
Tiba-tiba pintu terbuka menampakan wajah seorang pria sedang menggengam sebuah cup ditangannya.
"Ah maaf membuat kaget, tadi aku pikir tidak ada orang. Sayang, aku membawakanmu caramel macchiato." Ucap Liam yang hadir ditengah mereka.
"Thanks Liam, taruh saja dimeja. Aku akan meminumnya."
Liam menaruh cup digenggamannya ke meja terdekat, namun matanya juga menangkap sebuah cup minuman yang sama seperti yang dirinya bawa.
"Sayang, kau sudah membeli caramel macchiato juga??"
"Tidak, itu dari Daniel. Setiap hari dia selalu membeli minuman kesukaanku."
Liam menatap Daniel dan berkata, "Lain kali tidak perlu repot. Mulai sekarang aku yang akan membawakannya minuman."
"Itu sama sekali tidak merepotkan Mr. William. Saya sudah terbiasa selama beberapa tahun belakangan."
"Tapi sekarang itu menjadi tanggung jawabku. Nathalie adalah kekasihku jadi aku yang akan menyediakannya." Ucap Liam.
"Kalian berpacaran?? Sejak kapan?" Tanya Daniel penasaran.
"Kami sudah sangat lama berpacaran, bahkan jauh sebelum kau mengenal Nathalie."
Nathalie yang merasakan hawa mencekam mencoba untuk memisahkan mereka.
"Sudahlah sayang, apa kamu tidak ada kerjaan hari ini?" Ucap Nath sambil memeluk pinggang Liam.
"Tentu saja ada, tapi aku menyempatkan diri untuk melihatmu."
"Sekarang sudah melihatku bukan, jadi sekarang boleh pergi. Lagian pasti urusanmu sangat banyak."
Daniel hanya menghela nafas melihat kemesraan dua sejoli didepannya. Ingin rasanya dirinya marah, baru kemarin statusnya dan Nathalie kandas. Sekarang dengan seenaknya Nathalie mencari penggantinya.
"Aku pergi dulu, nanti kita ketemu lagi sayang." Pamit Liam sembari mencium dahi Nath yang merupakan kebiasaannya sejak dulu.
Liam keluar dari ruangan Nathalie, tidak terkecuali Daniel. Pria itu masih setia berada didepan Nathalie.
"Kenapa kau pergi begitu saja Nath? Kenapa kau tidak menghargaiku?? Kenapa dengan seenaknya kau membuat hati ini sakit??" Tanya Daniel.
"Sadarlah akan posisimu. Kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau hanya pemain pengganti." Ucap Nathalie.