The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
22



Setelah perdebatan yang cukup panjang, keduanya memutuskan untuk mengatur cerita bagaimana mereka bertunangan. Keduanya menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai fake story mereka.


"Sebenarnya aku ingin mendengar ceritanya, Daniel.'' Taylor menempatkan dirinya disofa bersiap mendengar cerita putranya.


"Hm Mah. Sebenarnya, Nathalie sangat suka bercerita. Jadi aku akan membiarkannya bercerita." Daniel menepuk pundak Nathalie dan mengedipkan matanya.


"Oh okey, ya. Darimana aku harus memulai kisah ini..." "Daniel dan aku ingin merayakan dua tahun kebersamaan kita. Dan aku tau dia merasa takut memintaku untuk menikah dengannya, jadi aku tinggalkan dia dengan sedikit petunjuk disana sini karna aku tau dia tidak punya keberanian untuk bertan--"


Pembicaraan Nathalie terpotong saat Daniel menyela, "Sebenarnya bukan seperti itu yang terjadi. Maksudku aku mengambil semua petunjuknya. Wanita yang satu ini sehalus senapan."


Para tamu tertawa mendengar penuturan Daniel. Nathalie menghembuskan nafasnya berharap bisa sabar menanggapi cerita karangan Daniel.


"Baiklah lanjut. Aku khawatir dia menemukan kotak keci--"


"Oh! Kotak decoupage yang dia buat, dimana dia mengambil cuti untuk memotong gambar-gambar kecilnya. Lalu ditempelkan keseluruh kotak, oh! sangat cantik. Jadi aku memutuskan untuk membuka kotak yang indah itu dan keluarlah potongan kecil berbentuk hatu berwarna merah dan pink. Dan aku melihat sesuatu yang paling cantik disan--"


"Cincin. Disana ada sebuah cincin yang aku berikan padanya. Dia menangis bahkan sampai ingusnya tak berhenti keluar dari hidungnya."


Nathalie menggangukkan kepalanya, ia merasa Daniel menjelekannya dari tadi. Sekali lagi ia memaksakan senyumnya, ingin sekali membalas dendam pada Daniel yang kelewat kurang ajar ini.


"Jadi begitulah kisah kami." Kata Nathalie menutup semua pembicaraan tentang bagaimana Daniel melamarnya. Padahal hal itu tidak pernah terjadi.


"Daniel, Nathalie itu tadi kisah yang sangat romantis." Ucap Taylor yang mengelap ujung matanya.


"Hey! Ayo kita lihat mereka berciuman." Tantang seorang tamu mereka.


Nathalie membulatkan matanya, lain halnya dengan Daniel. Pria itu merasa senang akan mencium Nathalie, gadis yang adalahlah bosnya sendiri.


"Ayo beri dia ciuman,"


"Hey tidak, sudahlah."


Daniel mengambil tangan Nathalie dan menciumnya, "Sudah, apa kalian puas."


"Ciuman apa itu. Cium bibirnya, dude."


''Ayo.. Ayo.. Ayo.."


"Oke," Daniel mendekat kearah Nathalie, pria itu perlahan mendekatkan bibirnya kearah bibir Nathalie. Ia kemudian merengkuh pinggang Nathalie dan menciumnya perlahan. Ia menggigit bibir bawah gadis itu kemudian mengeksplor semuanya.


Nathalie menggigit lidah Daniel untuk menghentikan kegiatan ini. Bisa-bisanya Daniel mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Mereka semua bertepuk tangan. Annie mendatangi mereka dan memeluk erat keduanya. "Aku menyayangi kalian.


****


Pesta berakhir, mereka lelah. Bagaimana mereka akan menjalani hari-hari kedepannya. Kebohongan ini sedikit menyiksa Nathalie. Gadis itu kembali dihadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya dan Daniel akan tidur bersama. Fakta yang membuatnya lebih gila lagi adalah Annie, nenek Daniel memberikannya sebuah selimut. Nama selimut itu Baby maker yang benar saja, rasanya Nathalie ingin memusnahkan barang itu.


"Jadi kau sudah beberapa tahun tidak pulang." Tanya Nathalie memecah keheningan diantara mereka.


"Aku tak punya banyak waktu libur beberapa tahun belakangan ini."


"Baiklah kalau begitu."


"Apa hanya itu piyama yang kau bawa ke Alaska?"


"Ya, karna seharusnya aku tidur dihotel sendirian bukan malah tidur disini bersamamu."


"Bisakah kita tidur sekarang? Aku sudah sangat lelah." Ucap Daniel sembari memperbaiki posisinya yang tidur dilantai.


Akhirnya setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Mengatur fake story juga membuat mereka lelah. Malam ini menjadi malam pertama mereka tidur berdua.