
Semenjak hari dimana Marco datang, Nath sering mencari kandidat pasangannya disitus online. Disana banyak pria dengan kualifikasi diatas rata-rata, tapi tidak ada yang menarik perhatian Nathalie. Seperti hari ini, ia menyudahi acara untuk mencari kandidat pendampingnya.
Tok..tok..tok.
"Masuklah"
Daniel masuk sambil membawa beberapa map ditangannya. Ia menyodorkan map itu kehadapan Nathalie. "Ini berkas yang harus ditanda tangani, dan kita ada mengadakan rapat sekitar 20 menit lagi."
"Batalkan semuanya, hari ini saya sedang tidak enak badan."
"Baiklah, saya akan kembali mengatur jadwal anda."
Daniel pamit undur dari hadapan Nathalie. Sebelum sampai kedepan pintu perkataan Nathalie membuat Daniel terdiam ditempat.
"Daniel jadilah suamiku,"
Daniel memutar badannya dan menatap Nathalie, ia sedikit menaikan alisnya sebelum menanggapi perkataan atasannya. "Kau pasti bercanda,"
"Aku tidak bercanda, yang ku katakan barusan bukanlah lelucon."
Daniel tertawa kecil, "Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, apa kau sedang kerasukan? Atau kau lupa meminum obatmu?? Tanya Daniel sambil mendekat kearah Nathalie. "Bagiku pernikahan bukanlah hal main-main, pernikahan adalah hal sakral ketika kau memutuskan untuk mengucapkan janji sakral, kau bukan hanya berjanji kepadaku melainkan kau berjanji pada Tuhan,'' Bisik Daniel pelan.
Nathalie berjalan kearah jendela, ia menatap langit biru itu. Ia tau pasti tidak akan mudah untuk mendapatkan Daniel. "Aku mencintaimu,"
"Tidak mungkin, selama ini aku memperhatikan gerak gerikmu. Tidak ada hal yang mencerminkan bahwa kau mencintaiku, apa tujuanmu mengatakan hal ini padaku?" Daniel mengambil posisi untuk duduk disofa yang tersedia.
Nathalie mengendikan bahunya kemudian duduk dengan menumpukan kaki kanannya diatas kaki kiri. "Kau sangat pintar Daniel, aku tau kau pasti akan menyadarinya."
"Seperti yang kau ketahui, beberapa waktu belakangan Marco datang menemuiku. Ia membawa berita yang membuatku terkejut, apa kau tau apa beritanya? Beritanya adalah bahwa dia membawa wasiat ayahku, apa kau tau isinya?? Isinya adalah aku harus menikah dan jika aku tidak menikah maka seluruh aset perusahaan ayahku akan diberikan kepada panti-panti sosial." Jelas Nathalie dengan menatap Daniel.
"Lalu kau ingin aku masuk kedalam permainanmu?"
"Aku hanya memerlukanmu sebentar, ini tidak akan lama. Aku akan memberikan apapun yang menjadi syaratmu."
"Jika aku menolak konsekuensi apa yang akan dihadapi?"
"Konsekuensinya cukup besar, aku akan kehilangan semua aset ayahku dan semua pegawai akan kehilangan pekerjaanya termasuk dirimu."
"Baiklah beri aku sedikit waktu untuk berfikir, jika keputusan yang ku ambil sudah bulat maka aku akan memberikan jawabannya padamu."
Nathalie dan Daniel kemudian bersalaman. Setelah mengutarakan apa yang diinginkan Nathalie, Daniel keluar dari ruangan itu.
*****
Daniel Pov
Hari ini aku bangun dengan perasaan yang tidak mengenakan. Bagaimana bisa Nathalie dengan enaknya mengajakku untuk masuk didalam permainannya. Apa dia gila?? Bagiku pernikahan bukanlah ajang permainan, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Tapi setelah dipikir-pikir aku rasa membantu Nathalie tidak ada salahnya, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku.
"Lihat saja Nath, kau yang memulainya maka dengan senang hati aku akan mengakhirinya." Ucapku pada diriku sendiri.
Aku memperhatikan penampilanku didepan kaca, tampang yang oke, badan proposional semua yang ada didiriku sempurna. Nathalie pasti akan jatuh cinta padaku. Setelah cukup lama menatap pantulan diriku, aku bergegas pergi ke kantor dan memberikan jawaban pada Nathalie. Tunggu saja Nath aku pastikan kau akan jatuh kepelukanku bukan karna wasiat itu, tapi karna diriku.