The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
2



Setelah insiden memalukan dia lupa membawa tas, Nathalie kembali ke kantor bersama Daniel. Sepanjang jalan tidak ada satupun yang memulai perbincangan, keduanya seolah menutup rapat mulut mereka. Tapi tak lama kemudian Daniel mengambil handphone dari sakunya. Ia membuka kunci dan mengetikkan pesan dalam grup mereka.


Aku dalam perjalanan bersama nenek sihir,pastikan kalian sudah siap ditempat masing-masing jika tidak ingin mendapat masalah.


Send


Nath yang penasaran melirik kearah Daniel,pria itu sedang mengetik menggunakan satu tangan,dan tangan lainnya untuk menyetir. "Anda sedang berkendara,jangan bermain ponsel jika ingin selamat." ucapnya dan kembali focus menatap jalanan yang mereka lewati.


Dalam hati Daniel berkomentar dasar bawel.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di kantor, Nath bergegas naik keruangannya diikuti oleh Daniel dibelakangnya.Mereka kembali disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan yang menanti.


Nathalie sendiri langsung menyalakan kembali laptop dihadapannya dan memeriksa email yang masuk,juga kembali melanjutkan membaca berkas-berkas yang belum sempat ia lihat tadi.


Tangannya dengan lihai mengetik diatas keyboard,ia memperhatikan setiap detail yang ia ketik agar tidak ada kesalahan. Perlu diketahui Nathalie telah menggantikan ayahnya sejak berumur 18 tahun, ia mulai dituntut belajar lebih giat dan mengikuti beberapa kelas tambahan agar menambah wawasannya.


Masa remaja Nathalie,diisi dengan segala pelajaran mengenai management,maka dari itu ia tidak memiliki banyak teman,hanya ada satu sahabatnya namun dia menetap di Manhattan.


Matahari mulai tenggelam,dan digantikan oleh sinar rembulan.Tapi gadis itu masih tetap dalam posisi yang sama,sampai terdengar ketokan pintu dari luar.


Ia melihat Daniel masuk kedalam ruangannya. "Ada apa Daniel?"


"Ini sudah jam 8,anda tidak ingin pulang?"


"Jangan terlalu dipaksa,anda bukan robot nona, kalau begitu saya permisi." Ucapnya lalu mengundurkan diri dari hadapan Nath.


Setelah kepergian Daniel, Nath mulai merapikan semua berkasnya,mematikan semua perangkat komputer,mengambil tas dan meninggalkan ruangannya.


Ia menyetir dengan kecepatan sedang, matanya focus kepada jalanan yang ada didepan. Dua puluh menit berkendara akhirnya ia sampai disebuah mansion besar milik keluarganya. Para penjaga yang melihat mobil majikannya datang segera membuka pagar.


Para pelayan telah berdiri menyambutnya di depan pintu masuk, ia menatap satu persatu orang yang ada disana. Berharap ada ketiga orang yang sangat ia sayang berdiri disana dan menyambutnya dengan pelukan. Namun sekali lagi itu hanya angan-angan belaka.


"Selamat malam nona, ada yang bisa kami bantu? Atau ada yang ingin anda makan?" Ucap kepala pelayan yang sudah bekerja bertahun-tahun bersama keluarganya.


"Tidak perlu, panggilkan saja Edward dan Erick. Bilang tunggu diruang anggar." Nath kembali melangkahkan kaki menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Malam ini Nath kembali akan mengasah kemampuan permainan anggarnya. Ia memakai pelindung kepala. Tanpa membuang waktu Nath mulai mengayunkan pedang yang sudah ia kuasai menuju lengan sebelah kiri lawan, namun lawannya bisa mengimbanginya. Mereka sama-sama mendaratkan ujung pedang pada lengan masing-masing.


Sementara ditempat lain, seorang pria sedang menggerutu karna panggilan telfonnya tidak diangkat.


"Kenapa disaat seperti ini,dia tidak mengangkat telfon. Dasar wanita menyusahkan."


Pria tersebut mengambil jaket lalu berkas,dan meninggalkan apartemennya. Jika bukan karena kelalaian dia tidak akan pergi kemanapun malam ini. Ia memesan taxi dan menyebutkan alamat yang akan dituju.