The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
11



"Bu? Anda baik-baik saja?"


"Ah tentu saja, silahkan lanjutkan."


William menaruh sebuah map diatas meja, dan kemudian mengeluarkan beberapa kertas-kertas dari dalam map lalu memberikannya pada Nathalie juga Amira.


"Ini adalah beberapa model desain untuk gorden,taplak meja dan pernak pernik. Ini juga desain bordir untuk karpetnya jika anda tidak ingin bordir kita pakai karpet biasa. Saya mendengar ini event yang penting. Untuk warnanya saya menyarankan gray prose dengan perpaduan lullaby. Dan untuk mengenai penataan mungkin saya harus melihat gedungnya agar bisa menyimpulkan desain seperti apa yang akan dihadirkan. Jadi bagaimana menurut anda Ibu Nathalie?"


William menjelaskan semuanya dengan baik dan mudah dimengerti. Tangan dan matanya sibuk menunjuk dan menjelaskan ide yang sedang dibicarakan.


"Baiklah saya setuju, besok anda bisa melihat gedungnya. Dan saya akan mengirim beberapa bawahan saya untuk membantu anda jika ada kendala. Kemudian untuk kontraknya mungkin anda bisa baca terlebih dahulu."


Nathalie meminta kontraknya dari Amira dan memberikan map itu kepada William. William membaca sekilas lalu menandatanganinya, ia kemudian merapikan kertas-kertas dimeja dan berdiri lalu berjabat tangan.


"Senang bekerja sama bersama anda, kalau begitu saya permisi."


William meninggalkan ruangan Nathalie didampingi Amira. Nath menghembuskan nafasnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan William setelah delapan tahun tidak bertemu.


*****


Nathalie dengan perlahan menyeruput kopi, malam ini ia memutuskan untuk duduk ditaman belakang. Ia menatap langit, malam ini cerah seperti biasanya. Bintang-bintang bertaburan tanpa bisa ia hitung.


"Permisi nona, tuan Marco telah tiba. Beliau ingin bertemu."


"Baiklah, suruh dia kemari. Dan buatkan segelas minuman."


Berbicara tentang Marco, Marco adalah pengacara sekaligus asisten ayah Nathalie. Entah mengapa Marco kembali menghubungi Nathalie, padahal sudah beberapa waktu Nathalie tidak mendengar kabarnya.


"Selamat malam Marco, ada apa? Sudah lama tidak bertemu, apa ada masalah?" Tanya Nathalie


"Saya datang kemari untuk mengatakan sesuatu, namun sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun."


"Terima kasih atas ucapannya Marco."


''Jadi tujuan saya datang malam ini adalah, untuk memberikan ini padamu." Marco mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan memberikannya pada Nathalie.


Nathalie membacanya dengan seksama, matanya melotot melihat kata-kata yang tercetak di dalamnya. Apa ini tujuan Marco datang, tapi kenapa baru sekarang diberitahukan.


"Kenapa baru sekarang, apa maksud semua ini. Ini tidak lucu, lelucon gila macam apa ini." ucap Nathalie tidak percaya.


"Umurmu sudah dua puluh tiga tahun, dan menurut wasiat itu kamu harus menikah. Konsekuensi jika kamu tidak menikah semua harta kekayaan milik keluarga Prime akan disumbangkan ke panti-panti sosial yang ada."


"Tapi ini tidak adil, kenapa harus menikah. Masih banyak cara lain yang bisa ditempuh daripada menikah."


"Nathalie,sekarang kau tidak memiliki siapapun. Ayah ,ibu bahkan kakakmu sudah tiada. Mungkin alm ayahmu telah merasakan bahwa dirinya akan pergi makanya dia menyiapkan ini semua."


"Tapi kenapa harus aku." Tanya Nath


''Jika Nataniel hidup ia juga akan seperti dirimu, tapi karna Nataniel telah tiada maka semuanya menjadi tanggung jawabmu. Kau tidak ingin bukan melihat pegawaimu berhenti bekerja, bagaimana dengan keluarga mereka. Pikirkan ini baik-baik Nathalie, aku akan meminta jawabanmu setelah perayaan ulang tahun perusahaan."


Marco kemudian pamit undur diri dari hadapan Nathalie. Nathalie diam saja, ia kemudian melempar gelas minumannya hingga pecah berkeping-keping dilantai.


"Semua ini membuatku muak. Arrghh." Teriak Nathalie sambil menjambak rambutnya.