
Tiga puluh menit menghabiskan waktu dijalan,akhirnya Daniel sampai disebuah mansion mewah. Pengawal yang sudah familiar melihat mukanya kemudian membuka pintu dan membiarkan ia masuk.
Daniel memilih akses pintu belakang untuk masuk, dan benar saja disana banyak pelayan yang berkumpul. Ia tersenyum dan menanyakan dimana bosnya.
"Selamat malam" ucapnya sambil memperlihatkan senyum ramahnya. Sebagian pelayan meleleh melihat senyum yang di berikan.
"Selamat malam Sir,ada yang bisa dibantu?" Sambung pelayan yang sudah sangat mengenal Daniel.
"Saya ingin bertemu nona Nathalie, ada sesuatu yang harus ditangani"
"Langsung saja keruang anggar, nona Nathalie berada disana bersama kedua pengawal"
Tanpa membuang waktu Daniel pergi keruang anggar yang dimaksud, dan benar saja disana ia melihat bosnya bermain anggar. Ia menonton pertandingan sengit itu, dari sini ia dapat melihat kehebatan seorang gadis dalam memainkan pedang.
Nathalie yang merasakan ada orang lain disekitarnya,kemudian mengacungkan pedangnya. Gerakan tak terbaca dari Nath membuat Daniel terpaku di tempatnya. Sebuah pedang sabre kini tepat didepan hidungnya.
"Ada apa Daniel?" Kata Nath sambil melepas pelindung kepala, seraya mengambil air putih dan meneguknya.
Daniel yang tadinya sempat terdiam akhirnya membuka suara. "Saya kesini membawakan berkas, berkas ini harus anda pelajari, besok kita akan meeting,Wilson company mengubah jadwalnya,dan juga saya butuh tanda tangan anda." Ucap Daniel sambil memberikan dua buah map.
Bukannya langsung mengambil, Nath hanya melenggang begitu saja melewati Daniel. "Bawa keruang kerja."
Dalam hati Daniel mengumpat. Ia tidak habis pikir dengan bosnya yang menyebalkan. Wajahnya boleh saja cantik tapi kelakuannya membuat darah mendidih. Ia kemudian meninggalkan ruang anggar dan berjalan menuju ruang kerja Nathalie.
Sesampainya disana ia membuka pintu ruangan itu,dan menyalakan lampu, nuansa coklat kembali menyambutnya. Dalam ruangan kerja itu terdapat beberapa buku, penghargaan dan foto keluarga Prime.
"Sudah selesai mengagumi ruangan ini??" Ucap Nath sambil membawa secangkir teh.
"Sudah. Ini berkas yang harus anda tanda tangani. Dan yang ini harus anda baca." Jawab Daniel sambil memberikan dua map.
Nath menerima map tersebut dan menaruh secangkir teh di meja. Ia sekilas membaca berkas tersebut,lalu menutupnya kembali.
Bukannya mendengarkan Daniel justru meminumnya sampai kandas, ia tidak perduli dengan tatapan tajam dari bos didepannya. Yang dia tau dia haus dan butuh minum.
"Dimana sopan santunmu?"
"Nathalie kita tidak sedang berada dikantor, apa begini kau memperlakukan seorang tamu?? Apa dirimu lupa bahwa aku lebih tua empat tahun darimu?"
"Sialan kau, cepat pergi sebelum pengawal mengusirmu."
"Tentu saja aku akan pergi, siapa yang betah berlama-lama dikandang singa betina sepertimu."
Tepat setelah kata terakhirnya Daniel pergi dari hadapan bosnya sambil membawa map. Nath yang kesal melemparkan bantal sofa yang ada disana namun tidak kena.
Daniel menjulurkan lidahnya dan menutup pintu ruangan itu.Dibalik pintu yang tertutup Daniel menahan tawa, seharusnya ia memotret muka sang bos ketika dia berbicara seperti itu.
Dasar singa betina.
\*\*\*\*\*
Pagi ini seperti biasanya, Nath kembali bangun dan mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kantor. Ia menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya. Kurang dari dua puluh menit Nath telah siap.
"Selamat pagi nona, ada yang anda butuhkan?? " tegur kepala pelayan
"Tidak perlu, saya akan langsung berangkat"
"Tapi non.. "
Tidak ingin mendengarkan celotehan pelayannya, Nath memilih pergi dari sana. Ia sangat tidak suka diatur, walaupun kenyataanya semua untuk kebaikan dirinya.