The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
30



Nathalie POV


Ini adalah hari pertamaku kembali bekerja, setelah menghabiskan beberapa hari di Sitka. Berbicara tentang Sitka, aku memutuskan untuk meninggalkan Daniel dan mengakhiri kebohongan itu. Menurutku sejauh apapun kebohongan bertahan, tetap akan ada satu waktu dimana kebohongan itu terbongkar. Jadi sebisa mungkin aku mengakhiri semuanya dengan cepat.


Tiba-tiba aku terkejut dengan kedatangan Daniel, pria itu berdiri dengan memegang cup minuman kesukaanku.


"Pagi Nona Nath, ini minuman kesukaan anda."


Jujur saja aku heran dengan kedatangannya, dia berdiri disana seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku bahkan mengingat jelas apa yang ayahnya katakan padaku.


"Kenapa kau kembali? Bukankah kau akan menetap di Sitka?" Tanyaku sambil menatapnya.


"Tentu saja tidak, aku lebih memilih tinggal disini menemani seseorang yang aku sayangi."


Belum sempat aku menjawab, masuklah Liam menambah kesan akward. Yang benar saja, kedua lelaki ini membuatku pusing.


"Ah maaf membuat kaget, tadi aku pikir tidak ada orang. Sayang, aku membawakanmu caramel macchiato," Aku menghela nafas sebentar dan menyuruh Liam menaruhnya dimeja, tapi sialnya Liam melihat minuman yang sama dengan miliknya.


Sekarang suasana semakin panas, Liam tidak terima dengan Daniel yang selalu membawa minuman kesukaanku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengusir mereka berdua secara halus. Dan untungnya mereka mau pergi.


Setelah Liam pergi diikuti Daniel, aku merenggangkan badanku dan meminum minuman yang Daniel bawa. Jujur saja perlahan aku menyukai Daniel, sikapnya yang kadang aneh, lucu, romantis membuat hariku lebih berwarna dari biasanya.


Tapi ada satu alasan yang membuatku harus menjauhi Daniel. Chris, ayah Daniel itu sangat mempermalukanku. Ia bahkan memberikan sekoper uang padaku, sialan memang apa dia tidak tau bahwa disini dan beberapa negara lainnya aku sangat dihormati dan disegani. Bisa-bisanya dia merendahkanku seperti itu.


*flashback


"Tinggalkan anakku, aku akan memberimu sejumlah uang. Aku rasa kau cukup pandai karena berpura-pura tidak tau bahwa Daniel adalah orang kaya."


Aku menghela nafas jengah akan perlakuan ayah Daniel, "Perlu anda ketahui bahwa saya tidak membutuhkan apapun dari anda. Saya masih punya banyak kekayaan, bahkan lebih dari milik anda."


Chria tertawa sumbang, "Jika kau kaya, untuk apa kau mendekati putraku? Bahkan kau bersedia menikah dengannya, apa tidak ada lelaki yang mau padamu??"


"Cukup, saya tidak membutuhkan apapun dari anda, dan soal Daniel tenang saja saya akan mengurusnya." Aku bangkit berdiri kemudian membuka koper itu dan menghamburkan uang yang berada didalamnya keatas kepala Chris. "Bawa uang itu, dan silahkan keluar dari kamar ini. Saya tidak membutuhkan uang recehan anda*."


flashback off


****


Hari menjelang sore, dan aku sama sekali belum memakan apapaun. Tak lama aku mendengar ada seorang yang mengetuk pintu, aku diam saja karna aku pikir itu Daniel. Tapi ini jauh dari ekspetasiku, orang yang berdiri didepan sana adalah Marco. Sialan aku melupakan pria satu ini, pasti dia akan menagih janjiku yang mana aku akan mendapatkan pasanganku.


"Siang Nona Nath, boleh saya duduk??"


Aku berdiri dari kursi kerajaanku dan berjalan kearah sofa, "Tentu saja Marco, silahkan duduk. Apa yang membuatmu datang kemari??" Tanyaku basa basi padahal aku sudah mengetahui apa maksud kedatangannya ke kantor.


"Bagaimana Sitka? Apa menyenangkan? Apa sekarang kita bisa mulai mempersiapkan pernikahannya?"


Aku tidak tau harus berbicara apalagi, semua ini begitu cepat hingga membuatku ingin mati rasanya.


"Beri aku waktu satu minggu lagi, ini adalah penawaran terakhirku. Dan aku pastikan akan betul-betul menikah sesuai dengan wasiat itu.