The Wedding Proposal

The Wedding Proposal
21



"Senang melihatmu Nathalie. Selamat datang di Sitka."


"Ah ya, thanks ..."


"Jilly, Jill."


"Oh ya thanks Jill."


Nathalie melihat Daniel berada di depan jendela sambil memegang segelas wine, ia kemudian mendekati pria itu. "Kenapa kau tidak pernah membicarakan semua ini?"


"Ayolah Nath, beberapa tahun ini kita hanya membicarakan tentang perusahaan. Kau juga tidak pernah bertanya lantas untuk apa aku memberi taumu?" Jelas Daniel sambil meneguk wine di genggamannya.


"Daniel, how are you."


"Nyonya McKittrick. Bagaimana kabarmu? Senang bertemu denganmu." Daniel memeluk wanita paruh baya dibelakangnya.


"Aku selalu ingin tau, apa yang dilakukan oleh seorang sekertaris sebuah perusahaan sehingga membuatnya tidak pernah pulang beberapa tahun." Tanya McKittrick.


"Pertanyaan bagus, Louise." Sela Chris, ayah Daniel. "Aku juga ingin tau tentang hal itu."


"Halo Pah,"


"Ini pasti Nathie."


"Uh Nathalie."


"Chris, senang bertemu denganmu." Chris mengulurkan tangannya dihadapan Nathalie.


"Aku juga senang." Jawab Nathalie.


"Jadi kenapa kau tidak bilang apa yang sebenarnya seorang sekertaris lakukan hingga tidak pernah bisa pulang, Nathalie?"


"Jadi kau sebenarnya adalah bos Daniel?'' sela Louise.


"Aku permisi dulu, gelas ini perlu diisi kembali." Ucap Chris yang kemudian meninggalkan Nath dan Daniel.


"Ayahmu mempesona, bahkan dia sangat merendahkanmu."


Daniel pergi begitu saja dari hadapan Nathalie, ia mengejar ayahnya. "Itu kesan pertama yang buruk, Pah."


"What the hell Daniel? Kau muncul kembali setelah semua waktu yang kau habiskan dengan seseorang yang kau benci. Dan sekarang dia menjadi pacar--"


"Kami baru sampai disini, tidak bisakah papa memberi waktu sebentar sebelum kita saling melempar tongkat golf??"


"Aku hanya belum paham mengapa kau merendahkan dirimu."


"Sebenarnya, akan kuberitahu kalau gadis yang disana itu adalah salah satu CEO yang paling disegani di London bahkan beberapa negara besar lainnya."


"Dia adalah tiket makananmu, dan kau membawanya pulang untuk bertemu dengan ibumu."


"Dia bukan tiket makananku, Pah. Dia adalah pacarku, tunanganku."


"Apa yang kau katakan?"


Dilain sisi Nathalie berjalan menatapi mansion Daniel, mansion ini bahkan setara dengan mansionnya di London.


"Permisi nona, maukah kau mencicipi hors d'oeuvres?"


"Tidak, terima kasih banyak."


"*Ladies and Gentlemen aku punya pengumuman yang sangat penting" Teriak Daniel dari ruang tengah.


"Nathalie dan aku akan segera menikah*."


Nathalie terbatuk-batuk mendengar penuturan Daniel, ia segera mencari keberadaan pria itu.


"Baby kemarilah, dimana kau? Itu dia."


Semua orang menatap kedua orang tersebut, Nathalie mendekat kearah Daniel. Mereka bertepuk tangan dan mengucapkan selamat untuk keduanya.


"Waktunya merayakan,"


"Ambil champagne nya."


Nathalie berbisik, "Jadi ini idemu? apa ini waktu yang pas?"


"hmmm," jawab Daniel.


"Daniel. Hi." Sapa seorang gadis cantik dengan rambut blonde indahnya.


"Cle? Oh, astaga. Hey, wow." Ucap Daniel sambil memeluk erat gadis didepannya. "Bagaimana kabarmu? Aku tidak tau kalau kau datang kesini."


"Ibumu mungkin menginginkan kejutan. Jadi.....Surprise."


"Hahahahaha."


Nath menatap kedekatan antara Daniel dan gadis yang dipanggilnya Cle. Mungkin mereka teman dekat dulunya.


"Hmm, kita sungguh tidak sopan. Hay Nathalie perkenalkan aku Clementine, panggil saja Cle." Sapa Cle dengan menjabat tangan Nathalie.


"Oh astaga, Nath. ini mantanku Clementine." jelas Daniel.


"Selamat untuk pertunangan kalian."


"Ah ya, thanks Cle."


"Jadi, apa aku melewatkan ceritanya??" Tanya Cle


"Cerita apa?" Jawab mereka berdua bersamaan.


"Cerita bagaimana kau melamarnya, Daniel." Kekeh Cle sambil menepuk pundah Daniel. "Bagaimana pria melakukan lamaran menunjukkan karakternya.


SIAL!!! Batin mereka mengumpat.