
London, Inggris
Suasana sarapan pagi ini sepi seperti biasanya. Nathalie memperhatikan kursi-kursi yang ada didepannya. Guratan kesedihan lagi-lagi terpancar dari matanya. Andai saja ayah,ibu,serta kakak lelakinya tidak meninggalkannya,hidupnya pasti akan sempurna dan bahagia. Sayangnya mereka telah pergi dan tak akan kembali selamanya.
"Nona, ada yang ingin anda makan selain roti ini??" tanya salah satu pelayan yang berada didepannya.
" Tidak. Setelah ini jangan lupa membersihkan kamarku,dan jangan merapikan apapun yang ada di meja kerjaku."
" Baik nona,kalau begitu saya permisi."
Tidak lama setelah pelayan pergi, Nath membersihkan sudut bibirnya,kemudian merapikan bajunya dan berjalan kearah mobil.
Dari jauh para pelayan menatap iba majikan mereka. Sudah beberapa tahun belakangan mereka tidak pernah melihat senyum indah Nath,senyum itu seperti menghilang begitu saja semenjak orang tua dan kakak Nath meninggal.
" Kapan nona Nathalie akan kembali tersenyum," kata salah satu pelayan.
" Benar, sudah lama saya tidak melihat senyuman nona Nath."
*****
Nathalie turun dari mobil pribadinya, ia mendatangi sebuah pemakaman. Tidak perlu bertanya makam siapa yang ia kunjungi.
Kakinya berhenti di depan batu nisan, Albert Jonathan Prime, Anatashya Prime dan Nataniel Stefano Prime.
Nathalie mulai memegang erat batu nisan sambil menunduk. "Andai saja kalian tidak pergi kesana, mungkin aku tidak akan kehilangan kalian..." Nafas Nath mulai terasa sesak,ia bangkit berdiri dan meninggalkan pemakaman tersebut.
Prime Enterprise
Berdasarkan berita yang tersebar, kekayaan keluarga Prime tidak main-main. Dengan harta yang berlimpah keluarga Nath bisa membeli seluruh real estate yang ada di London.
Nath berjalan dan menaiki lift pribadi yang langsung terhubung dengan ruangannya. Pintu kayu yang kokoh dengan ukiran yang khas menyambut kedatangannya.
Matanya mulai menelusuri meja asistennya, ia tidak melihat pria itu disana,bahkan tas kerjanya pun tidak ada. Tak lama kemudian telinganya mendengar derap kaki berlari kearahnya.
"Maafkan saya nona,saya terlambat,tadi saya harus mengantri minuman anda." Pria tersebut mulai menyerahkan Caramel macchiato kepada atasannya.
"Bawa keruangan."
Pria tersebut menaruh tas di meja kerjanya dan masuk kedalam ruangan sang bos. Sekali lagi dia disambut dengan papan nama milik bosnya yang terbuat dari kaca dengan tulisan berwarna gold, Nathalie Senna Prime.
"Terlambat lagi Daniel Spencer??Jangan jadikan caramel macchiato sebagai alasan,seharusnya kau bisa mengatur waktu."
Dalam hati, Daniel berkomentar.Mengatur waktu katamu! Karna dirimu aku tidak bisa hidup tenang. Kenapa anak orang kaya selalu saja seenaknya?
"Sekali lagi saya minta maaf nona." Daniel duduk tanpa meminta persetujuan dari atasannya.
"Singkirkan pantatmu dari kursi itu,saya belum menyuruhmu duduk," tegur Nath
"Baiklah nona Prime yang terhormat,saya permisi dulu," ucap lelaki itu lalu pergi dari ruangan terkutuk tersebut.
Setelah kepergian lelaki itu, Nath kembali berurusan dengan berkas yang sudah tersusun rapi dimejanya. Sesekali ia menyesap minuman yang diberikan asistennya.
Berbicara tentang asistennya, Daniel sudah menemaninya selama 4 tahun, Daniel tau apa saja yang dia inginkan dan perlukan,bisa dibilang Daniel salah aset berharga miliknya. Bukan hanya itu saja menurutnya Daniel sangat pandai dalam segala hal,terkadang beberapa tender dapat dia menangkan dengan bantuan sang asisten.