
Serra memasuki ruangan Nathalie diikuti Anthonio, ia melihat sahabatnya terfocus pada layar komputer.
"Happy Birthday Athlie," teriak Serra. Anthonio yang berada disamping Serra langsung menutup telinganya.
Nathalie sama terkejutnya dengan Anthonio, ia mengangkat kepalanya. Ternyata di depan sana sudah berdiri Serra sahabatnya juga Anthonio kakaknya. Nath berdiri dan menghampiri Serra,ia memeluk sahabatnya dengan erat.
"Kenapa tidak mengabariku??" ucap Nath sambil memeluk Anthonio juga.
"Kalau mengabari tidak akan seru, aku membawakanmu kue juga hadiah." Serra memberikan sebuah paperbag juga sekotak kue.
"Bagaimana kabarmu Athlie, sudah lama tidak bertemu." ucap anthonio sambil duduk di sofa yang tersedia.
"Aku baik kak Nio, bagaimana Manhattan?? Aman? Aku dengar perusahaan kakak semakin pesat."
"Biasa saja, media hanya melebih-lebihkannya."
Serra menepuk bahu Nath, "Kau kenal kak Nio kan, dia akan selalu merendahkan diri."
Mereka bertiga tertawa. Anthonio dan Serra saling bertatapan, sudah lama mereka tidak melihat Nath tertawa. Walaupun mereka tau Nath tidak tertawa lepas, sorot matanya masih memancarkan kekosongan. Namun mereka tetap bersyukur Nath masih bisa tertawa.
Mereka tidak sadar, bahwa dibalik pintu ada seseorang yang mengintip dan tersenyum. Entah tersenyum untuk apa, hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu.
Jadi nama panggilannya Athlie.
Tok.. Tok..
"Masuk"
"Permisi, saya membawa minuman"
Nathalie lantas berdiri dan menarik Daniel, "Dia asistenku, namanya Daniel Spencer. "
"Seharusnya kau memecatnya, dia hampir tidak membiarkanku masuk. Semua pegawaimu menyebalkan," ucap Serra.
"Sudahlah Ra, ini bukan perusahaan milik Dad. Kau tidak bisa seenak jidat memecat mereka," sambung Anthonio sembari meminum minuman yang disuguhkan.
"Bagaimana kalau kita jalan malam ini, sudah lama kita tidak berkumpul," Serra meraih tangan Nath dan mengoyang-goyangkannya.
"Malam ini?? Aku.. Aku tid--"
"Stop talking, kita pergi bersama malam ini. Kau bisa mengajak Daniel."
"Daniel,apa kau mendengarnya?? Kita akan pergi malam ini."
"Maaf saya tidak bisa,anda bisa pergi sendiri." Daniel undur diri dari hadapan Nathalie.
Sialan. Pria seperti Daniel seharusnya tidak ada dimuka bumi ini. Manusia semenyebalkan dia kenapa harus ada ya Tuhan.
Tidak ingin ambil pusing Nath kembali duduk disofa, ia melihat kue didepanya. Ia sendiri bahkan lupa bahwa hari ini adalah ulang tahunnya, dulu orang terdekatnya selalu memberinya selamat.
Diluar ruangan Daniel berpikir sejenak, apakah dia harus menemani Nathalie atau tidak.
"Dia hari ini ternyata ulang tahun, kenapa bisa aku tidak menyadarinya."
Biarkan saja dia,sudah cukup dia merepotkanmu. Batin Daniel.
Dering telfon membuat Daniel tersadar, "Halo..Baiklah antarkan mereka keruang meeting..Jangan ada kesalahan."
Daniel membuka pintu ruangan Nathalie. Nath hanya menatap malas.
"Ada apa lagi,kau berubah pikiran??"
"Meeting akan segera dimulai,cepatlah."
Nath menggeram dibalik mejanya, ia merasa seperti Daniel yang bos diperusahaan ini. Nath kemudian berdiri dan mengambil berkas yang telah diberikan Daniel semalam lalu keluar dari ruangannya.
*****
Meeting mereka berjalan dengan lancar, Nath senang karna kerjasama ini berjalan dengan baik tanpa hambatan. Mereka semua berjabatangan.
''Senang bekerjasama dengan anda Miss Prime,semoga kedepannya tidak ada kendala yang berarti." Ucap rekan kerja Nathalie
"Terima kasih telah bekerja sama bersama kami,saya pastikan tidak ada kendala kedepannya Mr Wilson."
"Bagaimana kalau malam ini saya mengundang anda untuk makan malam bersama."
"Terima kasih atas undangannya,tapi saya telah memiliki janji malam ini. Mungkin lain kali saja."
Nath berjalan keluar diikuti Mr Wilson beserta sekertarisnya. Daniel sendiri masih merapikan berkas-berkas sebelum mengikuti mereka dari belakang.