
Happy Reading.....!!!
*****
Disebuah ruangan kontras warna gelap itulah kini SINTYA terbaring dengan keadaan tak sadarkan diri . Karena pengaruh obat bius dari saputangan yang membekap mulutnya , membuat SINTYA pusing dan langsung jatuh pingsan .
" Auwww " lenguh SINTYA saat kembali mendapatkan kesadarannya . " Dimana aku , kamar siapa ini.....??? " mengedarkan matanya menatap ruangan yang sangat mengerikan dan asing baginya .
" Sssttttt....." desisnya merasakan denyut pada kepalanya . " Kenapa aku bisa sampai disini " ucap SINTYA , seolah tengah melontarkan pertanyaan pada seseorang . Padahal kamar itu hanya ada dirinya , hingga sesaat kemudian ia teringat kejadian sebelum tersadar ditempat menyeramkan ini .
FLASH BACK ON.....
Saat tengah fokus dengan berkasnya , SINTYA dikejutkan bunyi notifikasi diponselnya yang menandakan ada pesan masuk dibenda pipih itu . Tanpa menunggu SINTYA membuka pesan itu " nomor siapa ini " , tapi saat membaca isi pesan itu SINTYA mengerti siapa yang mengirimnya .
βοΈXXX : SINTYA , bisa kita ketemu nanti sore ditaman dekat kantor . Ada hal yang mau gue omongin , DIMAS.....
Dan tanpa ragu SINTYA membalas pesan itu , sembari tersenyum tipis ia berikan pada DIMAS yang berada tak jauh dari meja kerjanya . Dan DIMAS pun membalas senyum canggung karena kepergok SINTYA tengah mengawasinya .
βοΈSINTYA : Ok... kita ketemu sepulang dari kantor .
Tanpa disadari bahwa pesan itu bukanlah dari DIMAS , melainkan sebuah aksi pertama yang dilakukan seseorang untuk menjebak SINTYA agar mendatanginya tanpa meninggalkan kecurigaan siapapun .
Dan akhirnya SINTYA bergegas menuju taman setelah meminta izin pada DAVID kekasihnya . Tempatnya untuk melakukan pertemuan , namun saat sampai disana ia tak mendapati sosok yang ditunggunya , bahkan hingga tempat itu sepi tapi DIMAS sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya .
Merasa bosan karena lama menunggu , SINTYA pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu karena hari juga mulai gelap . Namun tiba - tiba tubuhnya terseret dibalik semak , entah siapa yang menyerangnya ia pun tak tau .
" Lepaskan , tolong...tollll....." teriak SINTYA sekuat tenaga untuk mencoba melepaskan dirinya dari orang yang berniat jahat padanya . Namun usahanya sia - sia karena tangan kekar itu berhasil membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius . Dan sedetik kemudian kesadarannya mulai hilang , membuat tubuhnya limbung dalam pelukan pria brengsek itu .
Hingga akhirnya ia sadar kembali ditempat yang tak diketahuinya sama sekali hingga membuatnya sangat ketakutan .
SINTYA yang merasa ketakutan pun akhirnya menangis tersedu - sedu , bahkan mata indahnya pun berubah merah dan sedikit bengkak karena durasi menangis yang cukup lama .
Hiks...Hiks...Hiks.....
MAS DAVID... Tolongggg.....
Tolong... AKU TAKUT.....
Hiks... Hiksssss.....
Tangisan SINTYA terhenti saat telinganya mendengar langkah kaki yang mendekat , apalagi saat pintu terbuka dan menampilkan sosok yang sangat dibencinya . " Sudah sadar rupanya " ucapnya sembari menutup pintu kamar itu kembali .
" MAS DIDIK.....!!! " sahut SINTYA yang terkejut dengan kedatangan DIDIK ditempat yang sama .
" Aku kira kau sudah melupakanku , tapi ternyata aku salah " ucap DIDIK sembari melangkah lebih dekat kearah ranjang dimana SINTYA berada .
" Aku tidak akan melupakan pria brengsek sepertimu , kenapa kau juga disini . Dimana MAS DIMAS.....??? " sahut SINTYA yang membuat DIDIK tersenyum penuh seringai .
" Tidak ada DIMAS disini , hanya ada kita.....!!! " sahut DIDIK , tersenyum puas melihat raut wajah marah sekaligus ketakutan yang ditunjukkan SINTYA .
" Jangan bilang kau menculll_____??? kau brengsek , aku sangat membencimu DIDIK . ".....
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€
NEXT.....πππ