The Only Love

The Only Love
Kasih sayang mama



Rafka termenung membiarkan silir angin menerpa wajahnya, dia masih penasaran dengan gadis yang tidak sengaja dia lihat tadi siang otaknya memutar apa itu gadis yang selama ini dia tunggu kabarnya apa dia sudah sembuh lalu mengapa gadis itu tidak menghampirinya apa dia marah padanya karena Rafka tidak pernah menjenguknya, bagaimana Rafka ingin menjenguknya jika keluarganya saja membencinya dari kejadian kecelakaan itu, tapi itu juga bukan salahnya karena dia tidak ada di tempat kejadian saat gadis itu celaka


" Rafka " panggil Ara, saat melihat sang anak sedang di taman belakang rumah


" Eh mamah " jawab Rafka sambil tersenyum


" Kamu ngapain di sini malem malem "


" Lagi mau menghirup udara mah "


" Lagi ada masalah cerita sama mamah " tanya Ara, dia tahu jika seperti ini Rafka pasti ada yang sedang dia pikirkan karena seorang Rafka jarang seperti ini jika ingin menghirup udara malem pasti dia kumpul bersama teman temannya bukan di sini


" Gak ada masalah ko mah " jawab Rafka


" Mamah ini mamah kamu Rafka kalo kamu punya masalah cerita sama mamah " ucap Ara dia tidak mau kalo sampai anak anaknya terlibat masalah atau mempunyai masalah yang dia tidak tahu, itu kelebihan seorang Ara walaupun dia terkenal mamah yang galak tetapi dia bisa menjadi teman untuk anak anaknya jika mereka membutuhkannya


Rafka menarik nafas panjang sebelum memberitahukan ini pada Ara " tadi siang aku liat orang mirip Luna " ucap Rafka lirih tapi masih bisa di dengar oleh Ara,


" Kamu kangen sama Luna " tanya Ara dengan senyumnya dia tahu putranya ini sayang pada Luna


" Kenapa gak kamu samperin ajah ke rumah sakit " sambung Ara lagi, Rafka menoleh ke arah sang mamah


" Gak bisa mamah, keluarganya benci sama Rafka, karena Rafka yang bikin Luna koma " sahut Rafka, otaknya berputar pada kejadian tiga tahun lalu tepatnya saat mereka baru lulus dari bangku SMP


Flashback on


" Lun, kamu mau aku jemput gak " ucap Rafka di sebrang sana malam ini adalah malam perayaan kelulusan mereka dan Rafka sudah di tempat sedangkan Luna, sahabat kecil Rafka yang selalu bersama Rafka bahkan Rafka sangat menyayanginya


" Gak usah aka, aku udah mau on the way ko kamu tunggu ajah di sanah ya " jawab Luna gadis itu tengah menunggu jemputan dan pinggir jalan


" Yaudah jangan tutup telfonnya aku temenin "


" Yaudah bawel ini udah dateng aku nyebrang dulu ya " ucap Luna, tapi gadis itu tidak sadar ada mobil yang berlaku begitu kencang dari arah berlawanan


AAAA


BRUK


" Luna kamu denger aku kan lun " seru Rafka lagi namun tak ada jawaban apa apa dari gadis itu


Flashback off


Setelah kejadian itu beruntungnya Luna selamat tapi dia koma sampai sekarang, sudah 3 tahun Luna menutup matanya, Rafka tidak bisa menjenguknya karena keluarga Luna melarangnya dan menyalahkan Rafka


" Itu kecelakaan Rafka, bukan salah kamu itu takdir jadi jangan salahkan diri kamu lagi " ucap Ara dengan lembut dia tahu apa yang di rasakan Rafka selama ini


" Rafka kamu gak pernah tuh ngenalin cwe ke mamah " sambung Ara untuk mencairkan suasana, Rafka langsung menatap horor mamah nya apa nih


" Apa sih mah " sahut Rafka sengit udah males kalo jalan ceritanya ngomongin beginian


" Jangan jangan kamu gay lagi " tebak Ara yang membuat Rafka langsung melotot


" Mah jangan Ngadi ngadi deh ngomongnya, masa anak mamah yang ganteng ini gay sih " sahut Rafka, ya kali dirinya gay dia masih suka sama lobang ya, emang dia gak pernah Deket sama cwe tapi bukan berarti dirinya gay suka ajaib emang otak mamahnya


" Yaudah orang cari pacar kek masa kalah sama Vanya "


Rafka menatap sengit mamahnya " yaudah ntar Rafka cari janda juga " dan berlalu meninggalkan Ara yang melongo


" Gak gitu juga Bambang "


" Aurora kamu lagi ngapain di situ " tanya Rafka saat melihat sang adik berjongkok di depan kandang burung sang opah


Ara menatap sekilas sang Abang dan melanjutkan pandangannya ke atas dan melambaikan tangannya " Ara abis nyelametin burung bang "


Rafka mengernyit bingung " emang burungnya kenapa Ra " tanya Rafka yang penasaran menghampiri sang adik


" Kasian burungnya bang, di penjara terus jadi Ara lepasin " ucap bocah itu enteng


Rafka langsung menepuk dahinya " matilah kau Ara burung kesayangan opah loh lepasin "


Rafka langsung meninggalkan sang adik yang masih terlihat bahagia, bingung sungguh bingung apa yang di pikiran bocah itu, sudah lelah Rafka seperti ini tolong malaikat Munkar nakir jangan kalian tertawakan kebodohan adik ku