The Only Love

The Only Love
me time



" Gue tau loh suka sama dia " ucap Farensca yang sedang meminum tea jus di kantin sekolah, padahal banyak minuman yang lebih mahal tapi gadis itu  pecinta tea jus apalagi minumnya pas jam istirahat seperti ini, orang yang di sindir gadis itu langsung menunduk


Kini mereka sedang berkumpul di kantin sekolah karena waktu istirahat


" Iya yan, gak usah di tutupin " sahut Lula


Kayana- gadis itu menarik nafasnya dan membuangnya kasar, memang apa yang di bicarakan temannya tidak lah salah, kini gadis itu tengah memperhatikan seseorang yang sedang memakan soto bersama sahabat sahabatnya yang meja nya tak jauh dari mereka, gadis itu juga dapat melihat bahwa pria itu tidak banyak bicara dia cukup fokus pada makanannya tidak memperdulikan sahabat sahabatnya yang heboh


" Emang Devon itu kek es balok " Amanda pun ikut menimbrung, jika sedang istirahat seperti ini pasti gadis itu selalu berpihak pada sahabat sahabatnya dia bisa membagi waktu antara Ervan dan teman temannya


" Menurut loh" sahut Lola


Memang yang sedang di bicarakan mereka adalah Devon, pria paling waras di antara Rafka dan teman temannya dia juga jarang berbicara lebih sering mempraktekkan nya, sudah lebih sebulan ini Devon dan kayana dekat, pria itu sering mengantar kayana pulang sekolah atau sesekali menjemputnya, tapi bukan berarti kayana gadis yang gampang bawa perasaan, gadis itu sudah menyukai sosok Devon sejak dia menginjakkan kaki di SMA Altarik tanpa sepengetahuan teman temannya maka dari itu dirinya sangat senang pria itu selalu mengajaknya pulang bersama, tapi dia juga tidak tahu apa yang di rasakan laki laki itu padanya dia terlalu bodoh dengan urusan cinta bahkan bisa di bilang ini cinta pertamanya


" Gue gak tahu dia punya rasa yang sama atau gak " Ucap kayana memberi senyuman terbaiknya pada teman temannya, dia tahu teman temannya mengkhawatirkan nya


" Loh jangan bohongin perasaan loh sendiri, buat apa kita jadi sahabat kalo loh gak mau cerita ke kita " jelas Farensca, dia juga sebenarnya buta akan hal cinta tapi ingatkan seorang jomblo bahkan sangat bijak jika menasehati soal perasaan


" Iya bener apa perlu gue tanya Ervan " kayana dan yang lainnya langsung melotot mendengar ucapan Manda, bodoh sekali sama saja dia yang menyatakan perasaannya duluan


" Jangan bodoh " toyor Lula yang berada di sebelah gadis itu


" Sama ajah kayak si kayana nyantain perasaannya ke Devon " lanjut Farensca


" Iya juga ya " gumam Amanda, di bilangin Amanda otaknya setengah, si kayana mah udah ketar ketir sama Amanda takut di bilangin beneran berabe mending kalo Devon nya punya perasaan yang sama kalo gak? Ya kan nyeseg


Setelah waktu istirahat selesai, dua manusia beda gender itu di panggil oleh kepala sekolah untuk menghadapnya entah lah apa yang ingin di sampaikan, kalo di hukum? Gak mungkin mereka kan tipikal murid rajin walaupun kadang suka belok ke tawuran, bolos, ngerokok tapi itu berlaku buat pria yang sedang duduk santuy dengan dasi yang ia ikatkan di kepala, di samping gadis dengan bando hitam di kepalanya


" Rafka dasi itu tempatnya di leher bukan di kepala " intruksi, perempuan paruh baya di hadapan mereka


" Saya menjunjung tinggi martabat Bu makanya dasinya saya taro di kepala " jawab Rafka dengan entengnya


" Jaka sembung makan lontong, gak nyambung tolong " sahut gadis di sampingnya yang tak lain Farensca


" Jadi ada apa gerangan ibu memanggil saya dan setan ini kesinih " lanjut gadis itu


" Jadi kalian mau tidak jika di ikut sertakan lomba sains Matematika tahun ini?" Tanya ibu kepala sekolah, memang sih mereka ini sudah kelas dua belas yang seharusnya sudah tidak memikirkan hal seperti ini lagi karena harus fokus dalam ujian kelulusan nanti


" Aku sih mau mau ajah Bu" jawab Farensca


" Kenapa gak kelas sebelas ajah Bu " lain dengan jawaban Farensca, bukanya Rafka menolak tapikan pasti banyak yang menginginkan posisi ini untuk mewakilkan sekolah


" Ya memang niat ibu seperti itu tapi melihat kalian yang lebih menguasai nya jadi ibu berfikir buat ajuin ke kalian, ini untuk yang terakhir kalinya " jelas ibu kepala sekolah


" Karena saya ganteng baik hati dan tidak sombong, jadi saya mau menerimanya " ucap Rafka dengan PD nya membuat Farensca tidak tahan untuk menggeplak kepala pria itu


" Gak usah sok! "


" Terus kapan? Dan dimana Bu " lanjut gadis itu


" Lombanya seminggu lagi, dan lokasinya di Jakarta jadi kalian bisa punya waktu untuk belajar " Farensca hanya ber oh iya


" Jakarta" beo Rafka


" Kenapa? "


" Oh gak, berarti gak terlalu jauh dari Bandung "


" Yaudah kalian boleh masuk ke kelas, dan jangan lupa belajar mempersiapkannya karena ini lomba sains terakhir kalian " jelas ibu kepala sekolah


" Siap Bu, saya mah gak usah belajar juga udah pinter " sahut Rafka dengan bangganya, lama lama Farensca muak di sinih melihat kesombongan laki laki di sampingnya sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi Farensca langsung pamit undur diri


 


" Gua laper ren " mereka berdua sekarang berada di motor Rafka, jika ditanya Rafka bisa mendapatkan motor, jawabnya karena mamahnya sudah membolehkannya lain cerita lagi jika dirinya ketahuan balapan


" Makan bodoh! " Ketus gadis yang sedari tadi sedang menggrutu


" Yaudah kita berhenti di cafe dulu ya " tanya Rafka


" Gak usah di pinggir jalan sanah ajah ada jual bakso " tunjuk Farensca pada penjual bakso yang tak jauh dari mereka


Setelah memberhentikan motornya, Farensca segera turun dari motor Rafka, dan pria itu juga membuka helmnya mengikuti jalan gadis di sampingnya


" Emang di sini bersih ren " Rafka- pria itu baru pertama kalinya makan di tempat seperti ini jadi dia tidak tahu rasanya seperti apa apalagi melihat tempatnya di pinggir jalan seperti ini


" Bersih bawel " jawab Farensca dan menarik pria itu untuk mendekatkan pada meja yang ingin mereka duduki


" Mang Udjo bakso 2 ya mang campur " seru Farensca pada penjual bakso langganannya


" Eh siap neng "


" Loh sering makan di sinih " tanya Rafka, pria itu mengambil tisu yang di sediakan di meja tersebut dan mengelapnya


" Sering banget " jawabnya acuh


" Emang bersih apah " tanyanya lagi membuat Farensca jengah, gini nih kalo hidupnya gak pernah ngerasain susah, mana enak makan di restoran harga tinggi porsi secuil, itu mah cuman sampe tenggorokan dia doang mending di tempat kaya gini udah murah porsi banyak lagi, ya walaupun dia ini termasuk orang mampu


" Bersih! Lama lama mulut loh gua sumpel pake sambel nih " tunjuk Farensca pada sambel yang berada di depannya


" Ren berarti kita belajar bareng dong buat sains " Ucap pria itu menarik turunkan alisnya


" Dih ogah, mending belajar sendiri " Farensca mah udah hapal banget tukang modus macam Rafka


" Ya elah ren gak boleh gitu kan biar kompak "


" Dih siapa situ maksa maksa " ketus Farensca


" Ayolah ren, kalo gak gua gak mau iku sains " sahut Rafka, bahkan nada bicara pria itu lebih ke merengek


" Yaudah gak usah ikut ribet! " Mana ampuh Farensca di bujuk kaya gitu gelayy pisan liat mukanya Rafka


" Gua teraktir cilok bi Kokom selama seminggu dah " putus Rafka


" Yaudah! " Kalo masalah cilok bolehlah di pertimbangkan lagian hanya belajar kan tidak lebih bisa irit irit duit jajan dia, lagian buat Rafka mah kaya gitu gak ada apa apanya


Farensca memang lebih sering memakan makanan di pinggir jalan seperti ini selain enak dan murah dia juga bisa menghemat, walaupun orang tuanya orang berada tapi dia tidak pernah di nafkahi oleh papahnya, dari dia kecil semua biayanya di tanggung mamah dan terkadang neneknya, sedangkan Bima tidak pernah sekalipun mengeluarkan uangnya untuk dia, makanya dia tidak mau terus menyusahkan orang lain, ya bisa saja jika dia memintanya pada nenek neneknya ataupun pada Lucas tapi dirinya tidak mau dia lebih memilih buka usaha fashion di Bandung untuk biaya kebutuhannya walaupun butik fashion itu belum besar dan bercabang tapi lumayan bisa memenuhi kebutuhannya, itu sebabnya juga dirinya sering berjalan kaki kemana mana, walaupun dia memiliki mobil pemberian neneknya


" Ieu neng baksonya silahkan " suara mang Ojo membuyarkan lamunan Farensca dan tersenyum ke arah tukang bakso itu


" Makasih ya mang, ini kaya biasa kan mang yang punya faren gak pake daun bawang "


" Iya atuh neng sok atuh di makan, ieu teh pacarnya ya neng " tanya mang Udjo yang baru kali melihat Rafka dengan Farensca


" Calon mang doain ya " bukan Farensca yang menjawab tapi Rafka, membuat gadis itu langsung melebarkan matanya idih ogah banget jangan sampe malaikat ngaminin


" Eh iya atuh orang kasep Jeung geulis, yaudah ya neng mang ke belakang dulu "


" Iya mang "


" Loh kalo ngomong di jaga mau gue bunuh " ketus Farensca sambil menuangkan sambel ke dalam baksonya


" Bercanda ren baper banget, gua ge gak mau sama cwe Julid kaya loh " kan belum mingkem mulutnya udah ngeselin ajah tuh orang


" Yaudah bagus, apalagi gua ogah sama makhluk astral kaya loh! "