The Only Love

The Only Love
Family Time



"RAFKA" teriak seorang wanita cantik dari arah ruang makan, ya dia Ara ibu dari dua anak bahkan wajah tidak keliatan dia sudah memiliki anak dewasa


" RAFKA " teriaknya lagi, si Rafka mah masih enak enak tidur tanpa terusik, sedangkan keluarga yang lainnya cuman Belen ludah doang denger Ara teriak teriak begitu liat ajah bakal ada perang dunia setelah ini


" Udah Ra jangan marah marah " ucap Evrian menenangkan istrinya, salah sendiri tadi dia keceplosan si Rafka tadi malem ikut balapan


" Gak usah pegang pegang, siapa yang izinin dia balapan hah " cerca Ara yang membuat Evrian kicep, sikap Evrian berubah 180° bila dia ada di rumah dengan keluarganya bahkan Evrian yang terkenal dingin itu sangatlah bucin dengan sang istri sifatnya 11 12 dengan anak sulung


" Bang Rafka bangun bang " ucap Ardian anak kedua Zia dan Arkan anak itu terus mengguncang tubuh sang Abang yang sangat kebo ini


" Bang, itu Tante Ara marah marah manggil loh " ucapnya lagi yang sukses membuat Rafka langsung terperanjat mendengar nama sang mamah di sebut habis lah dia kali ini


" Mampus gue, mamah marah marah " tanya Rafka panik


" Iya noh dari tadi loh di teriakin " jawab Andrian


" Aduh jangan jangan dia tahu gue balapan lagi " gumam Rafka langsung mencari handuknya untuk segera mandi sebelum di bawain golok sama mamahnya


" Iya orang tadi om Evrian gak sengaja keceplosan " sahut Andrian dan meninggalkan kamar Rafka


" Sialan banget bapak gue pake segala keceplosan astagfirullah siap siap nyiapin kuping dah gue " gumam Rafka langsung memasuki kamar mandi


" Awas ajah tuh bapak Evrian "


Rafka berjalan menuju lift untuk membawanya sampai ruang makan didalam lift mulutnya tak henti henti membaca ayat kursi takut hari ini terakhir kali dia melihat dunia gua ngapain baca ayat kursi goblok emak gua setan dong gue bacain ayat kursi gumamnya


" Hai " sapa Rafka pada semua anggota keluarganya yang berada di ruang makan dengan senyum konyolnya


" Rafka siapa yang izinin kamu balapan hah " serang Ara pada anak sulungnya yang lain hanya memerhatikan perang antara ibu dan anak itu tanpa mau memisahkan dari pada entar kena semprot juga


" Eh anu mah itu apaya " jawab Rafka dengan gugup bahkan terkesan menjadi orang bego


" Jangan anu anu Bae, mamah buang sekalian motornya "


" Aduh Ra jangan, sayang " bukan Rafka yang menjawab tapi Evrian lah sayang ya kali motor nya cuman serebu dua rebu lah harga motor nya Rafka setara Ama harga mobil bapaknya


" Apa sayang sayang " geram Ara yang langsung membuat Evrian menutup mulut dari pada entar malem gak di kasih jatah kan berabe


" Orang Rafka gak balapan ko mah, cuman main ajah pake motor " elak Rafka


" Alesan! Papah tadi yang keceplosan Ara sama Arin juga ngomong sama mamah " semprot Ara lagi membuat Rafka menatap nyalang pada dua bocil yang asik memakan sarapannya kurang ajar emang sogokan nya kurang apa ya padahal dia sudah membelikan dua bocil itu se boks coklat dan juga ice cream


" Gak usah natap begitu Rafka pokonya duit jajan kamu mamah potong, dan jangan sentuh sentuh motor kamu lagi dan satu lagi kalo main pulang jangan lewat jam 10 " finis Ara membuat Rafka membulatkan matanya apa nih duit jajan potong lah gile ya, walaupun duit jajan dia banyak sih ya tapikan ah udahlah nyesel si Rafka tadi malem keluar, mana balapannya kaga jadi gara gara si judes apes banget


" GAK USAH BANTAH, KEMAREN ADA ANAK YANG MENINGGAL GARA GARA TUKANG BANTAH EMAKNYA " sambung Ara, Rafka hanya menelan ludah susah payah ini gimana ceritanya emaknya nyumpahin dia mati gitu sungguh teganya ya Allah


" Mah, pah Vanya pamit dulu ya " ucap seorang gadis cantik yang umurnya hanya beda satu tahun dengan Rafka dia Vanya Azquella Anak sulung Zia dan Arkan kakanya Ara berarti adek sepupunya Rafka dan Kaka kandungnya Andrian


" Emm, itu pah Vanya mau cari materi buat ujian " jawab Vanya


" Halah bilang ajah mau kencan Ama duda sebrang rumah " samber Rafka sambil memulai sarapannya, dan Vanya langsung menginjak kaki Abang nya dengan keras


" Aduh goblok kaki gua " ringis Rafka emang cwe di rumah nya bar bar banget dah ga ada gitu dia kenal cwe manis


" Rafka ngomongnya "


" Maaf omah "


" Beneran Van mau jalan sama om Ilham " tanya Zia, bukan apa apa dia juga sering mendengar bahwa anaknya sedang dekat dengan pria yang di sebut rafka


Ilham adalah seorang duda berumur 29 tahun dan beranak satu yang tinggal di sebrang rumah Aslan dan Smith, memang akhir akhir ini Vanya dekat dengan dia apalagi dengan anak perempuan Ilham, bahkan Ilham sering di sebut hot Daddy karena wajahnya yang tampan dan karir bisnisnya yang melejit


" Gak ko mah, Vanya mau ke toko buku beneran " elak vanya


" Yaudah hati hati "


" Eh di anterin sama Rafka ajah dari pada dia nganggur di rumah " ucap Ara


" Ko aku mah, aku mager banget keluar panas " sahut Rafka


" Halah lebay udah buruan kamu anterin Vanya "


" Apes dah apes gua " gumam Rafka langsung menyelesaikan makanannya


" Buruan kaga pake lama " ucap Rafka pada Vanya sekarang mereka sudah berada di toko buku terdekat dari kompleknya sebenarnya deket kata Vanya, kalo kata Rafka jauh orang Ampe sejam kan pegel tangannya nyetir


" Iya bawel dah " jawab Vanya ketus, titisan kutub ngikut bapaknya yang dikit ngomong, eh tapi Jan salah dingin dingin seleranya duda kalah dia ge jadi Abang untung ajah dia perpaduan yang sempurna antara Evrian dan Ara, kalo Evrian dingin dan kalo Ara bar bar jadilah dia


Rafka mengedarkan pandangannya pada penjuru toko buku ini memang rame kata Vanya toko buku terkenal, pria itu menyipitkan matanya saat melihat salah satu objek yang membuatnya terdiam


" Lu-- Luna " ucapnya kelu sambil mengucek matanya takut dia salah orang tapi tidak mungkin karena Luna kan sedang koma mengapa dirinya ada di sini apa dirinya hanya berhalusinasi karena terlalu rindu dengan gadis itu


Duk Duk Duk


"Bang woyy " seru Vanya sambil memukul jendela mobil karena tak kunjung di bukakan oleh Rafka


" Eh astagfirullah " ucapnya saat sadar ada yang menggobrak jendelanya dengan tidak sopan, Rafka langsung membuka pintu mobil saat tau orang itu adalah Vanya


" Lama banget bukanya liatin apa sih loh " ketus Vanya


" Aelah, Luh lagian cepet amat beli bukunya "


" Tadi kan Luh suruh cepet "