The Only Love

The Only Love
Sepenggal perasaan



Jam menunjukkan pukul 09.30 di mana hari ini mereka lebih memilih order dari luar sekolah, sebenarnya tidak boleh membeli makanan di luar sekolah karena Farensca memiliki otak cerdas dengan membabukan Rafka agar bisa memesankanya karena tidak ada yang berani melawan pria itu disini dan jadilah sekarang mereka memilih untuk makan di dalam kelas yang sepi karena sebagian masih ada yang di kantin dan sebagian lagi ada yang melihat tanding basket di lapangan


" Eh nanti abis makan kita ke lapangan basket " tanya kayana sambil memakan makanannya


" Iya dong " jawab Lula antusias membuat yang lainnya terkekeh, bagaimana tidak antusias jika bertemu dengan sang pujaan hati, ya Lula dan Mario sudah resmi jadian seminggu yang lalu walaupun sering sekali terjadi drama antara mereka karena Mario masih sering mengumbar kebaperan kepada para perempuan


" Eh tahu gak " seru Amanda membuat Farensca Lula dan kayana mengalihkan atensi mereka


" Kemaren papih gue kasih gue Chronograph Watch, jam tangan yang gue idam idamin banget, dan Lo tahu papi gue ternyata tahu gue pacaran sama ervan apalagi ervan sendiri yang minta izin ke papi gue " jelas Amanda antusias


" Wih gila sih Lo bisa gitu pacaran diem diem sampe 3 tahun " tanya Lula tak percaya mereka pikir Amanda menjalin hubungan terang terangan dengan orang tuanya ternyata tidak


Gadis itu tersenyum kikuk " hehehe Lo kaya gak tahu aja papi gue ka orang nya sibuk banget, mana ada waktu "


Lula menganggukkan kepalanya "iya juga sih, eh pas gue ulang tahun bokap juga ngasih kado Leiber Precious Rose " seru Lula antusias membayangkan koleksi tas tas mahalnya, memang mereka mempunyai koleksi dan kegemaran yang berbeda, jika Amanda senang mengoleksi jam tangan branded maka Lula senang mengoleksi tas branded yang bahkan harganya bisa mencapai 20 miliar, dan jika Kayana senang sekali mengoleksi sepatu dan outfit lainnya, sedangkan Farensca dia bisa memakai barang apa aja asal dia nyaman dengan barang itu


" Dan si Mario udah Deket sama bokap gue padahal bokap gue kan tipikal orang yang susah di deketin " lanjut Lula


Farensca tersenyum getir mendengar cerita antusias sahabat sahabatnya mengagungkan ayah mereka, bahkan di saat pembahasan seperti ini dia tidak punya cerita yang ia bisa banggakan, dia jadi mengingat kejadian kemarin di mana papahnya dengan antusias memberikan hadiah pada saudara tirinya karena pria itu habis ke Swiss karena pekerjaan tapi itu hanya untuk saudara tirinya bukan untuk dia bahkan dia yakin papahnya pun tidak ingat dia memiliki anak lain


Kayana ga menyadari perubahan raut wajah Farensca buru buru mengkode Amanda dan Lula untuk mengganti topik cerita mereka


" Apa sih yan " kesal Lula karena kakinya yang di injak oleh kayana, yang langsung memberi kode gadis itu agar diam


Lula meringis saat dia menyadari topik ceritanya melukai perasaan Farensca " em maaf ya ren kita gak bermaksud " ujar Lula yang di angguki oleh Amanda


" It is okey " jawab Farensca dengan senyum manisnya


" Yaudah mending sekarang kita ke lapangan aja, makanannya udah abis kan " ucap Kayana mencairkan suasana yang ada


___


Setelah menyelesaikan pertandingan nya Rafka berlari ke arah Farensca yang menunggu di tempat area penonton di sana, pria itu langsung duduk di sebelah Farensca dengan nafas yang belum teratur


" Nih " ucap Farensca sambil menyerahkan sebotol air mineral yang ia bawa tadi dan juga handuk kecil yang sering Rafka bawa jika ada pertandingan seperti itu


Rafka tersenyum meraih botol minum dari tangan gadis itu " makasih " ucapnya lalu meneguk habis air di dalamnya


Farensca dengan telaten mengelap keringat pria itu dengan handuknya melihat betapa sempurnanya ciptaan tuhan yang ada di hadapannya karena dengan Rafka berkeringat seperti ini membuat kadar ketampanan pria itu meningkat, bahkan hubungan yang di dasari keterpaksaan ini sudah terjalin satu bulan, Farensca juga sudah menerimanya bahkan mungkin sudah memiliki rasa pada Rafka


" Kenapa ganteng ya " ucap Rafka yang menyadari bahwa gadis itu memerhatikanya


" Dih GR " balas Farensca kesal


Rafka terkekeh kemudian membawa tangan gadis itu ke wajahnya agar Farensca mengelap keringatnya kembali


" Nanti pulang sekolah mau kemana " tanya Rafka sambil memejamkan matanya


Farensca menautkan telunjuknya pada dagu " em, ke mini market boleh? " Tanyanya menatap wajah Rafka


" Boleh dong " jawab Rafka sambil mengacak pelan rambut gadis itu


" Yaudah yuk, aku mau ganti baju dulu " Rafka bangun dari duduknya kemudian menarik pelan tangan Farensca agar mengikutinya


Sesuai janjinya setelah pulang sekolah Rafka mengantarkan Farensca untuk ke mini market, dan setelah itu mereka memutuskan untuk duduk di taman yang tak jauh dari sekolah mereka


" Mau dong " ujar Rafka menatap Farensca yang sedang asik memakan ice cream nya


Gadis itu membuka plastik mini marketnya kemudian mengambilkan ice cream untuk Rafka


" Nih " Farensca memberikan ice cream itu tapi di bales gelengan oleh Rafka


" Mau yang itu aja " tunjuk Rafka pada ice cream yang berada di genggaman gadis itu


Farensca mengangguk kemudian menyodorkan ice cream nya ke bibir pria itu


Deg


Rafka mematung di tempatnya melihat siapa yang telah memanggil namanya bahkan rasanya jantungnya ingin lepas dari tempatnya melihat gadis yang tersenyum ke arahnya


" L..Luna " gugupnya menatap gadis yang tersenyum ke arahnya


Gadis itu mengangguk untuk mengiyakan tebakan pria itu, Rafka dengan langkah cepat menghampiri gadis itu kemudian memeluknya dengan erat, sungguh kali ini bukan mimpi dia bisa bertemu dengan Lunanya lagi yang 3 tahun ini ia rindukan ke hadiranya


" Ini beneran Luna kan " tanya Rafka tak percaya menangkup kedua pipi gadis itu


Farensca merasakan hatinya seperti tercabik melihat adegan di depannya yang membuat dia terkejut, dari mulai tatapan Rafka pada gadis itu dan antusias nya Rafka pada gadis itu, bahkan rasanya baru kemarin dia merasa bahagia karena memiliki Rafka tapi nyatanya tidak dengan kenyataan satu ini, apa hubungan Rafka dengan anak papahnya itu? sampai pria itu sangat antusias, bahkan sudah bisa ia tebak hidupnya tidak akan baik baik saja sekarang


" Iya aka ini Luna " jawab gadis itu dengan senang


" Aka seneng banget bisa ketemu Luna lagi " ucap Rafka memeluk gadis itu lagi


" Luna juga seneng banget, bisa ketemu aka lagi "


" Kenapa gak ngomong kalo Luna udah sembuh " tanya Rafka, bahkan terakhir dia melihat kondisi gadis itu Luna belum ada perubahan sama sekali


" Mau Luna ceritain gak? Ikut Luna yuk " ajak Luna yang langsung di angguki oleh pri itu


Farensca menatap kecewa Rafka saat pria itu dengan gampangnya menyetujui permintaan Luna apa dia lupa masih ada dirinya di sini


Rafka membalikkan badannya menghadap Farensca di sana yang masih mematung " ren kamu pulang sendiri ya, aku mau pulang sama luna. Apa mau aku pesenin taxi " ucap Rafka tidak sabaran


" Gak usah aku bisa pulang sendiri " Farensca berusaha menampilkan senyumnya walau terpaksa


" Yaudah nanti kalo udah sampe rumah kabarin aku ya " Rafka kemudian menggandeng tangan Luna ke arah mobilnya dan mengajak gadis itu pergi


" Bahkan kamu gak tahu kalo aku sama Luna satu rumah ka " lirihnya, entah sejak kapan perasaan ini tiba membuat dia merasa sesak melihat Rafka seperti itu


Farensca menghapus air matanya kemudian memilih berjalan kaki menyusuri jalan untuk pulang, tapi dia juga takut Luna akan membawa Rafka ke rumahnya dan berakhir dia melihat adegan mereka lagi


Tin tin


" Ren "


" Alan " ucap Farensca melihat motor yang berhenti di depannya


Alan-pria itu memakirkan motornya kemudian membuka helmnya dan menghampiri Farensca yang masih duduk di sana


" Alan ngapain di sini " tanya Farensca karena setahunya rumah Alan bukan lewat arah jalan sini


" Tadi gak sengaja liat cwe cantik sendirian jadi langsung samperin deh " jawab Alan sambil mendudukkan dirinya di samping Farensca


Farensca terkekeh mendengar jawaban pria itu " kata siapa? Orang tadi sama Rafka kok "


" Tapi Rafka nya malah pulang sama cwek lain " ujar Alan membuat Farensca terdiam berarti Alan melihatnya tadi


" Lagian bodoh banget Rafka ninggalin berlian sendiri di sini kalo di comot orang gimana " lanjutnya membuat Farensca mencubit lengan pria itu


" Gak usah gombal Alan " kesal Farensca


" Pulang bareng gue yuk " ajak Alan


" Tapi rumah kita kan gak searah " kan kasian kalo misalnya Alan harus muter balik mengantarkannya lagian dia sangat malas untuk pulang ke rumah


" Gak papah asal bensin gue di bayar " kata Alan sambil menarik tangan gadis itu


" Ih seriusan minta bayarin bensin " tanya Farensca tak percaya masa cwok tajir kaya alan minta bayarin bensin


" Gak gue bercanda yaudah ayok tar keburu ujan " jawab Alan menyerahkan helm pada Farensca