
Kenapa engkau ambil dia Tuhan di saat aku mulai menerimanya
Dua hari sudah dirinya berada di Jakarta dan sekarang waktunya dia pulang, gadis dengan rambut panjangnya itu tak henti hentinya tersenyum dia tidak sabar untuk cepat pulang dan menemui ibunya untuk memberitahu kabar baik ini kalau dia berhasil mendapatkan juara lagi, apalagi selama ini Naima tidak pernah tahu kalo dia sering mengikuti lomba
Dan jangan lupakan pria yang sedari tadi mengintilinya, sebenarnya Farensca sudah melarang Rafka untuk mengantarkannya tapi tetap saja yang namanya Rafka itu keras kepala gak mau ngalah pengen menangnya sendiri
Langkah mereka itu terhenti saat melihat banyaknya gerombolan orang di rumah Farensca, bahkan senyum yang dari tadi ia pancarkan seakan sirna begitu saja tergantikan rasa takut, bahkan piala yang ia pegang sudah jatuh ke tanah dan terbelah dua, detak jantungnya bahkan berpacu cepat saat mendengar banyak orang yang sedang membaca Yasin di rumahnya
Tanpa tunggu lama gadis itu langsung berlari untuk masuk ke dalam rumah, bahkan di sana sudah ada kerabat mamahnya bahkan ada Tante Dewi dan suaminya di sana, Dewi menatap sendu ke arah gadis yang masih berdiam di depan itu, Dewi berjalan ke arah Farensca dan memeluk gadis itu
" I,,ini ada apa Tan " tanyanya lirih, bahkan untuk bersuara pun rasanya sangat sakit sekali walaupun dia tidak tahu ini kenapa
" Kamu yang sabar ya sayang " jawab Dewi yang membuat Farensca semakin bingung
Farensca menatap ke arah bi Inah yang sama sama sedang menangis
" Biiii " Panggil Farensca lirih, mata gadis itu teralih pada seorang yang sudah terbungkus kain kafan, dengan pasti tangannya terulur membuka kain yang menutupi wajah itu
Jantungnya seakan berhenti melihat pemandangan di depannya, tangan mungilnya sebisa mungkin menutup mulutnya agar tidak berteriak tapi tidak bisa bahkan seakan dunianya runtuh
" Mah,, " ucapnya lirih dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, di depannya sekarang adalah tubuh mamahnya yang sudah kaku bahkan senyum yang beberapa hari ini dia lihat sudah tidak ada, bahkan tangan yang kemaren masih terasa hangat kini sudah terasa dingin tak bernyawa
" MAMAH " histeris gadis itu sambil menggoyang goyangkan tubuh kaku Naima, kenapa jadi seperti ini ya tuhan
" MAMAH BANGUNNN, KATANYA MAMAH MAU LIAT AKU PULANG DAPET JUARAKAN? KENAPA MALAH TIDUR KAYA GINI " teriaknya lagi bahkan suara gadis itu terlihat pilu bagi yang melihatnya
" Mahh,, faren udah maafin mamah kok bener deh bahkan faren belum pernah ngerasain banyak kasih sayang mamah "
" Bahkan kita juga sepakat kan mah mau bales papah, kalo mamah pergi kaya gini siapa yang bantuin faren mah,,, hiks,,, "
" Mamah kan tahu papah jahat sama faren, nanti faren sama siapa mah "
" MAMAH BANGUN MAH, FAREN GAK BAKAL MAAFIN MAMAH KALO MAMAH GAK BANGUN " Rafka bahkan menitikkan air matanya melihat gadis yang biasanya selalu kuat kini malah terlihat terpukul
Rafka- pria itu berusaha memeluk dan menenangkan Farensca yang histeris bahkan hatinya rasanya sakit melihat Farensca sampai seperti ini, gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rafka menyalurkan sesak di dadanya
" Ka, mamah " ucapnya lirih sambil menepuk beluk dadanya yang terasa sakit
" Udah ya, nanti Tante Naima sedih " balas Rafka yang membuat Farensca semakin mengencangkan tangisannya di dada bidang Rafka
Rafka juga tahu penyebab Naima meninggal karena apa, dia juga sama shoknya dengan Farensca, Rafka mengelus elus punggung gadis di dekapannya seolah memberikan kekuatan dari sana
" Mamah kenapa ninggalin aku mah " lirihnya, bahkan seolah dunia tidak rela jika melihat dirinya bahagia, dia belum lama merasakan gimana hangatnya kasih sayang seorang ibu dan kini tuhan malah mengambil mamahnya dari dia
___
Farensca menatap nanar pada gundukan tanah di depannya, baru 2 menit lalu mamahnya di kebumikan, dia juga tidak henti hentinya menangis seolah air matanya tak akan pernah habis
Rafka mengusap punggung gadis itu mencoba menenangkannya, dia tahu pasti saat ini Farensca sangat terpuruk dengan kejadian yang sangat tiba tiba ini, teman temannya juga ada di sana mereka juga sangat kasihan melihat Farensca yang seperti itu
" Ekhm" dehem seseorang membuat semuanya mengalihkan pandangannya termasuk Farensca yang semakin sesak di dadanya saat melihat orang itu
" Hebat ya bahkan ibu saya baru selesai di kubur anda bawa perempuan lain kesini " sentak Farensca menatap nyalang laki laki di hadapannya
Gadis itu menghapus air matanya dengan kasar, mengapa jahat sekali ayahnya berani membawa wanita lain ke makam istrinya yang masih basah, apa dia tidak punya perasaan sama sekali
" Masih untung saya mau ke sini " jawab Bima membuat hati gadis itu seakan tertimpa batu
Gadis itu menarik nafasnya dalam dalam " papah " lirihnya dengan air mata yang terus mengalir
" Apa papah gak pernah sedikitpun ada rasa sayang buat mamah, setidaknya faren bisa menerima kalau papah gak anggep faren ada tapi tolong pah hargain mamah apa papah gak bisa " ucap Farensca
Bima hanya mendengus mendengar ucapan Farensca " itu salah mamah kamu yang gak pernah mau batalin perjodohan itu jadi jangan salahkan saya "
" PAPAH TUH LAKI LAKI BRENGSEK YANG PERNAH FAREN KENAL " histerisnya menumpahkan segala beban yang ada di hatinya
Plak
" OM! " sentak Rafka saat melihat Bima dengan teganya menampar Farensca, bahkan yang lainnya pun sudah menahan Bima, apa dia tidak punya hati sama sekali
Gadis itu memegang pipinya yang terasa panas karena saking kuatnya tamparan Bima tapi ini tidak seberapa dengan rasa sakitnya selama ini
" Sabar ren " ucap Lula sambil menenangkan gadis itu, tapi Farensca malah berlari meninggalkan mereka karena tidak tahan melihat sang ayah
Mamah liat kan papah jahat sama faren mah, kalo mamah pergi sekarang faren sama siapa
Apalagi satu fakta yang membuatnya tambah terpuruk, kalo mamahnya meninggal di duga bunuh diri di kamarnya dengan pisau yang berada di tangannya, tapi Farensca tidak percaya itu mana mungkin mamahnya bisa melakukan itu padahal dia sudah berjanji dengan Farensca akan menembus semua kesalahannya
" HAAAAAAAAAAAAA " teriak Farensca dengan kuat bahkan melampiaskan semua kekesalannya, otaknya buntu saat ini tidak tahu harus apa harus bersikap seperti apa mungkin detik ini dan seterusnya hidupnya akan lebih rumit, gadis itu menjabak rambutnya dengan kencang terduduk di aspal jalan bahkan dadanya terasa sesak sekali melihat pemandangan ayahnya yang seperti itu sampai ada tangan kekar yang memeluknya dengan erat
" Nangis aja gak papah selagi bisa buat Lo tenang " ucap Rafka sambil memeluk erat Farensca dan membuat gadis itu semakin mengeraskan tangisannya
" Tu,,,tuhan itu gak adil, kenapa di saat gue udah mulai menerima sosok mamah, kenapa dia ambil hiks,,, hiks " lirihnya dengan dada yang naik turun
" Sttt,, tuhan itu baik, dia lebih sayang tante Naima "
" Gue udah gak punya siapa siapa lagi " Rafka melepaskan pelukannya dan menatap sendu Farensca bahkan mata gadis itu sudah membengkak karena tidak berhenti menangis
Rafka menangkup kedua pipi gadis itu dan menghapus air mata yang ada di pipinya " dengerin gue Lo gak sendiri, masih ada gue ada temen temen Lo, ada Abang Lo ada Tante sama om Lo bahkan kita semua ada buat Lo ren, jadi jangan berfikiran kalo Lo gak punya siapa siapa oke "
Bukanya menjawab Farensca malah memeluk Rafka dengan erat sampai mencengkeram kuat kemeja pria itu " papah jahat sama mamah, dia gak pernah mikirin perasaan mamah "
" Iya emang, yaudah jangan nangis lagi ya kasian matanya " jawab Rafka sambil mengelus punggung gadis di dekapannya
" Gue gak mau tinggal sama dia " ucapnya dengan sesenggukan
" Terus gimana sama amanah mamah Lo kalo Lo gak tinggal di sana " tanya Rafka membuat gadis itu terdiam, dia teringat dengan kotak yang di berikan bi Inah kepadanya karena bibi menemukannya di laci dekat mamahnya
Lo tenang aja ya ren gue bakal bantu Lo terus, hati gue sakit ren liat Lo kaya gini gumam Rafka