THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 9 - MB 3



ALEXANDER HIGH SCHOOL


Sekolah elit terkenal dengan anak anak gengster yang di takuti dikota itu, berdiri megah, di tengah tengah kota. Peraturan ketat yang di berlakukan oleh pihak sekolah untuk semua murid tapi tidak berlaku untuk Lee, salah satu anak populer dan terkuat di sekolah itu. Dia dan genk nya menguasai dan di takuti semua murid tanpa terkecuali, siapa yang lemah akan menjjadi bulan bulann buly-annya.


Salah satu siswi yang sering di buly nya adalah Sachi, gadis cantik namun memiliki postur tubuh yang gendut dan tidak terawat. Selain Sachi, ada salah satu siswa cupu yang selalu menjadi korban buly Lee dn genk nya, siswa tersebut bernama Rha Woon.


Siang di jam istirahat, nampak anak anak berkumpul di ruangan yang berukuran besar lantai dasar sekolah tersebut. Lee dan kawan kawannya tengah menyaksikan Sachi tengah berdiri di tengah menghadap Lee dan teman temannya. Sachi kalah dalam perlombaan mkan mie ramen yang harus di habiskan mangkok dalam hitungan tiga puluh menit.


Semua murid yang ada di dalam ruangan itu bersiap siap untuk melemparkan telor ke tubuh Sachi. Mereka tertawa senang melihat Sachi berdiri dengan ketakutan.


Lee mengangkat satu tangannya sebagai kode kepada semua murid yang ada di ruangan tersebut untuk melempar telur.


satu


dua


May, salah satu anggota genk nya Lee mulai menghitung.


tiga


PLUK


PLUK


PLUK


Satu persatu telur melayang ke tubuh Sachi, hingga seragamnya kotor dan berubah warna mennjadi kuning dan lengket di sergam dan rambutnya yang panjng. Sachi hanya bisa menutupi wajahnya sambil menangis,


Entah sudah berapa banyak telur yang mereka lemparkan ke tubuh Sachi. Hingga satu teriakan menghentikan aksi merea.


"Hentikan" seru Rha Woon sambil berlari mendekati Sachi dan berdiri di depannya menatap marah ke arah Lee dan genk nya.


"Bukan dia yang mau melawanku, tapi kau!" seru Lee menunjuk ke arah Rha Woon.


"Jangan mentang mentang kau berkuasa lalu seenaknya memperlakukan orang lain sesuka hatimu," ucap Rha woon.


Lee beranjak dari kursinya lalu mendekati Sachi dan Rha Woon.


BUKKK


Satu pukulan telak menghantam wajah Rha Woon hingga terjungkal ke belakang. Lee menginjak bahu.


"Kau membantu yang lemah itu tandanya kau lemah," ucap lee seraya menekan kakinya di bahu lee.


"Aku mohon hentikan." kata Sachi lalu membantu Rha Woon untuk bangun.


"Lemah," ucap Lee seraya menekan kepala Sachi, setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan ruangan di ikuti may dan yang lain.


"Kau tidak apa apa?' tanya Sachi.


"kenapa kau mau saja diperintah Lee?" tanya Rha Woon.


"Kau menyukai lee?' tanya Rha Woon lagi.


"Aku..." Sachi tidak melanjutkan ucapannya.


"Kau tidak perlu menjawabnya," pungkas Rha Woon sambil membenarkan kaca mata tebalnya.


"Cepat kau bersihkan seragammu."


Sachi mengangguk, kemudian mereka berdua beranjak pergi meninggalkan ruangan.


***


Jam pelajaran telah usai, seperti biasa Sachi terburu buru meninggalkan sekolah dengan menggunakan sepedaa miliknya.


Sesampainya di rumah, Sachi harusmembantu asisten rumah tangga di rumahnya membersihkn rumah sapai menyiapkan makan untuk penghuni rumah itu termasuk May.


Setelah selesai, ia diam diam pergi ke ruang bawah tanah, terdapat satu ruangan pengap yang di huni seorang wanita berambut gimbal, pakaiannya lusuh dan sudah mengeluarkan aroma yang tidak sedap.


Sachi masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati wanita yang meringkuk di pojok ruangan dalam keadaan tangan dan kaki di ikat rantai.


Setelah sekian lama, Sachi mengetahui keberadaan wanita itu di ruang bawah tanah, baru hari ini ia memberanikan diri mendekatinya dan membawakan makanan dan secangkir air putih.


"Ibu..."


Sachi mendekatinya lalu jongkok di hadapannya sambil meletakkan semangkuk sup dan air di dalam gelas di lantai.


"Ibu...'


Perlahan wanita itu menoleh ke arah Sachi dan menatapnya tajam, membuat gadis itu mundur ke belakang.


"Jangan takut bu..aku tau ibu pasti lapar dan haus.." kata Sachi.


Bibir wanita itu bergetar seperti sedang mengucapkan sesuatu namun Sachi tidak dapat mendengarnya.


"Ibu mau aku suapin?" tanya Sachi.


Namun wanita itu hanya diam dan air matanya jatuh perlahan membasahi pipinya. Kedua tangannya perlahan terullur hendak menyentuh wajah Sachi.


"Putriku..." ucapnya sangat pelan.


Sachi mundur lagi ke belakang saat kedua tangan wanita tersebut semakin dekat dengan wajahnya.


"Putriku..." ucapnya lagi dan jjelas terdengar oleh Sachi.


Namun Sachi semakin di bbuat takut dan berlari ke luar ruangan saat wanita tersebut hendak memeluknya.


"Putriku..." ucap wanita itu melihat Sachi berlari menjauh dan meninggalkannya.