THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 17 - MB3



"Ayo cepat lewat sini!" seru Rha Woon terus menarik tangan Kailaa menuruni anak tangg.


DOR


DOR


Satu, dua, peluru mengenai besi tangga. Kaila dan Rha Woon menundukkan kepalanya sambil terus berlari hingga sampai lorong kelab menuju pintu belakang.


DOR


DOR


Peluru mula berseliweran, Rha Woon dan Kaila berhasil mebuka pintu belakang, keduanya menaiki pagar kawat berduri dan berhasil lolos. Namun, dari arah lain, ppara penjaga mengejar mereka sambil membawa senjata tajam.


Rha Woon tidak sempat naik ke atas motor miliknya, ia dan kaila memilih berlri dan menjauh menuju keramaian orang orang yang lalu lalang, namun tak satu orangpu yang membantu mereka.


Rha woon berhenti berlari begitu juga dengan kaila, mereka berdua menatap ke arah musuh yang semakin mendekat dengan napas terengah engah.


"Kita harus menghadapi mereka," ucap Rha Woon.


Kaila menganggukkan kepalanya, sambil berdiri tegap dan mengepalkn kedua tangannya memmasang kuda kuda. Rha Woon melirik Kaila ddan tersenyum tanpa sepengetahuan Kaila.


"Kalian mau apa?" tanya kaila pada mereka yang mengejarnya, tentu saja bukan jawaban yang di terima tetapi di tertawakan.


"Siapa mereka, nak?"


Kaila dan Rha Woon menoleh ke arah sumber suara, nampak seorang kakek tua berdiri tegap memegang tongkat, kakek tua itu tak lain adalah kenzi.


"Mereka penjahat kek, sebaiknya kakek menyingkir," kata Kaila sembari menuntun lengan Kenzi dan menatap wajahnya.


"Aku seperti mengenalmu, kek." kata Kaila lagi.


Namun sebelum Kenzi menjawab, satu sabetan senjata tajam hampir melukai Kaila, andai Kenzi tidak menahannya dengan tongkat yang ia pegang. Kaila terkejut bukn main, ia langsung menenndang perut pria itu hingga terjungkal.


"Kakek hebat!" puji kaila lalu ia berlari ke arah Rha Woon da membaantunya, di sisi lain Kenzi tidak tinggal diam. Ia mebantu Kail dan Rha Woon menghadapi musuh.


"Nak, gunakan kepalan tanganmu lebih kuat, sekali pukul tepat sasaran,' kata kenzi pelan namun terdengar jelas oleh kaila.


Kaila mengangguk, lalu mengikuti saran kenzi, lebih mengumpulkan satu kekuatan di kepalan tangannya.


BUKKK


BUKKK


Benar saja, hanya dengan satu pukulan dan satu tendangan, musuh dengan mudah di kalahkan. Dari jauh terdenngar suara sirine mobil patrolu, satu persatu musuh mulai melarikan diri. Kaila balik badan mencari keberadaan Kenzi, namun ia sudah tidak berada di tempat.


"Kek?"


"Siapa kakek itu?" tanya Rha Woon.


"Aku seperti mengenalnya, tapi aku lupa," jawab Kaila memperhatikan jalan namun Kenzi tiidak ada di sekitar.


"Kita pergi.." Rha Woon, menarik tangan Kaila saat mobil polisi semakin dekat.


Kaila mengangguk lalu mengikuti langkah Rha Woon menjauh dari lokasi. Sepanjang jalan Kaila baru ingat sesuatu hal.


Rha Woon menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja.."


Kaila melirik Rha Woon sekilas.


"Kau juga seperti sudah mengenalku, apa benar?"


Rha Woon terdiam dan membalas tatapan Kaila lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Bukankah kita teman di sekolah?"


Kaila terdiam, ia membenarkan jawaban Rha Woon, tapi ada yang aneh. Kaila tidak ingin menerka nerka, mungkin hanya kebetulan saja.


"Bagaimana dengan motormu, apakah kita perlu kembali ke tempat tadi?" tanya Kaila.


Rha Woon menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, sama saja kita bunuh diri kalau kembali ke tempat itu. Yang kita harus cari tau, kemana mereka membawa Sachi." Jelas Rha Woon panjang lebar.


Kaila menganggukkan kepalanya, toba tiba dia teringat wanita yang terluka tadi.


"Siapa wanita itu, kenapa tatapannya seolah memanggil namaku?" Batin Kaila.


Sementara di tempat lain, Alexa sedang memaki semua anak buahnya karena berhasil kecolongan oleh dua anak remaja.


"Dasar bodoh!!" maki Alexa menatapp marah anak buahnya yang berjajar rapi di hadapannya.


"Kalian tidak bisa di andalkan!!"


Semua anak buahnya terdiam menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau marah marah sayang?"


Alexa meoleh ke arah pintu, seorang pria tua di kawal tiga pria berjalan mendekatinya.


"Papa?" sapa Alexa.


"Kapan kau kembali?" tanyanya sambil memeluk sang papa yang baru saja tiba dari luar negeri.


"Papa merindukanmu, mkaanya papa datang menyusul," jawab Zidan.


"Ada apa sayang?" tanyaida menatap ke arah anak buahnya.


Alexa mengajakidan duduk di sofa lalu menuangkan minuman ke dalam gelas. Alexa sedikit bercerita apa yang terjadi dan apa yang sedang ia rencanakan untuk keluarga Genzo.


Zidan tersenyum mendengar cerita putrinya, akhgirnya ia tidak harus bersusah payah untuk membalaskan dendam terhadap keluarga Kenzi, sekian lama keinginnnya untuk menghancurkan mereka akan segera terlaksanakan.


"Kau tenang saja, aku akan membantu dan punya rencana yang lebih baik," kata Zidan.


Alexa tersenyum mengembang, ia tidak meragukan kelicikan papanya. Dulu ia sempat melawan orang tuanya demi Genzo, tapi sekarang tidak lagi.