
Selena duduk melamun di kamarnya, ia memikirkan cara untuk melarikan diri dari rumah Ryu. Sikap dingin Altheo, membuat Selena kesal apalagi sering membentaknya hanya karena memintanya untuk membiarkan Selena pergi dari rumah.
Selena menarik selimutnya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut saat mendengar suara langkah kaki di luar kamar.
Terdengar pintu kamar diketuk, lalu di buka perlahan. Selena masih berpura pura tidur dan mendengarkan suara langkah kaki mendekati ranjangnya dan menarik selimutnya membuat ia terkejut dan melotot ke arah Altheo yang berdiri tegap di tepi ranjang.
"Apa kau tidak tahu cara memperlakukan perempuan?" tanya Selena lalu bangun dan duduk di atas ranjang.
"Cepat bersihkan badanmu, kita ke kanto polisi sekarang. Aku tunggu di bawh dalam lim abelas menit." kata Altheo.
Selena terdiam mendengar Altheo mau membawanya pergi ke kantor polisi, hal yang ia hindari. Selena turun dari atas tempat tidur dan menarik tangan Altheo saat hendak pergi meninggalkan kamarnya.
"Tunggu dulu," kata Selena.
Altheo menoleh menatap wajah Selena. Begitu juga sebaliknya dengan Selena mendapat tatapan teduh dari Altheo membuatnya menjadi gugup.
"Aku.."
"Aku tidak punya waktu banyak, katakan ada apa?" tanya Altheo melirik tangan Selena yang memegang lengan Altheo dengan erat. Spontan Selena menarik tangannya kembali.
"Apa kau mau melepaskanku setelah memberikan kesaksian pada polisi?" tanya Selena.
Altheo menganggukkan kepalanya, lalu melangkahkan kakinya sambil berkata.
"Waktumu lima belas menit, cepatlah."
Selena mendengus kesal, waktu yang di berikan Altheo terlalu sedikit. Tapi, demi kebebasannya, Selena bergegas mempergunakan waktu yang ada untuk bersiap siap.
Lima belas menit berlalu, Selena telah selesai. Ia bergegas menemui Altheo di ruang makan.
Altheo dan yang lain yang sudah menunggu Selena, semua tatapannya tertuju pada Selena yang berdiri di ambang pintu dengan gaun krem pemberian Davira.
Cantik, itu yang ada d pikiran Altheo dan yang lain. Penampilan berbeda dari biasanya, Selena yang terlihat tomboy.
"Kemarilah sayang..." sapa Davira tersenyum pada Selena.
"Kakak, cantik sekali. Cocok sama kakak Al!" celetuk Kaila.
Sontak Altheo menoleh ke arah Selena, begitu juga sebaliknya.
"Ayah, lihat! benarkan kataku?" kata Kaila pada Genzo yang hanya tersenyum lalu mengangguk, membuat Selena tersipu malu.
Xavier dan adiknya yang lain, diam diam tertawa melihat Altheo di sandingkan dengan Selena.
"Sudah, jangan ganggu kakakmu. Cepat kau sarapan, nanti datang terlambat ke sekolah." Kata Davira.
"Baiklah nek!" sahut Kaila.
Diam diam Altheo mencuri pandang ke arah Selena, lalu tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Selena dan yang lain.
Selang beberapa menit, satu persatu selesai sarapan dan mereka berpamitan untuk melakukan aktifitas seperti biasanya.
Xavier dan Gio pergi ke rumah sakit untuk mengawasi, Daniel pergi ke perusahaan farmasi, Khai berangkat kuliah dan Kaila ke sekolah.
"Kalian jangan lupa kabari, dan hati hati." Pesan Ryu pada Altheo dan Selena.
"Kakek jangan khawatir, semua akan baik baik saa." Jawab Altheo, lalu berpamitan pada Ryu, Davira dan Genzo.
"Aku harap, dengan kesaksian gadis itu, semua masalah selesai." Kata Davira menatap cemas punggung Altheo hingga hilang dari pandangannya.
"Aku ada informasi penting mengenai jejak kakek kenzi dan Nenek Siena, semoga kali ini tepat dan aku bisa membawa mereka pulang," ucap Genzo.
"Kau jangan membohongi kami lagi, jangan sampai kami dapat kkabar kau menginap di rumah Alexa." Protes Davira.
"Ibu tau dari mana?" tanya Genzo terkejut.
"Kau tidak perlu tahu, ingat. Jangan sampai, kejadian lama terulang padamu." Pesan Davira.
Genzo diam sejenak, entah ia dengarkan atau tidak, nasehat ibunya. GEnzo beranjak dari kursinya dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan.