
Sesampainya Alexa dan Genzo di ruangan Sachi. Alexa mmenatap wajah Kaila, sempat ia mau meeluknya namun karena bentu tubuhnya yang lebih ramping membuat ALexa mengurungkan niatnya.
"Kau, kau mirip sekali dengan putriku?" tanya Alexa menatap wajah Kaila.
Kaila mebalas tatapan ALexa, ia coba mengingat wajah wanita di depannya.
"Aku sepertinya mengenalmu,' ucap kaila.
"Oya?" sahut Alexa.
Kaila maju lebih dekat menelisik wajah Alexa dan menunjuk wajah wanita di hadapannya.
"Ya, kau..aku ingat." Kata Kaila menatap tajam.
Alexa berdehem sambil memalingkan wajahnya.
"Mungkin kita pernah bertemu." Kata Alexa.
"Kau mengenal tante Alexa?" tanya Genzo.
"Iya ayah!" sahut Kaila sambil terus menatap Alexa.
Alexa yang mendapatkan tatapan tajam penuh selidik, mulai merasa tidak nyaman.
"Aku mau bawa pulang putriku ..." ucapnya pada Genzo.
"Sila-?" Genzo tidak melanjutkan ucapannya karena di potong Kaila.
"Tidak bisa!"
Kaila maju dan merentangkan kedua tangannya menghalangi Alexa.
"Sayang, tante Alexa ibunya." kata Genzo.
"Bukan, dia iblis!" seru Kaila melotot ke arah Alexa.
Alexa tiba tiba menangis tersedu sedu, membuat Genzo serba salah.
"Sayang, kau bicara apa?" tanya Genzo.
"Ada apa ini yah?" tanya Xavier dan Gio yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Genzo mengalihkan pandangan pada kedua putranya, dan bingung dengan sikap putrinya.
"Kaila?" tanya Xavier.
"Kakak, dia iblis. Aku melihatnya dia menyiksa seorang wanita juga Sachi!" teriak Kaila.
Xavier dan yang lain menoleh ke arah Axela.
"Tidak, itu bukan aku.." bela Alexa.
"Bohong!" pekik Kaila mendorong tubuh Alexa hingga jatuh.
Genzo langsung membantu Kaila dan memarahinya karena sudah bersikap tidak sopan.
"Kaila, ayah tidak pernah mengajarkanmu seperti ini!!"
"Kalian tidak bisa membawa Sachi sebelum proses tes DNA selesai."
Alexa dan yang lain menoleh ke arah Ryu.
"DNA?" ucap Alexa raut wajahnya berubah tegang, namun detik berikutnya ia kembali tenang.
"Baik dok, aku akan menunggu hasil tes DNA. Yang pasti, Sachi adalah putriku."
Kaila menatap benci Alexa, entah kenapa ia merasakan kebencian pada wanita itu padahal selama ini ia tidak mengenalnya.
"Kapan selesainya dok?" tanya Alexa pada Ryu.
"Besok," jawab Ryu.
Alexa menganggukkan kepalanya, ia meminta izin pada Ryu untuk ada di rumah sakit menemani Sachi. Namun Kaila menolak dengan berbagai tuduhan yang di lontarkan pada Alexa.
Genzo merasa Kaila mulai srres, ia meminta kedua kakaknya Kaila membawa adiknya pulang. Namun Kaila menolak dan tetap ingin menjaga Sachi.
Ryu yang memperhatikan sikap Kaila seolah olah sedang menjaga saudarany, sedikit mencurigai Alexa.
"Tapi, ayah..." protes Genzo.
"Ini perintah ayah," tegas Ryu.
Genzo diam dan tidak membantah lagi, akhirnya Kaila dan Alexa sama sama di izinkan menunggu Sachi.
Suasana di dalam ruangan kembali hening, Kaila duduk di kursi berhadapan dengan Alexa. Sementara Genzo pamitan keluar ruangan untuk membeli kopi bersama Xavier dan Gio.
Kaila terus memperhatikan Alexa yang duduk di hadapannya sambil memainkan ponsel, menyadari dirinya di perhatikan Kaila, Alexa mengangkat wajah dan tersenyum.
"Ada yang lucu?" tanya Kaila sinis.
Alexa tersenyum, lalu berdiri dan menarik kursinya supaya bisa duduk lebih dekat dengan Kaila.
"Wajahmu mirip dengan Sachi, apakah kau putri bungsu Genzo?" tanya Alexa dengan tenang.
"Pertanyaanmu itu lucu, kau pikir aku anak pungut?" jawab Kaila.
"Siapa yang tahu?" Alexa sengaja memancing emosi kaila yang belum stabil.
"Jaga bicaramu!" bentak Kaila.
"Apa, aku terlihat kurang sopan?" Alexa tersenyum melihat Kaila terpacing emosinya.
"Lihatlh dirimu, kau sangat berbeda dengan saudaramu yng lain..." ucap Alexa, tangannya terulur hendak menyentuh pipi Kaila, namun Kaila menepisnya.
"Jangan sentuh aku!"
Alex menarik tangannya, lalu diam memperhatikkan wajah Kaila.
"Bukankah putri bungsu Genzo sudah meninggal bersama ibumu?"
Kaila semakin geram dengan ucapan Alexa, namun ia berusaha untuk menahan diri.
"Jangan jangan kau, hanya anak pungut."
"Omong kosong!" pekik Kaila lalu berdiri dan mencekik batang leher Alexa dengan kuat.
Alexa tersenyum seperti tidak terganggu dengan sikap Kaila, meski lehernya di cekik olehnya.
"Jangan jangan kau bukan ibu Sachi, ayo mengaku!" teriak Kaila terus memperkuat cekikannya.
Alexa terbatuk, samar samar ia mendengar suara langkah dari luar ruangan. Saat pintu terbuka, Alexa berteriak kesakitan.
"Tolong lepaskan, aku bisa mati..."
"Kau pantas mati, kau bukan ibu Sachi!" teriak Kaila marah.
"Kaila!!" teriak Genzo, lalu berlari menghampiri Kaila dan berusaha menjauhkannya dari Alexa.
"Kaila hentikan!" pekik Xavier dan Gio bersamaan.
"Dia wanita iblis!" umpat Kaila, tubuhnya berhasil di tarik dan menjauh dari Alexa.
"Jaga bicaramu, kau sudah tidak sopan," kata Genzo.
"Tidak apa apa, mungkin dia terpukul dengan keadaan Sachi dan menyalahkanku karena aku sudah jadi ibu yang buruk," jelas Alexa sambil terisak.
"Bohong!" pekik Kaila berusaha memberontak dari dekapan Genzo hendak mencekik Alexa lagi.
"Diam!" bentak Genzo, lalu meminta Kaila untuk meminta maaf.
"Cepat mint maaf."
"Aku tidak sudi!" pekik kaila lalu melepaskkan diri dan berlari ke arah Xavier llu memeluk erat kedua kakaknya.
"Bawa Kaila keluar,' perintah Genzo.
Xavier dan Gio membawa Kaila keluar dari ruangan.
"Maafkan putriku.." kata Genzo.
"Tidak apa apa, dia masih anak anak. Jangan terlalu keras, anak seusia kaila butuh seorang ibu.." jawab Alexa tersenyum menatap wajah Genzo.