
Ryu tengah duduk di kamar pribadi milik Kenzi dan Siena. Meski sudah bertahun tahun kamar itu tidak di tinggali lagi. Namun di kamar itu tidak ada yang berubah, tata letak barang dan aksesoris masih tetap sama ketika Kenzi dan Siena masih ada.
Semua kenangan, awal perjalanan hidup Ryu. Rasanya terlalu manis untuk di lupakan dan terlalu pahit untuk di kenang. Namun semua itu telah membawa Ryu sampai sejauh ini dan memiliki 7 cucu.
Ketegaran Siena, dan kehebatan Kenzi, menjadi panutan Ryu dan Genzo. Namun bagi ke enam cucunya yang ada, tidak banyak yang mereka ketahui tentang Kenzi dan Siena.
"Kau merindukan mereka?" Sapa Davira dari arah belakang.
Ryu menoleh ke arah Davira lalu tersenyum dan mencium telapak tangan istrinya.
"Tentu saja, aku merindukan ayah dan ibu setiap saat. Hal yang paling menyakitkan, ketika aku merindukan mereka yang tak bisa kupeluk lagi." Ungkap Ryu.
"Aku tahu.." ucap Davira mengelus lembut bahu Ryu.
"Tapi...?" Kata kata Ryu terhenti di tenggorokan. Ia mengingat sesuatu yang terjadi di mimpinya semalam.
"Tapi apa?" Tanya Davira.
"Beberapa malam, aku selalu mimpi buruk." Kata Ryu mengalihkan pandangan menatap foto Kenzi dan Siena sewaktu masih muda.
"Jangan terlalu di pikirkan, itu hanya bunga tidur." Kata Davira. "Oya, dari pagi kau belum sarapan. Sekarang kita makan siang, anak anak sudah menunggu."
Ryu menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari kursi. Merangkul bahu istrinya lalu mereka berjalan bersama keluar dari kamar.
"Khai, tolong panggil Kayla dan ayahmu." Perintah Davira.
"Baik Nek!" Sahut Khai lalu beranjak pergi, tak lama Genzo menemui Ryu dan Davira.
"Daniel dan Altheo belum pulang?" Tanya Ryu pada Davira.
"Belum Yah, tadi sudah menelponku. Katanya, mereka pulang sore," jawab Genzo sambil menyiapkan piring di atas meja.
"Gio dan Xavier?" Tanya Davira.
Genzo tersenyum tipis menatap Davira lalu menggelengkan kepala.
"Mungkin pulang sore, sama seperti kakak."
"Kakek!!"
"Kakek kemarilah!"
Ryu dan Davira bergegas menghampiri Khai.
"Ada apa?" Tanya Ryu.
Mata Khai melebar menatap kakeknya seraya menunjuk ke arah pintu kamar Kenzi yang terbuka.
"Lihat ke dalam kek."
Ryu segera membuka pintu lebar lebar, ia masuk ke dalam kamar memperhatikan seluruh ruangan berubah berantakan.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Ryu tak percaya. Beberapa menit yang lalu ia baru saja meninggalkan kamar itu.
"Ada apa?" Tanya Genzo yang mendengar keributan. "Kenapa bisa berantakan seperti ini?"
Ryu menggelengkan kepalanya, memperhatikam lemari pakain Kenzi dan Siena sudah di acak acak dan berantakan di lantai. Begitu juga dokumen yang berada di laci sudah berserakan di lantai.
Genzo berlari ke arah balkon kamar. Memperhatikan halaman rumah dan beberapa penjaga masih di posisinya seolah olah tak terjadi apa apa.
Genzo kembali masuk ke dalam memperhatikan Ryu membereskan dokumen yang berserakan lalu mengambil foto Siena dan Kenzi berserakan di lantai.
"Apa yang mereka cari?" Gumam Ryu.
"Kakak, aku takut." Bisik Keyla, memegang erat tangan Khai.
"Ayah, siapa yang melakukan ini?" Tanya Genzo menatap Ryu.
"Aku tidak tahu, yang pasti kita kecolongan." Jawab Ryu.
Genzo bergegas keluar rumah, memberitahu anak buahnya untuk menyisir semua tempat dan meningkatkan penjagaan.
Sementara Khai dan Keyla hanya diam dan memperhatikan.
"Ada apa dengan semua ini?" Gumamnya.