
Di rumah sakit
Altheo datang ke rumah sakit di temani Ryu, pemilik rumah sakit tersebut. Mereka mendapatkan kabar isu miring tentang rumah sakit yang selama bertahun tahun berjalan dengan baik, tiba tiba mendapatkan protes dari warga sekitar tentang buruknya kinerja rumah sakit dan adanya beberapa pasien yang di jadikan alat percobaan para dokter.
Sesampainya di rumah sakit, beberapa awak media langsung menghampiri Ryu dan Altheo, dan di serang berbagai banyak pertanyaan seputar isu miring tersebut.
Ryu maupun Altheo tidak memberikan klarifikasi apapun mengenai skandal yang terjadi di rumah sakit itu.
Ryu dan ALtheo bergegas ke ruang rapat dan memanggil beberapa dokter ahli yang bekerja di rumah sakit tersebut. Mereka di mintai keterangan mengenai adanya malpraktik.
Di saat Ryu tengah meminta keterangan pada semua dokter, Altheo diam diam pergi keluar ruangan dan memeriksa ruangan lain untuk memastikan.
Namun, saat ia sedang berjalan di tengah koridor, ia mendengar suara teriakan dari ruangan lain.
Altheo berlari menuju ruangan pasien di mana suara teriakan seorang wanita berasal, langkah Altheo terhenti karena di kejutkan dengan pintu ruangan yang terbuka bersamaan dengan ambrunya seorang wanita dengan mulut terbuka, mata melotot.
Bersamaan dengan seorang gadis berdiri tepat di samping wanita tersebut. Altheo mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
"Selena?" ucap Altheo.
Selena mengangkat kedua tangannya ke atas dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan, bukan aku..." ucap Selena menatap wajah ALtheo.
Disaat bersamaan, salah satu awak media muncul dari ujung koridor, ALtheo bergegas mengangkat tubuh wanita itu di bantu Selena, di bawa masuk kembali ke dalam ruangan.
"Apa yang terjadi, kenapa wanita ini?" tanya Altheo.
"Aku, aku tidak tahu.." jawab Selena sedikit ketakutan.
"Katakan, apa kau yang melakukannya? kau membunuh wanita ini?" tanya Altheo, mendekati Selena.
"Bukan aku, aku tidak melakukannya!" teriak Selena, lalu berlari keluar dari ruangan bersamaan dengan seorang awak media mendapati Altheo bersama wanita di pangkuannya..
Altheo menendang pintu ruangan, lalu meletakkan wanita di pangkuannya di atas ranjang. Ia bergegas keluar dari ruangan dan di ikuti oleh awak media tadi.
"Kemana Selena?" gumam Altheo memperhatikkan setiap koridor lalu berjalan keluar menuju halaman rumah sakit.
"Cepat sekali dia perginya."
Altheo berdiri di halaman rumah sakit, memperhatikan sekitar. Tiba tiba empat mobil hitam memasuki halaman rumah sakit, Altheo memperhatikannya sampai orang orang yang ada di dalam mobil keluar.
"Kakek, mereka siapa?" tanya Altheo.
Ryu diam dan tidak menjawab pertanyaan cucunya. Altheo menoleh ke arah kakeknya, nampak raut wajah Ryu terlihat tegang.
"Dokter, apa kabar?" tanya salah satu pria yang berada di depan.
"Selamat datang, tuan Heizima." Sapa Ryu.
"Ada angin apa, yang membawau datang ke rumah sakit ini setelah sekian lama." Sambungnya lagi.
Heizima tersenyum ramah, namun Ryu bisa menangkap ada gelagat yang mencurigakan di balik senyumannya.
"Aku dengar, rumah sakit ini akan di jual?"
Ryu menautkan kedu lisnya menatap waspd pad pria tua di hadapannya.
"Sejak kapan, aku menjual rumah sakit?" jawab Ryu.
"Ah...kau lupa memperkenalkan anak muda di sampingmu, apakah dia generasi ke empat ketua Kenzi?" tanyanya mengalihkan perhatiannya pada ALtheo.
Ryu tidak menjawab pertanyaan Heizima.
"Kau salah tuan, sampai kapanpun rumah sakit ini tidak akan pernah aku jual." Tegas Ryu.
Heizima mengalihkan pandangannya pada Altheo.
"Mungkin kita bisa menjadi keluarga, aku punya anak perempuan."
Ryu melirik sekilas ke arah Altheo yang tetap tenang.
"Kami masih banyak urusan dan tidak ada waktu untuk berbicara omong kosong," pungkas Ryu sambil membungkukkan badannya, lalu berjalan meninggalkan Heizima.
Altheo berjaln mendekati Heizima dan berbicara pelan padanya.
"Sebaiknya tuan jangan berurusn dengan kami, sebelum tuan menyesalinya."
Setelah bicara seperti itu, ALtheo beranjak pergi menghampiri Ryu yang sdah menunggunya.