THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 6- MB 3



Hari minggu.


Keluarga Genzo tengah berkumpul di ruang tamu. Kaila bergelayut manja, menyenderkan kepalanya di bahu Khai.


Daniel sibuk dengan ponselnya, sesekali menimpali candaan adiknya, Khai. Xavier duduk dengan tenang di samping Daniel, memperhatikan Kaila dan Khai.


Gio baru saja keluar dari kamar pribadinya, menghampiri mereka, seraya membenarkan lengan kemejanya yang berwarna krem.


"Hari ini aku ada urusan, jadi tidak bisa ikut gabung." Kata Gio, menatap satu persatu anggota keluarganya.


"Urusan hati kah?" sindir Khai, melirik ke arah Kaila sesaat. Kaila tersenyum lebar menatap wajah Gio.


"Gio!"


Gio dan yang lain menoleh ke arah tangga. Nampak Altheo menuruni anak tangga tergesa gesa.


"Ada apa?" tanya Gio bertolak pinggang.


"Aku butuh bantuanmu." Kata Altheo.


"Ayolah kak, izinkan hari ini aku libur membantumu." Tolak Gio. "Ada Xavier!" tunjuk Gio menggunakan dagunya.


Xavier menyilangkan kedua tangannya di dada, sebagai kode kalau ia juga tidak bisa membantu Altheo hari ini.


"Ayolah kak, beri mereka kesempatan mengurus hatinya masing masing." Goda Daniel, matanya terus menatap layar ponsel.


Genzo dan Althea tertawa kecil melihat tingkah putranya. "Memang hati siapa yang harus di urus?" tanya Genzo.


"Perkenalkan Nenek dengan pemilik hati kalian." Timpal Davira.


Xavier dan Gio hanya menjawab dengan senyuman.


"Lalu siapa yang mau membantuku?" tanya Altheo menatap saudaranya satu persatu.


"Daniel!" semua menunjuk ke arah Daniel.


Daniel tengadahkan wajah, menunjuk dadanya sendiri. "Kok aku?"


"Kakak kan tidak punya hati yang harus di perhatikan." Sela Khai.


"Daniel!" panggil Altheo menatap tajam wajahnya.


"Ah, baiklah!" sahutnya lalu mematikan ponsel, ia masukkan kedalam saku bajunya. Daniel beranjak dari kursi bersamaan dengan salah satu anak buah Genzo datang menghampiri membawa sebuket bunga kesukaan Genzo.


"Kiriman?" ucap Genzo menatap sebuket bunga di tangan si botak.


"Benar tuan!" sahut si botak lalu menyerahkan bunga tersebut pada Genzo, setelah itu ia kembali keluar.


Genzo dan yang lain menatap bunga di tangan Genzo. Sesaat Genzo terdiam kemudian ia terkejut melihat secarik kertas bertuliskan nama Alexa menggunakan tinta emas.


Genzo melirik ke arah Davira yang berada di sampingnya. Altheo memberanikan diri bertanya pada Genzo.


"Siapa Alexa?" tanya Altheo, ia teringat nama yang di sebutkan Kitaro.


"Ah itu, sahabat ayah dulu." Jawab Genzo.


"Berikan padaku bunganya, ayah!" Khai berdiri lalu merebut bunga di tangan Genzo lalu membawanya keluar rumah tanpa menunggu persetujuan ayahnya terlebih dahulu.


Genzo terdiam, suasana berubah tegang. Xavier melihat perubahan wajah ayahnya.


Daniel dan Altheo saling pandang sesaat, lalu mereka berpamitan pada Genzo untuk melakukan satu urusan penting. Gio terpaku menatap Genzo, ia memang tidak mengenal Alexa. Tetapi melihat raut wajah ayahnya dan Neneknya. Gio mengerti ada sesuatu yang tak beres dengan wanita yang bernama Alexa.


"Ayaah!" seru Kaila memecah keheningan.


Genzo menoleh ke arah Kaila. "Ya sayang."


"Temani aku main game!" rengeknya manja.


'Baiklah, ayo!" Genzo berdiri, lalu menarik tangan Kaila. "Ayo kita maun game!"


Kaila tersenyum mengembang, lalu berdiri seraya mengedipkan mata ke arah Gio. Gio mengangguk, lalu ia beranjak pergi keluar dari rumah. Sesampainya di halaman, ia melihat Khai menghancurkan bunga kiriman Alexa. Gio menghampiri Khai dan berkata.


"Kenapa kau hancurkan bunga itu?"


Khai menoleh ke arah Gio. Ia memang anak yang humoris, tetapi memiliki kepekaan yang tajam.


"Semua berawal dari bunga, jangan sampai keluarga kita hancur karena orang ketiga." Tegas Khai.


Gio menganggukkan kepalanya, ia selalu percaya apa yang di katakan Khai. Lalu ia menepuk bahu Khai.


"Jaga ibu dan ayah di rumah, aku pergi dulu sebentar." Kata Gio.


Khai menganggukkan kepalanya, lalu ia menghampiri anak buah Genzo yang berjaga jaga di sekitar halaman dan berpesan untuk tidak menerima kiriman dalam bentuk apapun tanpa persetujuannya.