
Pagi pagi di kediaman Ryu, terlihat sangat sibuk, Daniel sudah bersiap siap ke bandara untuk menjemput Xavier dan Gio. Khai dan kaila sudah bersiap siap untuk berangkat sekolah.
Sementara Genzo masih di dalam kamarnya sibuk dengan ponselnya berbicara dengan Alexa, dan Altheo sedang mempersiapkan pekerjaannya untuk hari ini di bantu oleh Ryu.
"Kek, apa kau mau ikut denganku hari ini?" tanya Altheo.
"Tidak, aku sudah tua. Aku percayakan semuanya padamu. Oya, hari ini kau ada acara apa?" tanya Ryu balik.
"Setelah rapat penting, mungkin aku tidak langsung pulang kek. Aku dapat undangan pesta penyambutan salah satu rekan bisnis, rasanya tidak enak kalau aku menolak," jelas Altheo panjang lebar.
"Baiklah, hati hati," pesan Ryu.
"Kakek, aku berangkat sekolah dulu,' ucap Kaila.
"Hati hati sayang!" seru Ryu menatap ke arah Kaila dan Khai yang meninggalkan ruangan.
"Iya kek!" sahut Kaila tanpa menoleh ke arah Ryu.
"Kak, rencananya hari ini kita harus kemana dulu?" tanya Kaila di sela langkahnya menuju halaman rumah.
"Kita bicarakan di dalam mobil," kata Khai.
Kaila menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah.
"Kau pernah bilang, May saudarinya Sachi?" tanya Khai sambil melajukan mobilnya.
"Iya kak, setauku begitu," jawab Kaila.
"Kita harus tanya May," kata Khai.
"Dan kita harus menyusun rencana,' katanya lagi.
Kaila mengerti maksud Khai, ia serahkan semuanya pda kakaknya, meskipun Khai anak yang ceroboh tapi nalurinya selalu tepat sasaran.
Sesampainya di halaman sekolah, Khai yang baru saja menepikan mobilnya. Tiba tia ia melihat sebuah mobil di depannya dan senjata api menyembul dari balik kaca mobil.
"Kakak..." ucap Kaila matanya melebar menatap ke depan.
DORRR
Satu peluru mengenai kaca mobil depan, bersamaan dengan khai dan Kaila merunduk. Khai melajukan mobilnya ke belakang lalu memutar arah dengan kecepatan tinggi.
DORRR
DORRR
Peluru berseliweran hampir mengenai mobil yang di kendarai khai.
"Kakak, pelankan mobilnya!" seru Kaila berpegangan erat pada lengan khai
Namun khai terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Khai membanting stir ke kanan dan ke kiri saat mobilnya bertabrakan dengan mobil lainnya.
"Kakak, ap kau sudah gila?!" umpat Kaila menatap horor ke araah khai yang tertawa terbahak bahak.
Dari jauh terdengar suara sirine mobil patroli mengejar mobil Khai. Awalnya Khai merasa ada bantuan, namun di luar dugaan. Mereka justru menembaki mobilnya dan hampir mengenai bahu Kaila.
Khai semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan keluar dari jalur jalan raya, mobilnya tiba tiba berhenti tepat di depan sebuah gedung yang sedang mengadakan sebuah pameran kalung berlian.
"Ayo cepat keluar!" perintah Khai pada Kaila
Khai menarik yangan Kaila lalu mereka berlari masuk ke dalam gedung saat musuh ikut mengejar mereka masuk ke dalam gedunng.
Khai menerobos orang oranag yang berada di dalam gedung dan menciptakan kekacauan dan ketakutan pengunjung pameran tersebut.
Musuh sama sekali tidak memberikan kesempatan pada khai dan Kaila.
DORR
DORR
Pengunjung mulai berhamburan mencari temat berlindung saat peluru mulai berseliweran, suara teriakn dari dalam gedung terdengar memekakkan telinga Khai.
"Kakak, kita harus bagaimana?" tanya Kaila pada khai yang bersembunyi di balik tembok.
"Kita harus keluar dari dalam gedung ini, tapi bagaimana caranya..." ucap Khai berfikir keras.
DORR
DORR
Disaat bersamaan, sebuha mobil menerobods kaca gedung.
PRANKKKK
CIITTTTT
Suara ban mobil berdu degan lntai bersamaaan sura tembakan, peluru menghujani mobil tersebut.
Khaai memperhatikan mobil tersebut dan tiba tiba pintu mobil terbuka lebar.
"Ayo cepat masuk!" perintah seseorang dari dalam mobil.
Khai dan Kaila langsung berlari dan masuk ke dalam mobil teersebut. Mobil tersebut melaju dengan kencang keluar dari dalam gedung.
Khai dan Kaila dapat bernapas dengan lega selamat dari kejaran musuh.
"Kakek" seru kaila secara menatap ke arah Kenzi.
"Tunggu, sepertinya aku mengenal kalian,' kata Khai menatap ke arah Siena dan Kezi yang menoleh ke arah mereka.
Siena hanya tersenyum menoleh ke arah mereka berdua dan berkata.
"Aku akan megantarkan kalian pulang,"