THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 36 - MB3



Di kediaman Ryu.


Selena mendapatkan perlakuan baik dari keluarga besar Ryu. Bahkan Davira menyediakan kamar khusus buat Selena, dan kebutuhan lainnya.


Selena duduk di atas ranjang dan memikirkan hidupnya yang semakin rumit. Ia harus berurusan dengan hal yang membahayakan nyawanya dan orang orang yang tidak di kenal termasuk keluarga Ryu.


"Aku tidak mungkin tinggal di sini lama lama, bgaimana dengan nasib ibuku?" gumam Selena.


"Ah sial!" umpatnya kesal, bersamaan dengan suara pintu kamar di ketuk.


Selena turun dari ranjang lalu membuka pintu kmar, nampak Ryu dan Davira berdiri di ambang pintu dan tersenyum padanya.


"Paman, bibi.." sapa Selena.


"Boleh kami masuk?" tanya Davira.


Selena membungkukkan badannya sesaat, lalu mempersilahkan Davira dan Ryu masuk ke dalam lalu mereka duduk di kursi.


"Ada yang mau aku tanyakan padamu." Kata Ryu menatap wajah Selena.


Selena mengangguk pelan.


"Apa kau tahu, penyebab kematian pasien di rumah sakit waktu itu? Dan mengapa kau ada di dalam ruangan pasien itu?" tanya Ryu.


Selena terdiam menatap Ryu cukup lama. Tiba tiba dia tersenyum lebar, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Paman, aku tidak sengaja masuk ke dalam ruangan itu. Aku hanya sedang bersembunyi." Jelas Selena.


"Sembunyi?" sela Davira.


"Sembunyi karena apa? Apa kau di kejar seseorang?" sambung Davira.


Selena kembali terdiam mendapatkan pertanyaan dari Davira. Jelas Ryu bisa melihat ada yang di sembunyikan Selena, namun ia tidak bisa memaksa saat ini.


"Aku...aku...?" Selena terlihat gugup.


"Kalau kau belum siap, tidak apa apa. Kami tidak memaksa, katakan pada kami kalau kau sudah siap." Pungkas Ryu.


Selena mengangguk pelan, ia dapat bernapas lega.


"Cepatlah turun ke bawah, kita makan siang bersama," ucap Davira lalu berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar di ikuti oleh Ryu.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan.." batin Selena.


Disaat bersamaan, Altheo pulang ke rumah setelah mengurus jenazah pak Choi dan memberikan keterangan pada pihak berwajib.


Altheo tidak banyak bicara, ia hanya diam memikirkan kejadian di rumah sakit dan tidak menyadari kalau Selena duduk di sampingnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Davira membuyarkan lamunan Altheo.


"Nek, di mana kakek buyut?" tanya Altheo tiba tiba.


Davira terkejut, menoleh ke arah Ryu.


"Aku masih mencari keberadaan ayah dan ibu. Sampai saat ini, aku belum menemukannya. Padahal, anak buah kita sudah di kerahkan." Jelas Ryu.


"Ada masalah serius kak?" tanya Xavier dan Gio bersamaan.


Altheo menoleh ke arah mereka berdua. Saat Altheo hendak membuka mulut untuk menceritakan kejadian di rumah sakit. Ia baru menyadari keberadaan Selena.


"Mulai sekarang, kau tidak ku izinkan pergi dari rumah sebelum kau jelaskan apa yang kau lihat di rumah sakit." Ancam Altheo.


Selena membulatkan matanya membalas tatapan Altheo.


Tringgg


Suara sendok beradu dengan piring.


"Kau tidak bisa melakukan itu padaku, bukankah sudah kukatakan. Aku tidak tahu apa apa mengenai pasien itu!" bantah Selena.


"Terserah!" balas Altheo.


"Sudah, sudah. Lebih baik kalian makan dulu, kita bicarakan nanti." Kata Davira menengahi mereka berdua.


"Bibi, putramu keras kepala. Aku tidak tahu menahu tentang kematian pasien itu..." ucap Selena kesal.


Davira mengangguk dan tersenyum.


"Biar aku yang bicara dengannya nanti, kau makan saja dulu."


Selena kehilangan selera makannya, dan memilih pergi meninggalkan ruang makan.


"Sayang, pelan pelan." Pesan Davira pada Altheo.


Altheo menghela napas panjang, dan menganggukkan kepalanya.


"Iya nek..."