
Suasana malam hari di rumah sakit, Xavier dan Gio pulang ke rumahnya di gantikan oleh Khai dan Daniel, sementara kaila tetap bersikeras tidak mau pulang dan mau menunggu Sachi sampai hasil tes DNA keluar.
Daniel dan Khai yang berada di luar ruangan, duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Tiba tiba, Khai seprti melihat sosok bayangan hitam berkelebat melintas di koridor rumah sakit.
"Tidak mungkin ada hantu.." batin Khai, lalu kembali asik dengn ponselnya.
Namun detik berikutnya, ia menangkap seorang pria berjalan tergesa gesa menuju ruang laboratorium.
Khai beranjak dari kursinya, lalu berpamitan pada Daniel untuk pergi keluar. Setela itu Khai berjalan menuju koridor mengikuti jejak langkah pria tadi.
Di antara koridor laboratorium menuju ruangan lain, Khai keilangan jejak pria tersebut, khai berfikir mungkin pengunjung yang ingin menjenguk keluarganya.
Khai balik badan hendak kembali ke tempatnya, namun etik berikutnya langkah Khai terhenti.
"Bukankah ini sudah malam?" pikir Khai.
Khai balik badan, ia melihat dua pria berlari ke koridor lain menuju tangga darurat. KHai bergegas mengejarnya, nmun sayang ia kehilangan jejak dua pria itu.
"Kemana mereekka perginya?" gumam Khai sambil menaiki anak tangga hingg sampai atap rumah sakit.
BUKKK
Satu pukulan keras menghantam tengkuk Khai hingga tubuhnya ambru dan tak sadarkn diri. Kedua pria itu menyeret tubuh Khai lalu di sembunyikan di sebuah ruangan yang kecil dan gelap, mereka berdua mengunci Khai dari luar.
Malam semakin larut, suasana di rumah sakit semakin sepi. Hanya ada suster yang terkadang terlihat masuk ke ruangan pasie.
Daniel berkali kali menguap sambil melihat jm tangannya yang sudah menunjukkan pukul tig pagi. Namun Khai tidak kunjung kembali.
"Khai pasti pulang ke rumah, sial aku di tinggalkannya sendirian," gumam Daniel llu menyandarkan tubuhnya di kursi dan matanya terpejam, menit berikutnya Daniel tertidur pulas sampai pagi.
Daniel di bangunkan oleh Genzo yng baru saj datang.
"Di mana Khai?" tanya Genzo.
Daniel menggelengkan kepalanya, ia sendiri tidak tahu di mana Khai.
"Semalam dia berpamitan, tapi sampai sekarang tidak kembali lagi." Jelas Daniel.
Genzo dim sejenak dan berfikir kalau Khai pergi menginap di rumh temannya.
"Ya sudah, ayah mau melihat Kaila di dalam."
Genzo masuk ke dalam ruangan da mendapati Kaila sudah bangun dan duduk di samping Sachi, sementara Alexa terlihat sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Kau sudah datang?" sapa Alexa sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Genzo, di jawab dengn gelengan kepala.
"Ayah ambilkan susu, mau?" tawar Genzo, lagi lagi Kaila menggelengkan kepalanya.
"Kau marah padaku?" tanya Genzo lagi.
"Cukup ayah, aku tidak mau apa apa," jawab Kaila kesal.
Genzo menghela napas panjang, bersamaan dengan pintu ruangan terbuka lebar, Nampak seorang dokter masuk di ikuti oleh Daniel.
"Dokter, bagaimana hasilnya?" tanya Kaila lalu berdiri dan merebut dokumen di tangan dokter.
"Kaila, jaga sikapmu..' ucap Genzo lalu tersenyum pada dokter tersebut.
Kaila membuka dokumen tersebut dan membacanya, namun detik berikutnya ia berikan dokumen itu pada sang doker karena Kaila tidak mengerti.
"Dok, apa hasilnya?" tanya Kaila.
Dokter membuka dokumen itu dan menjelaskan pada Kaila da yang lain.
"Hasil tes menunjukkan bahwa, non Kaila tidak ada hubungan darah dengan nona Sachi." Jellas dokter.
"Tidakmungkin!" seru Kaila tidak terima dengan hasil tes tersebut.
Namun dokkter meyakinkan kaila dan yang lain kalau Sachi, putri dari Alexa.
"Wanita iblis itu bukan ibu Sachi!' umpat Kaila membuat Gezo kesal dan memiintanya untuk diam.
"Sachi putriku, dan aku mau membawanya pulang. Aku aan merawatnya dengan tanganku sendiri." Kata ALexa, berjallan mendekati ranjang Sachi.
Permintaan Alexa di izinkan dokter untuk membawa Sachi keluar dari rumah sakit milik Ryu.
Namun Kaila tidak terima, ia terus berusaha mencegah Alexa membawa Sachi keluar dari rumah sakit tersebut.
Genzo merasa kesal dengan sikap Kaila yang berlebihan, ia meminta Daniel untuk menenangkannya.
"Ayah akan mnyesal! Karena membiarkan wanita iblis itu membawa Sachi!!" maki Kaila.
Genzo menarik napaas dalam dalam, lalu meminta maf pada dokter karena keributan yang di akibatkan Kaila, ia juga meminta maf atas ucapan kasar Kaila pada Alexa.
Alexa tersenyum, ia memaklumi dan memaafkan apapun yang di katakan Kaila. Semua itu ia lakukan untuk menarik simpati Genzo. Setelah itu, Alexa meminta Genzo untuk membantunya membawa Sachi pulang ke rumahnya.
Dengan senang hati, Genzo tidak menolaknya meski Kaila berulang kali mengingatkan sang ayah untuk tidak membawa Sachi pergi.