THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 11-MB 3



Sepulang sekolah, Rha Woon sengaja mengajak Sachi pulang bersama lebih dulu karena khawatir akan terjadi sesuatu setelah pengaduan.


Benar saja, di tengah perjalanan, motor Rha Woon di hadang sejumlah pria tak di kenal. Diantara mereka terdapat Lee dan May, Aurora dan teman genk nya yang lain.


Rha Woon terpaksa menghentikan laju motornya, mereka berdua turun dari atas motor dan Shachi berdiri di belakang Rha Woon ketakutan.


"Apa ku bilang, mereka akan menghabisi kita." kata Sachi.


"Kau tenang, biar aku hadapi mereka." Balas Rha Woon dengan tatapan tajam ke arah lee.


"Apa kau yakin?" tanya Sachi.


Rha Woon menganggukkan kepalanya, ia berusaha menyingkirkan rasa takutnya meski ia sendiri tidak yakin dengan jumlah pasukan yang Lee bawa untuk menghadapinya.


"Berlutut!!" Perintah lee pada Rha Woon dan Sachi. Namun Rha woon tetap diam tidak mengikuti perintah Lee.


"Berlutut!!"


Lee di buat marah dengan sikap Rha Woon yang mengabaikan perintahnya. Pria cupu berkaca mata tebal, bukanlah musuh yang di takuti lee. Bahkan Lee merasa kalau Rha Woon bukanlah lawan ynag seimbang.


Tanpa basa basi lagi, Lee memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Rha Woon.


Ketiga pria mendekati Rha Woon dan memegang kedua tangannya, sementara satu pria lainnya menekan kepala Rha Woon untuk berlutut di hadapan Lee.


Di lain pihak, may dan AUrora mendekati Sachi yang ketakutan. Mereka berdua menendang perut Sachi secara bersamaan hingga terjungkal.


Sebelum Sachi bangkit, may sudah lebih dulu menarik rambutnya dan menhajar wajah Sachi secara bergantian.


BUKKK


BUKKK


"Apa salahku, may.' kata Sachi, darah segar mengalir di mulut dan hidungnya.


Namun may tidak perduli dengan rintihan Sachi ia terus menghajarnya tanpa ampun.


"Berani sekali kau melawanku, berani sekali kau melaporkanku!" teriak May marah.


Di sisi lain, Rha Woon tetap mempertahankan harga dirinya, ia tidak mau berlutut di hadapan lee, hingga membuatnya geram.


Lee meminta satu pria itu untuk menjauh, lalu menendang dada Rha Woon hingga terjungkal ke belakang.


BUKKKK


Lee tanpa ampun terus menendang tubuh Rha Woon tanpa ampun, hingga Rha Woon tak berdaya.


"Jangan sakiti Sachi, kau boleh membunuhku tapi lepaskan Sachi!" pekik rHa Woon menatap ke arah gadis yang ia sukai sedang di injak punggungnya oleh may.


Namun Lee hanya tertawa terbahak bahak seolah olah penderitaan mereka adalah tontonan yang menarik.


"Lepaskan Sachi!!" pekik Rha Woon.


Namun May semakin beringas karena iri pada Sachi. Saat May hendak memukul kepala Sachi dengan tongkat. Tiba tiba, dari arah lain seseorang berteriak menghentikan aksi may, sambil memukulkan tas miliknya ke kepala may.


Nampak seorang kakek dan nenek berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum.


"Nenek tua, cari mati rupanya.' kata may marah, lalu berlari ke arah nenek tua yang tak lain adalah Siena. sambil mengayunkan tongkatnya.


Namun,, hanya dengan satu tangkisan menggunakn tas miliknya, Siena berhasil membuat May jatuh tersungkur.


Kesempatan itu di gunakan Rha Woon untuk bangkit lalu berlari ke arah Sachi dan membantunya berdiri menjauh dari May.


"Kek, Nek, kalian sudah bau batah sebentar lagi kalian mati. Sebaiknya jangan ikut campur.' Ancam Lee, sambil berjalan mendekati kenzi dan Siena.


Namun kenzi dan Siena hanya tersenyum menanggapi perkataan Lee.


"Biar aku permudah kematian kalian menuju akherat,' ucap Lee sambil mengepalkan tangannya ke wajah kenzi.


Namun hanya dengan satu gerakan saja, Kenzi berhasil menangkis lalu menampar wajah Lee hingga tersungkur ke jalan.


Lee menoleh ke arah Kenzi dan merasakan kalau tamparan Kenzi bukan main main. lee merasa ada yang aneh dengan kekuatan pria tua di hadapnnya.


Kemudian lee memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kenzi dan Siena. Tanpa aba aba lagi, semua anak buah lee yang berjumlah sepuluh orang.


Kenzi dan Siena hnaya tersenyum melihat mereka mulai menyerang.


"Apa kau takut, sayang?" goda Kenzi.


"Kau mau mencoba pukulanku?" balas Siena sekilas ke arah Kenzi.


Kenzi hanya tertawa sambil mengayunkan tongkatnya ke arah pria yang menyerang tanpa bergeraak sedikitpun dari tempatnya, begitu juga Siena, hnaya menggunakan tasnya dan sesekali mengepalkan tinju ke arah pria yang menyerang.


Lee dan May di buat melongo oleh kedua orang tua tersebut, untuk pertama kali mereka melihat kekuatan besar yang di miliki oleh orang yang sudah tua. meski tubuh mereka masih terlihat bugar namun hal yang tidak mungkin memiliki kekuatan seperti itu.


Hanya dalam hitunganmenit saja, Kenzi dan Siena berhasil melumpuhkan kesepuluh pria tersebut.


May dan lee berjalan menjauh dengan tatapan lurus ke arah Kenzi dan Siena setelah anak buahnya berhasil di kalahkan.


"Tunggu pembalasanku, orang tua!" ancam lee lalu mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.


Kenzi dan Sien amenghampiri Rha Woon dan Sachi.


"Kalian terluka,' kata Kenzi menatap wajah Sachi dengan lekat.


"Terima kasih, kalian sudah menyelamatkan kami," ucap Rha Woon dan Sachi lalu keduanya membungkuk hormat pada Kenzi dan Siena.


"Sayang, kau harus di obati." Kata Sienaa menyentuh pipi Sachi dengan lembut.


"Terim kasih, nek...' kata Sachi.


Siena dan Kenzi menawarkan Sachi dan Rha Woon untuk di obati di rumahnya, namun Sachi menolaknya dengan alasan takut terlambat pulang. Akhirnya Kenzi dan Siena tidak dapat memaksa dan membirkan mereka pulang ke rumahnya masing masing.


"Suaraanak perempuan itu mengingatkanku pada Althea,' kata Siena.


Kenzi sempat terdiam mendengar pernyataan istrinya. Namun kenzi berfikir mungkin itu hanya kebetulan saja.