THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 23 - MB 3



Di sekolah.


Kaila datang lebih awal untuk mencari informasi tentang Sachi kepada semua teman temannya, namun tidak ada yang berani mengatakan apapun selain informasi, May adalah saudaranya Sachi.


Sesampainya di dalam kelas, nampak semua teman temannya sudah duduk di kursinya masing masing. Kaila berjalan dengan santai lalu duduk di kursinya dan mengeluarkan buku di dalam tasnya.


BUKK


Sebuah sepatu melayang dan mengenai punggung Kaila. Semua murid yang ada di dalam kelas tertawa. Kaila menoleh ke belakang, ke arah pemilik sepatu tersebut yang tak lain adalah May.


Kaila memungut sepatu itu lalu menghampiri May yang sedang tersenyum meledek.


BUKKK


Kaila memukul wajah May dengan sepatu tersebut, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


wooow! seru anak anak melihat May tersungkur.


Lee yang awalnya duduk dengan tenang dan berfikir kalau May bisa mengatasinya ternyata ia salah.


Lee beranjak dari kursi menghampiri Kaila, namun sebelum ia berhasil menyentuhnya. Kaila balik badan dan meninju wajah Lee hingga terhuyung kebelakang dan hidungnya mengeluarkan darah.


wooowww!" seru mereka lagi.


May dan lee maju bersama mendekati Kaila sambil mengepalkan tinju. Namun saa kedua tangan mereka hampir menyentuh wajah kaila, seorang guru masuk ke dalam kelas.


"Apa yang kalian lakukan?!"


May dan Lee menoleh ke arah guru terdebut dan tersenyum di paksakan sambil merangkul bahu Kaila.


"Tidak ada apa apa pak, kami hanya sedang bercanda," kata Lee, lalu melirik kaila.


"Iya kan?"


Kaila mengangguk, membenarkan perkataan Lee kemudian guru tersebut meminta Kaila dan yang lain untuk kembali duduk di kursi.


Selang beberapa menit, guru tersebut keluar dari dalam kelas. May berdiri, lalu berjalan dengan tatapan marah pada Kaila yang duduk di depan.


Secepat kilat, ia merebut balpoint di tangan Kaila lalu di tancapkan pada punggung tangan Kaila.


"Aaaahhhh!!"


May langsung menarik rambut Kaila tanpa memberikan kesempatan lalu di benturkan berkali kali ke meja.


Woowwwwww!!!" seisi kelas menatap ke arah Kaila dan May.


Dukkk


Dukkk


May terus membenturkan kepala Kaila ke meja hingga keningnya mengeluarkan darah segar.


Kaila langsung mencabut balpoin yang menancap di tangannya, lalu meninju perut May hingga terhuyung ke belakang.


Lee langsung menghampiri Kaila hendak menghajarnya menggunakan tangan kosong, namun dengan sigap Kaila mencekik batang leher Lee dan May secara bersamaan.


"Kau saudara Sachi bukan?" tanya Kaila menatap tajam kedua bola mata may yang mulai memerah wajahnya.


"Katakan di mana Sachi?" tanya Kaila lagi.


"Sachi bukan saudaraku, dia anak pelacur," jawab May.


Kaila menarik tangannya dari batang leher May, lalu mendorong tubuh May ke belakang hingga menabrak meja.


Kaila mengalihkan pandangannya pada Lee, lalu memukul wajahnya hingga tersungkur ke lantai.


"Jangan pernah menggangguku, atau anak anak lainnya yang sekolah di sini, kau paham?"ancam Kaila lalu berbalik menatp tajam May.


"Kau pasti thu di mana Sachi,"


May tersenyum mencemooh sambil menyeka darah segar di sudut bibirnya.


PLAKKK


Satu tamparan keras mendarat di wajah May.


Arrrrrggghhh


May kesal di pecundangi kaila dan hendak membalasnya, namun akhirnya May harus mengakui kekalahannya.


BUKK


Kaila berkali kali menendang kaki dan punggung May yang tersungkur di lantai.


"Bukan aku yang akan menggantikannya, tapi kau. dasar ******!" ucap Kaila sambil mengambil ponsel milik may yang tergeletak di bawah lantai.


Kaila memeriksa ponsel milik May, namun ia tidak mendapatkan petunjuk apa apa, karena kesal kemudian kaila melemparkan ponsel May ke lantai sampai hancur berantakan, setelah itu ia bergegas meninggalan kelas.


***


Kaila duduk di kursi kantin menikmati segelas minuman segar setelah ia mendapatkan surat peringatan dari kepala sekolah karena sudah menimbulkan kekacauan di sekolah.


Tiba tiba Rha Woon datang llu duduk di kursi berhdpan dengan Kaila.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi," kata Rha Woon.


Kaila hanya melirik tajam ke arah Rha Woon yang melepas kaca mata tebalnya.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Kaila.


Rha Woon terdiam sesaat, lalu ia menggunakan lgi kaca matanya.


"TIdak penting siapa aku, yang harus kita lakukan adalah menemukan Sachi secepatnya."


Saat keduanya sedang saling tatap dengan tatapan penuh selidik. May dan Lee mendatangi kantin bersama genk nya dan langsung menghampiri Rha Woon dan Kaila.


Satu kaki Lee naik ke atas kursi dengan pongahnya, dia mengancam Kaila dan Rha Woon.


"Aku beritahu kalian, kepala eksklusif di kota ini adalah papa ku. Satu perintah dariku, maka hidup kalian akan berakhir."


Kaila dan Rha Woon diam tidak menanggapi perkataan Lee.


BRAKKK


Lee menggebrak meja dengan alat pukul terbuat dari kayu, membuat semua murid yang ada di dalam kantin ketakutan dan memilih menyingkir, memperhatikan dari jauh.


Kaila berdiri berhadapan dengan Lee dan saling menatap tajam.


"Aku takut sekali..." ucap kaila tersenyum meledek di ikuti Rha Woon.


Lee mendengus kesal menatap marah wajah Kaila, lalu mendekatkan dirinya hingga tidak ada jarak antara mereka.


"Apa kau punya nyawa cadngan?"


Kaila terseyum.


"Aku terlahir bukan sebagai pecundang," tegasnya.


Lee mendorong bahu Kaila karena di buat kesal oleh murud baru, di permalukan di depan anak anak lainnya.


"Sampai hari ini,, aku lah penguasa di sekolah ini."


Lee mengayunkan tongkatnya ke arah Kaila, namun dengan sigap Rha Woon menangkap tangan Lee dan mendorongnya ke belakang hingga menabrak meja.


Brraaaakkk.


Siswa dan siswi yang sedang duduk di kursi langsung berlari menjauh, makanan yang ada di atas meja tumpah ke bawah lantai da berserakan.


Rha Woon maju mendekati Lee, lalu menarik kerah bajunya.


"angan buat kekacauan di sini, kita selesaika di luar sekolah," ucap Rha Woon lalu menarik tangan kaila keluar drai kantin.