THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 14 - MB 3



Altheo, baru saja memenuhi panggilan pihak berwajib mengenai kasus penyelundupan narkoba di perusahaan Farmasi milik Ryu.


Di halaman kantor polisi, Altheo berbincang bincang dengan Kitaro, setelah selesai ia bergegas menemui kliennya yang sudah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu di sebuah gedung sesuai janji. Mereka akan membicarakan mengenai kerjasama untuk mengurus panti rehabilitasi narkoba.


Sesampainya di depan gedung yang ia tuju, Altheo keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam gedung dan di sambut seorang pria menggunakan setelan jas hitam lalu berbicara dengan Altheo sesaat.


Setelah beberapa saat mereka bicara, Altheo bergegas menuju lift menuju lantai tiga gedung tersebut. Tak lama kemudian, Altheo sudah keluar dari dalam lift dan brjalan dengan santai menuju lorong gedung lantai tiga.


Di sela langkahnya, Altheo merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya. Altheo memutar langkahnya menuju lorong kanan.


Benar saja, dua pria bersenjata api mencari jejak langkah Altheo. Kedua pria tersebut berjalan menuju lorong arah kanan lalu menaiki anak tangga hingga menuju atap gedung.


GREEPP


Dari arah belakang, Altheo memiting batang leher salah satu pria yang membawa senjata api.


Di saat bersamaan, seorang pria lain datang dan langsung menodongkan pistol ke pelipis Altheo.


"Perintah, Alexa?" tanya Altheo dengan tenang


"Mungkin," jawab pria itu.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Altheo lagi.


"Serahkan paket itu pada kami." kata pria itu lagi.


Altheo menarik tangannya dari batang leher pria itu lalu mengalihkan pandangannya pada pria yang ada di sampingnya dengan senjata api masih menempel di pelipisnya.


"Kau mau paket itu?" tanya Altheo, di susul kepalan tangan meninju wajah pria itu hingga mundur ke belakang.


Altheo mengibaskan tangannya sendiri karena pukulannya terlalu kencang. Pria lainnya menempelkan ujung senjata api di kepala Altheo.


Secepat kilat Altheo balik badan dan memukul tangan pria itu, hingga senjata apinya terpental, lalu menendang perut pria tersebut hingga tersungkur.


Saat pria ketiga hendak menembak punggung Altheo, seseorang dari arah belakang memukul kepala pria itu dengan tongkat.


Melihat mereka kabur, Altheo mengejarnya hingga luar gedung, lalu Altheo masuk ke dalam mobil dan mengejar mereka yang mengendarai motor.


Altheo tidak membiarkan para penyerang itu meloloskan diri, hingga Altheo harus mengejar mereka menuju jalan pemukiman warga.


Di saat Altheo mulai ketinggalan jauh, ia hampir menabrak seorang gadis yang hendak menyeberang jalan. Altheo langsung menginjak rem dan matanya tertuju pada gadis itu yang memukul mobilnya seraya mengumpat.


"Selena?" ucap Altheo pelan, lalu ia bergegas keluar dari dalam mobil menghampiri gadis tersebut.


"Kau, bukankah kau Selena?" tanya ALtheo menatap Selena.


Selena terdiam sesaat, matanya membulat sempurna menatap wajah ALtheo. Tanpa menjawab apapun ia langsung berlari menghindari Altheo.


"Hei!!"


Selena hanya enoleh sekilas ke arah Altheo, kemudian berlari kencang dan hilang dari pandangannya.


"Kenapa dia lari seperti orang ketakutan?" gumam Altheo seraya menghela napas panjang, ia kembali teringat dengan tiga pria yang menyerangnya tadi. Kemudian Altheo kembali masuk ke dalam mobil dann melajukannya melewati pemukiman warga.


Gara Gara Selena, Altheo kehilangan jejak ketiga pria itu, kemudian ia memutuskan untuk kembali ke gedung pertemuan tadi.


Namun, di depan sebuah kafe, Altheo melambatkan laju mobilnya saat melihat GEnzo keluar bersama seorang wanita dari dalam kafe.


"Siapa wanita itu, sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana?" tanya Altheo dalam hati.


Sementara Genzo yang tidak menyadari kehadiran putra pertamanya, sibuk berbicra dengan Alexa sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


"Mereka tidak mengenalmu, kalau mereka tahu latar belakangmu bisa menimbulkan kesalah pahaman, biar aku yang bicara dengan anak anakku," kata Genzo.


"Kalau kau butuh bantuan, biarkan aku mendekati putra putrimu dengan caraku," jawab Alexa.


"Tidak, jangan temui anak anakku dulu. berikan aku waktu untuk bicara dengan mereka." Pungkas Genzo.


Alexa menganggukkan keplanya, namun tanpa sepengetahuan Genzo, ia tersenyum penuh arti dan isi kepalanya penuh dengan rencana.