
Sachi berjalan sedikit sempoyongan memasuki rumahnya yang selalu sepi, hanya ada beberapa penjaga yang berkeliaran di sekitar rumah itu.
Sachi duduk di sofa sambil memegang perutnya yang terasa sangat sakit dan meletakkan tas nya di atas meja.
"Non..." sapa salah satu asisten rumah tangga.
"Bi, perutku sakit.." kata Sachi meringis.
"Biar saya panggilkan dokter," kata asisten tersebut.
"Tidak usah bi, nanti mama tau dan memarahiku lagi." Cegah Sachi.
Baru saja selesai bicara seperti itu, tiba tiba Sachi di kejutkan oleh kedatangan wanita cantik menggunakan gaun serba hitam, rambutnya di ikat. Wanita tersebut berjalan bersama tiga pria melalui halamn samping rumah menuju ruang bawah tanah.
"Mama..." batin Sachi.
''Mau kemana non?" tanya asisten rumah tangga melihat Sachi beranjak dari sofa.
Sachi menoleh ke arah asisten tersebut, tanpa menjawab kemudian berjalan perlahan menuju ruang bawah tanah.
Di ruang bawah tanah.
Wanita yang di panggil 'mama' oleh Sachi, tidak lain adalah Alexa. Bersama tiga pria, Alexa memasuki ruangan lebih pengap.
Mereka berdiri, menghadap ke penjara. Dimana seorang wanita tengah meringkuk.
"Bawa dia ke hadapanku," perintah Alexa pada salah satu pria yang bernama Joni.
Joni membuka pintu sel, lalu mendekati wanita tersebut dan menyeret paksa wanita itu keluar dari dalam sel dan menghempaskannya di bawah kaki Alexa.
"Apa kabar, Al..." sapa Alexa menatap tubuh ringkih wanita tersebut yang tak lain adalah Althea, istri Genzo yang di kabarkan mati enam belas tahun yang lalu.
Althea berusaha megangkat wajahnya, menatap ke arah Alexa. Tersenyum menyeringai, lalu menaggenggam erat kaki kanan Alexa dan menggiggitnya cukup lama.
"Aww sialan!!" umpat Alexa seraya menarik rambut Althea dan menghempaskannya lalu menendang perut Althea.
BUK
Tubuh Althea terhempas dan menabrak dinding. Alexa bewrjalan mendekatinya, lalu menarik tangan Althea dan di seretnya ke kamar mandi yang ada di ruangan tersebut di ikuti tiga pria itu dari belakang.
Di dalam kamar mandi, ALexa memiinta dua pria kekar memegang tubuh Althea, sementara dia sendiri menarik rambut gimbal Althea dan menenggelamkan kepalanya ke dalam bak mandi yang berisi air.
Althea gelagapan saat wajahnya diangkat dari bak mandi, lalu di tenggelamkan lagi.
"Aku akan menghancurkan hidupmu, lalu aku akan memmbunuhmu," ucap Alexa.
"Kau telah merebut kebahagiaanku, kau jug yang telah merebut Genzo dari tanganku."
Dengan penuh kemarahan, ALexa terus melakukan hal yang sama terhadap Althea dan hmpir saja kehabisan napas, andai Alexa tidak menghentikan perbutannya.
"Bersihkan dia, lalu bawa dia kew bar!" perintah ALexa pada tiga pria tersebut sambil menghempaskan tubuh Althea.
"Baik! ucap mereka bertiga serempk, lalu menyeret tubuh Althea keluar dari dalam ruang bawah tanah.
Sementara Sachi yang sedari tadi memperhatikan, perlahan mundur dan berlari keluar dari ruang bawah tanah.
Sachi langsung balik badan dan meundukkan kepalanya.
"Tidak ada ma, aku mau masuk kamar," jawab Sachi.
"Jangan bohong, aku tahu apa yang ada di pikiranmu."Tuduh Alexa.
"Ma, aku putrimu. Mana mungkin, aku punya niat buruk terhadapmu," jawab Sachi.
PLAKKK
"Jangan banyk bicar, kerjakn saja tugasmu dan jangan macam macam, tundukkan kepalamu,"ucap Alexa seraya menampar wajah Sachi.
"Iya, ma...' sahut Sachi mnundukkan kepalanya lalu balik badan henfdak membuka pintu kamar.
"Cepat masuk kamarmu!" perintah Alexa.
Sachi bergegas membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar, namun ia tidak benar benar mengikuti perintah ALexa. Diam diam ia mengikuti langkah Alexa keluar dari rumah.
***
D kelab malam twenty one.
Tanpa Alexa sadari, Sachi yang masih menggunakan seragam mengikutinya sampai di kelab tersebut. Alexa dengan santai memasuki kelab tersebut menuju lantai dua kelab dan berhenti di depan pintu ruangan yang terbuka.
Pandangan matanya tertuju pada Althea yang berdiri di dalam ruangan menggunakan gaun seksi dengan belahan dada terbuka. Alexa, tersenyum puas lalu berjalan menghampirinya.
"Kau masih saja terlihat sangat cantik, AL.." ucap Alexa menatap benci wajah Althea.
Namun Althea tidak menjawab dengan kta kata, tapi meludah di hadapan ALexa sebagai jawaban.
"Sudah mau mati, masih saja sombong." Balas ALexa geram.
Althea menatap wajah Alexa dengan tatapan marah, sekian lama dia menculik dan mengurungnya. memperlakukannya seperti binatang dan memisahkannya dengan putri kecilnya.
"Di mana putriku?" tanya Althea, dan di sambut dengan tawa ALexa.
"Ingatanmu masih bagus rupanya, tapi sayang. Sampai kapanpun, kau tidak akan bertemu lagi dengan anak anakmu." Jelas Alexa.
"Bermimpilah, suamiku pasti akan menghukummu." Balas ALthea.
"Oya?" jawab ALexa dengan nada mencemooh.
Alexa berjalan mengelilingi Althea seraya berkata, "suami dan anak anakmu, sudah menganggapmu mati. Bahkan seluruh kota ini tahu, Althea istri Genzo sudah lama mati sejak 16 tahun yang lalu."
"Itu tidak mungkin!!" teriak Althea sambil berlari menuju pintu ruangan yang terbuka, namun salah satu anak buah Alexa menangkapnya lalu membawa kehadapan ALexa.
"Wanita sialan, apa salahku!!"
"Kurung dan lelang dia dengan harga murah!" perintah Alexa pada anak buahnya di barengi tersenyum seringai.
"Anakku akan membunuhmu!" teriak Althea terus memberontak saat anak buah Alexa menyeretnya dengan paksa.
Sementara Sachi yang sedari tadi menyaksikan di balik pintu, bertanya tanya dalam hati siapakah wanita itu dan mengapa ia tidak berhenti memikirkannya. Tanpa Sachi sadari, seseorang mengambil gambarnya diam diam. Sachi bergegas menuruni lantai dua kelab, entah dapat dari mana naluri seperti seorang mafia muncul begitu saja di saat tertentu.