
Altheo meninggalkn gedung dengan bayak pertanyaaan di benaknya mengapa mereka seolah olah takut padanya dan siapa sang legenda itu?
Altheo masuk ke dalam mobil dan melihat beberapa pria menyeret dua wanita penari tadi masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan tempat.
Altheo langsung mengejar mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, namun sayang mobil tersebut mengetahui kalau Altheo mengejarnya.
"Kemana mereka akan membawa kedua perempuan itu.." gumam Altheo, ia teringat wajah Sachi yang mirip dengan kaila.
Mobil Altheo tiba tiba berhenti dan memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dengan masalah mereka, namun bayangan wajah Sachi, mengingatkannya pada kaila.
"Kenapa aku harus peduli..."
Altheo benar benar bingung dengan kejadian ini, dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Altheo selalu teringat wajah Sachi. Tatapan matanya, kata katanya yang meminta tolong sangat mengganggu pikiran Altheo.
Sesampainya di halaman rumahnya, Altheo setengah berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati Kaila tengah memegang buku dan Altheo langsung memeluknya erat.
Membuat semua anggota keluarganya kebingungan melihat sikap Altheo yang tak biasanya.
"Kau baik baik saja?" tanya Altheo pada Kaila.
Kaila melepas pelukan Altheo dan tersenyum menatap raut wajah kakaknya terlihat sedih.
"Aku baik baik saja kak.." jawab Kaila.
"Ada apa nak? Duduklah.." ucap Ryu seraya menyentuh pundak Altheo.
Altheo mengangguk, lalu duduk di sofa di ikuti anggota keluarganya. Sementara Kaila mengambilkan secangkir teh hangat untuk kakaknya lalu di letakkan di atas meja.
"Katakan pada ayah, apa yang terjadi denganmu?" tanya Genzo.
"Iya kak, jangan ada yang di tutupin. Mulai sekarang kita harus lebih terbuka satu sama lain." Timpal Daniel dan di benarkan oleh Khai, Xavier dan Gio.
Selesai ia minum teh yang di berikan Kaila, dia menceritakan apa yang baru saja di alaminya.
"Sachi!!" teriak Kaila.
Altheo dan yang lain menoleh ke arah Kaila.
"Sachi?" tanya Altheo.
Kaila menganggukkan kepalanya.
Kaila nenceritakan ciri ciri Sachi kepada mereka semua.
"Bukankah dia mirip denganku?"
Altheo membenarkan semua ciri ciri yang Kaila sebutkan.
"Kata Rha Woon, Sachi putri nyonya Alexa." Kaila menambahkan.
"Alexa?" gumam Genzo pelan namun terdengar oleh semuanya.
"Ayah mengenalnya?" tanya Kaila.
Genzo menggelengkan kepala, pikir Genzo mungkin ada Alexa yang lain.
"Tidak sayang," jawab Genzo.
Diantara semuanya, hanya Ryu yang terdiam mendengarkan dengan seksama.
"Sejarah jangan sampai terulang lagi, aku harus mencari ayah dan ibu." Batin Ryu.
"Kakek?"
Ryu menoleh ke arah Khai yang sedari tadi memperhatikannya.
"Iya nak.."
"Kakek tidak apa apa?" tanya Khai lagi.
"Kakek tidak apa apa." Kata Ryu lalu mengambil napas panjang.
Davira yang melihat kegelisahan suaminya, ia mengerti apa yang ada di dalam pikirannya.
"Mulai sekarang, kalian harus hati hati. Masalah yang kalian hadapi, dengan orang yang sama." Pungkas Davira.
Genzo menoleh ke arah ibunya, ia mengerti ucapan Davira. Namun untuk saat ini, Genzo memilih diam dan menyelidikinya terlebih dahulu.
Sementara semua cucunya masih belum paham apa yang di katakan neneknya.
"Aku, akan menjaga dan melindungi adik adikku dengan nyawaku bila itu di perlukan. Siapapun yang berani mengusik ketenangan keluargaku, mereka akan berhadapan denganku." Tegas Altheo.
Ryu tersenyum bangga, ia seperti melihat sosok Kenzi pada diri Altheo. Sosok yang tenang, penyayang, tapi mematikan.