
Sore, di hari minggu.
Altheo mengajak adik adiknya makan di sebuah restoran terbaik di kot tersebut. Mereka duduk dengan rapi saling berhadapan di depan mereka hidangan lezat sudah tersaji. Namun sayang, kebersamaan mereka kali ini tidak ada Genzo, sang ayah karena ada urusan penting, sementara ryu dan Davira mengunjungi rumah Angela dan Jiro untuk memastikan rumah kedua anaknya dalam keadaan baik.
Saat mereka tengah menikmati makanan yangg terhidang di meja, tiba tiba Xavier terdiam menatap ke kaca jendela restoran yang tembus pandang dari dalam namun dari luar tidak terlihat apa apa.
Xavier terus menatap ke luar, membuat saudaranya yang lain ikut mengalihkan pandangannya ke luar kaca jendela.
Nampak seorang gadis tengah berjalan lalu berdiri tegap tepat di depan kaca jendela tersebut dan bercermin.
"Selena..." gumam Altheo pelan namun terdengar oleh saudaranya yang lain.
"Kakak mengenal gadis itu?" tanya Khai menoleh ke arah ALtheo di ikuti saudaranya yang lain.
"Ah tidak, aku hanya mengenal namanya saja," jawab Altheo menundukkan kepala sesaat.
"Wow, lihat kak!" tunjuk Gio ke arah Selena yang mengedipkan matanya.
Altheo mengerutkan dahinya lalu beranjak dari kursi menghampiri kaca jendela.
"Apa dia meihatku?" tanya Altheo menempelkan telapak tangannya di kaca dan di ikuti Selena sambil mendekatkan bibirnya dan mencium kaca jendela.
"Woooww!" seru adik adik ALtheo serempak membuat Altheo salah tingkah, namun Selena tidak menyadari kalau cermin teersebut tembus pandang dari dalam.
Gio dan yang lain tertawa kecil melihat Selena merapikan topiny lalu memperhatikan bayangan tubuhnya di cermin, setelah itu ia berlari kecil meninggalkan tempat tersebut.
Altheo menarik napas panjang sambil terus memperhatikan Selena hingga hilang dari pandangan mata, setelah itu ia kembali duduk di kursi dan mendapatkan tatapan dari adik adiknya.
"Apa?" tanya ALtheo bingung.
"Cantik,' kata Kaila.
"seksi," timpal Xavier.
"Hei, kalian ini bicara apa. Aku tidak aa hubungan apa apa dengan gadis itu. Bahkan ku belum tau dia siapa." Jelas Altheo namun dik adiknya tidak percaya.
"Kak, jangan malu malu. Ajakk ke rumah kenalkan pada ayah dan kakek juga nenek," kata Daniel.
"Cukup bercandanya, habiskan makanan kalian." Perintah Altheo.
Gio dan yang lain berdecak kesal karaena Altheo tidak mau mencritakan siapa Selena, nmun merek tidak ada yang membantah lalu melanjutkan makannya.
Altheo dan yang lain tetap dudukk di kursinya masing masing saat pria bersenjata api itu mendekati mereka dan salah satu dari pria twrsebut menodongkan senjata api tepat di kepala Altheo.
"Apa mau kalian?" tanya Altheo.
"Di mana paket itu?" tanya pria tersebut.
"Paket?" tanya Altheo.
"Jangan banyak bicara, atau aku akan membunuhmu. katakan di mana paket itu dan berikan pada kami." Kata pria itu lgi.
"Siapa yang menyuruhmu, Alexa lagi?" tanya Altheo.
"ALexa.." gumam Khai dan Kaila dalam hati.
"Cepat katakan!"
Altheo menariknapas dalam dalam, ia menatap ke arah adik adiknya dan menganggukkkan kepala sebagai isyarat untuk waspada dann bersiap siap.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Altheo lagi.
Namun pria itu tidak menjawab pertanyan ALtheo, ia balik mengancam Altheo dengan menyuruh pria bersenjata lainnya untuk mengancam adik adik Altheo.
klikkk
Pria tersebut menarik pelatuk untuk menakut nakuti Altheo dan yang lain. Disaat bersamaan datang seeorang pria berjanggut, menggunakan kaca mata hitam perawakannyatinggi besar, menghampiri Altheo dan yang lain.
Pria tersebut menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senjata api, lalu Altheo berdiri di ikuti saudaranya yang lain mereka berkumpul di dekat Altheo yang berada di depan.
"Kalian nyata adanya, generasi ke empat ," ucap pria itu namun Altheo tidak mengerti maksudnya.
"Sampaikan salamku pada ketua Kenzi dan nyonya Siena."
Setelah bicara seperti itu, pria tersebut memerintahkan anak buahnya untuk meninggakan restoran tersebut.
"Apa yang dia katakan kak?" tanya Kaila.
Altheo menggeleng pelan, lalu ia mengajak adik adiknya untuk pulang.